Laman

06 Februari 2012

Peer Coaching

Peer Coaching*)

Peer coaching adalah salah satu strategi untuk memperbaiki implementasi kurikulum pada strategi, teknik dan kemampuan guru dalam pembelajaran (Hasbrouck,1997). Dengan penekanan utama kegiatan peer coaching adalah refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan dan memperbaiki segala kelemahannya.

Dalam proses peningkatan kemampuan, peer coaching tidak boleh ditinggalkan. Karena coach (mentor) memberikan panduan dan dukungan bagi coachee (guru) untuk melihat secara utuh kondisi mereka, misalnya mengenai asumsi dan persepsi mengenai pekerjaan, pribadi, dan pandangan mereka tentang pihak lain (Ridwan, 2007). Coach juga membantu mereka menentukan tujuan yang relevan dan realistis berdasarkan kebutuhan dan sifat-sifat yang dimiliki, kemudian membantu mereka mengambil tindakan berdasarkan tujuan yang relevan dan realistis tersebut. Proses peer coaching bersifat forward looking, artinya bahwa peer coaching berorientasi kepada perubahan dan bersifat pengembangan.

Peer coaching merupakan sarana memaksimalkan kekuatan yang dimiliki, mendorong dan meningkatkan komunikasi, serta membantu mereka (guru) mencapai sasarannya dalam waktu lebih cepat. Lebih lanjut Meyer dan Grey (1996) menyatakan bahwa peer coaching sebagai sebuah inovasi untuk memperbaiki cara pengajaran guru yang bisa diimplementasikan di berbagai jenjang pendidikan. Dari pernyataan itu mengandung makna bahwa permasalahan peningkatan mutu guru dapat dijawab dengan metode ini.

Menurut Susanto, (2007) peer coaching menjadi alat yang penting dalam perkembangan profesional dan pribadi seseorang. Peer coaching dapat berpengaruh positif bagi pengembangan karir, membantu menumbuhkan dan meningkatkan rasa tanggungjawab dari setiap perilaku dan tindakan yang dilakukan, serta mendorong pengerahan kemampuan terbaik melewati keterbatasan-keterbatasan yang selama ini sebenarnya diasumsikan sendiri. Dengan peer coaching seseorang dapat meningkatkan kepercayaan dirinya, memperoleh kepuasan lebih dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi, memberikan kontribusi yang lebih efektif bagi tim atau organisasi melalui tindakan dan perilaku yang lebih baik dan lebih cerdas, memungkinkan diperolehnya feedback (umpan balik) bagi rencana-rencana dan ide-ide yang dimiliki, serta bekerja lebih mudah dan lebih produktif dengan orang lain (atasan, rekan kerja, ataupun bawahan) (Rachman dan Savitri, 2007).

Menurut Ridwan (2007) memanfaatkan strategi peer coaching adalah sebuah strategi yang mendorong para guru untuk bekerja sama secara profesional sehingga menghapuskan keterisolasian. Selain itu peer coaching juga menjadi sarana untuk:
1) Mendorong melakukan refleksi dan analisa pelaksanaan pembelajaran
2) Mengembangkan umpan balik yang spesifik dari waktu ke waktu
3) Membantu pengembangan kerja sama antar guru di seluruh sekolah yang termasuk dalam jejaring kerjasamanya

Sebagai hasilnya, para guru mengalami perubahan yang positif dalam praktek pengajaran mereka. Dalam banyak kasus kegiatan terorganisir ini dirancang untuk meningkatkan penggunaan dan pemahaman suatu inovasi kurikulum atau strategi pembelajaran. Sehingga proses berbagi (sharing) dalam peer coaching merupakan suatu proses siklis yang dirancang sebagai suatu perluasan dari kebutuhan guru.
Sejalan dengan hal di atas Ladyshewsky (2006) menyebutkan bahwa terdapat framework (bingkai kerja) yang menyangkut tiga komponen yang melandasi keberhasilan peer coaching ini.

Menurut Ridwan (2007), secara garis besar Peer coaching dibagi menjadi dua yaitu:

1) Peer coaching pada aktivitas formal, sebagai berikut:
- Co-teaching (pendamping pembelajaran)
- Co-planning (pendamping perencanaan, mengamati dan bekerja kelompok)
- Coach as mentor (pendamping sebagai mentor)
- Coach as mirror (pendamping sebagai contoh/model)
- Coach as action researcher (Pendamping sebagai peneliti tindakan kelas)
- Coach as expert (pendamping sebagai orang yang lebih berpengalaman)

2) Peer coaching pada aktivitas informal, sebagai berikut:
- Pengembangan kurikulum
- Pemecahan masalah
- Belajar kelompok
- Kelompok pencinta buku (Book clubs)
- Mendiskusikan pekerjaan siswa
- Analisis videotape
- Berdiskusi tentang latihan mengajar dengan metode baru/inovatif
- Mempelajari dan memperluas wawasan terhadap pelajaran yang terkait
- Merencanakan kedisiplinan internal sesama guru serumpun
- Mengamati data siswa dan mengembangkan pengalaman belajar

Berdasarkan beberapa hal yang dikemukakan oleh Ridwan tersebut, maka dalam penelitian ini jenis peer coaching yang dipilih adalah yang memposisikan coach sebagai ahli (coach as expert). Lebih lanjut Ridwan (2007) mengungkapkan bahwa pada model ini, ahli berlaku sebagai pelatih dan mentor. Kegiatan ini dapat memanfaatkan sarana berupa hasil rekaman videotape yang berikutnya dilakukan analisis bersama. Dengan pertimbangan bahwa dengan menggunakan analisis tersebut observasi yang dilakukan dapat diputar ulang dihadapan guru dan selanjutnya guru dapat menemukenali kelemahan dan kelebihannya. Menurut Ridwan (2007) ada tiga tahapan dalam pelaksanaan peer coaching yaitu sebagai berikut:

1. Pengamatan dan umpan balik
Coach mengamati berlangsungnya proses belajar yang dilakukan oleh guru, kemudian memberikan umpan balik positif dari apa yang diamati.
2. Aplikasi dari pengajaran yang baru
Coach mentransfer strategi mengajar yang baru untuk kemudian dapat diterapkan secara efektif di kelas.
3. Penyelesaian Masalah

Pada tahap ini guru melakukan kerja kelompok yang merupakan bagian dari kolaborasi dalam pemecahan masalah. Anggota tim mulai mengeksplor dan menganalisis KTSP untuk menentukan strategi pengajaran yang tepat.
Hal di atas didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Showers and Joyce (2002) dalam Foltos, (2009) yang menyebutkan paling tidak ada beberapa dampak yang di dapat ketika menggunakan peer coaching sebagai alternatif dalam meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar antara lain (1) guru yang mengikuti program peer coaching akan lebih sering menggunakan strategi yang di ajarkan, (2) terjadi peningkatan keterampilan megajar guru secara terus menerus dari waktu ke waktu, (3) guru menunjukan pemahaman yang lebih tinggi terhadap tujuan-tujuan pembelajaran ataupun tujuan-tujuan strategi pembelajaran

Garet et al (2001) dalam Foltos (2009), menemukan bahwa pada sekolah-sekolah yang menggunakan peer coaching sebagai proses peningkatan profesionalisme guru, terlihat kesempatan yang sangat besar untuk saling berdiskusi tentang konsep, keterampilan, dan seluruh permasalahan yang mereka temukan dalam pembelajaran yang berawal dari pengalaman.

Ike, (1997), Miller, (1998), Norton and Gonzales, (1998) Saye, (1998) Tenbusch, (1998) Yocam, (1996) dalam Foltos (2009) menyebutkan bahwa rata-rata guru yang mengikuti program peer coaching dapat dengan efektif menerapkan teknologi pembelajaran di dalam kelas. Hal ini berdampak langsung pada meningkatnya mutu pengajaran guru hingga mencapai 80%. Selain itu menurut Kowal dan Steiner (2007), selain berdampak pada peningkatan pelaksanaan pembelajaran, program peer coaching juga akan berdampak pada peningkatan prestasi siswa dalam belajar di kelas.
Menurut Kohler et al (1997) dalam Muray et al (2009) ditemukan tiga peningkatan yang saling berkaitan setelah guru mengikuti kegiatan peer coaching yaitu: Pertama, perubahan prosedur, strategi, metoda ataupun teknik pembelajaran. Kedua, peningkatan interaksi antara guru dengan coache dan kepuasan terhadap proses pelatihan. Ketiga, adalah peningkatan kompetensi akademik siswa.


*) Spesial Thanks to Jaya Adi (Dosen UNRI)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar