Laman

10 Desember 2010

TOTAL QUALITY MANAGEMENT DALAM PENDIDIKAN (3)

PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP TQM DALAM PENDIDIKAN
By: Sri Hendrawati, M.Pd

Penerapan Total Quality Management dipermudah oleh beberapa piranti, yang sering disebut “alat TQM”. Alat-alat ini membantu kita menganalisis dan mengerti masalah-masalah serta membantu membuat perencanaan. Delapan alat TQM yang diuraikan adalah sebagai berikut.

1. Curah pendapat (sumbang saran) - Brainstorming
Curah pendapat adalah alat perencanaan yang dapat digunakan untuk mengembangkan kreativitas kelompok. Curah pendapat dipakai, antara lain untuk menentukan sebab-sebab yang mungkin dari suatu masalah atau merencanakan langkah-langkah suatu kegiatan, penyusunan program kerja sekolah misalnya.
2. Diagram alur (bagan arus proses)
Bagan arus proses adalah satu alat perencanaan dan analisis yang digunakan, antara lain untuk menyusun gambar proses tahap demi tahap untuk tujuan analisis, diskusi, atau komunikasi dan menemukan wilayah-wilayah perbaikan dalam proses.
3. Analisis SWOT
Analisis SWOT adalah suatu alat analisis yang digunakan untuk menganalisis masalah-masalah dengan kerangka Strengths (kekuatan), Weaknesses (kelemahan), Opportunities (peluang), dan Threats (ancaman). Analisis SWOT penting sekali dilakukan untuk memahami sejauh mana potensi yang dimiliki sekolah, bagaimana sekolah menyusun strategi untuk meningkatkan kinerjanya dengan mengoptimalkan kelebihan yang dimilikinya, meminimalkan kelemahannya, serta mampu menghadapi tantangan dan mempunyai keberanian memanfaatkan peluang yang dimilikinya demi kemajuan pendidikan di sekolah.
4. Ranking preferensi
Alat ini merupakan suatu alat interpretasi yang dapat digunakan untuk memilih gagasan dan pemecahan masalah di antara beberapa alternatif. Dengan alat ini, sekolah dapat menentukan skala prioritas dalam menetapkan sasaran atau target yang ingin ditempuh dalam menjalankan program kerjanya. Sehingga visi , misi sekolah dapat direalisasikan melalui program jangka panjang, menengah dan jangka pendek.
5. Analisis tulang ikan
Analisis tulang ikan (juga dikenal sebagai diagram sebab-akibat) merupakan alat analisis, antara lain untuk mengkategorikan berbagai sebab potensial dari suatu masalah dan menganalisis apa yang sesungguhnya terjadi dalam suatu proses.
6. Penilaian kritis
Penilaian kritis adalah alat bantu analisis yang dapat digunakan untuk memeriksa setiap proses manufaktur, perakitan, atau jasa. Alat ini membantu kita untuk memikirkan apakah proses itu memang dibutuhkan, tepat, dan apakah ada alternatif yang lebih baik.
7. Benchmarking
Benchmarking adalah proses pengumpulan dan analisis data dari organisasi kita dan dibandingkan dengan keadaan di dalam organisasi lain. Hasil dari proses ini akan menjadi patokan untuk memperbaiki organisasi kita secara terus menerus. Tujuan benchmarking adalah bagaimana organisasi kita bisa dikembangkan sehingga menjadi yang terbaik. Sekolah dapat melakukan studi komparatif untuk mengadopsi inovasi yang diterapkan oleh sekolah lain disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan sekolah untuk meningkatkan kinerja dan daya saing.
8. Diagram analisa medan daya (bidang kekuatan)
Diagram medan daya merupakan suatu alat analisis yang dapat digunakan, antara lain untuk mengidentifikasi berbagai kendala dalam mencapai suatu sasaran dan mengidentifikasi berbagai sebab yang mungkin serta pemecahan dari suatu masalah atau peluang.

Penerapan TQM di sekolah menuntut beberapa syarat yang harus dipenuhi agar pelaksanaan TQM dapat sesuai dengan harapan, adapun syarat-syaratnya adalah sebagai berikut :
a. Setiap sekolah/satuan pendidikan harus secara terus menerus melakukan perbaikan mutu lulusan serta pelayanan pendidikan sehingga dapat memuaskan para pelanggan.
b. Sekolah dapat memberikan kepuasan kerja kepada tenaga pendidik dan kependidikan,
c. Sekolah memiliki wawasan jauh ke depan dan selalu melakukan inovasi untuk meningkatkan kinerjanya.
d. Sekolah harus fokus pada proses pendidikan dan tidak semata-mata menitik beratkan pada hasil saja.
e. Sekolah sebaiknya mamp menciptakan iklim kerja yang kondusif dimana setiap unsure diberi kesemparan untuk aktif berpartisipasi dalam menciptakan keunggulan mutu.
f. Ciptakan kepemimpinan pensisikan di sekolah yang berorientasi pada bawahan dan aktif memotivasi elemen di bawahnya, bukan dengan cara otoriter sehingga diperoleh suasana kondusif bagi lahirnya ide-ide baru.
g. Sekolah harus pandai memberikan reinforcement, apakah berbentuk reward ataupun berbentuk punishment kepada mereka yang berhak menerimanya. Kesediaan memberikan ganjaran atau pengakuan bagi mereka yang memiliki kinerja yang baik serta kejelasan pemberian sanksi bagi mereka yang lalai dalam tugasnya, untuk kemudian melalui proses pembinaan, sekolah mampu memberikan maaf dan kesempatan bagi yang belum berhasil/berbuat salah.
h. Sekolah harus mampu mengarsipkan data atau dokumen sekolah dengan tertib administrasi. Dalam setiap pengambilan keputusan , hendaknya berdasarkan pada data, baru berdasarkan pengalaman dan pendapat.
i. Dalam melaksanakan program kerja, setiap langkah kegiatan harus selalu terukur jelas sehingga pengawasan lebih mudah. Peran supervise dan pengawasan menjadi hal yang penting dalam evaluasi kegiatan demi perbaikan dan peningkatan kinerja sekolah.
j. Pemberdayaan guru dengan meningkatkan kualitas SDM dapat ditempuh melalui kegiatan pembinaan, dan pelatihan guru. Peran KKG dan MGMP menjadi sangat krusial dan penting bagi peningkatan kinerja guru.

Dalam kerangka manajemen pengembangan mutu terpadu di sekolah, usaha pendidikan tidak lain adalah merupakan usaha “jasa” yang memberikan pelayanan kepada pelanggannya, yaitu mereka yang belajar dalam sekolah tersebut yang disebut siswa. Siswa disebut klien/pelanggan primer (primary external customers), karena siswa langsung menerima manfaat layanan pendidikan dari sekolah tersebut. Siswa terkait dengan orang yang mengirimnya ke sekolah, yaitu orang tua. Oleh sebab itu orangtua disebut sebagai pelanggan sekunder (secondary external customers). Pelanggan lainnya yang bersifat tersier adalah lapangan kerja bisa pemerintah maupun masyarakat pengguna output pendidikan (tertiary external customers). Selain itu, dalam hubungan kelembagaan masih terdapat pelanggan lainnya yaitu yang berasal dari interen lembaga; mereka itu adalah para guru dan tenaga administrasi di sekolah, serta pimpinan sekolah (internal customers). Walaupun para para guru/ dan tenaga administrasi, serta pimpinan sekolah tersebut terlibat dalam proses pelayanan jasa, tetapi mereka termasuk juga pelanggan jika dilihat dari hubungan manajemen. Mereka berkepentingan dengan sekolah untuk maju, karena semakin maju dan berkualitas para siswanya, maka mereka diuntungkan, baik secara kebanggaan maupun finansial.
Seperti disebut diatas bahwa program peningkatan mutu harus berorientasi kepada kebutuhan/harapan pelanggan, maka layanan pendidikan di sekolah haruslah memperhatikan masing-masing pelanggan diatas. Kepuasan dan kebanggan dari mereka sebagai penerima manfaat layanan pendidikan harus menjadi acuan bagi program peningkatan mutu layanan pendidikan.

Sebagai contoh dari penerapan 14 prinsip-prinsip pencapaian mutu Edward Deming, kita bisa mengaplikasikan pada sekolah. Uraian tentang penerapan prinsip-prinsip tersebut, dapat meliputi hal-hal berikut:
(1) Untuk menjadi sekolah yang bermutu diperlukan komitmen dan usaha yang sungguh-sungguh dari segenap unsur di dalamnya.
(2) Sekolah yang bermutu adalah yang secara keseluruhan memberikan kepuasan kepada masyarakat pelanggannya, artinya harapan dan kebutuhan pelanggan terpenuhi dengan jasa yang diberikan oleh sekolah tersebut. Kebutuhan pelanggan misalnya siswa adalah berkembangnya potensi dan kemampuan yang dimilikinya selalma mengikuti proses belajar mengajar di sekolah, sehingga menghasilkan lulusan yang mandiri dan memang dibutuhkan oleh masyarakat.
(3) Dalam sekolah yang bermutu tumbuh dan berkembang kerjasama yang baik antar sesama unsur didalamnya untuk mencapai mutu yang ditetapkan.
(4) Diperlukan pimpinan sekolah yang mampu memotivasi, mengarahkan, dan mempermudah serta mempercepat proses perbaikan mutu. Kepemimpinan haruslah yang membuat orang kemudian merasa lebih berdaya, sehingga yang dipimpin mampu melaksanakan tugas pekerjaannya lebih baik dan hasil yang lebih baik pula.
(5) Sekolah mengupayakan perbaikan mutu secara berkelanjutan. Untuk ini standar mutu yang ditetapkan sebelumnya selalu dievaluasi dan diperbaiki sedikit demi sedikit sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Misalnya dalam menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal sekolah, maka diperlukan peningkatan dari tahun ke tahun.
(6) Segala keputusan untuk perbaikan mutu pelayanan pendidikan/pengajaran selalu didasarkan data dan fakta untuk menghindari adanya kelemahan dan keraguan dalam pelaksananannya. Penyajian data dan fakta dapat ditunjang dengan berbagai alat dan teknik untuk perbaikan mutu yang bisa dianalisis dan disimpulkan, sehingga tidak menyesatkan.
(7) Hendaknya sekolah mampu menyelenggarakan kegiatan pendidikan sesuai dengan kalender pendidikan yang disusun oleh sekolah dan mengacu pada kalender pendidikan yang disusun secara nasional. Budaya disiplin, tepat waktu serta pengalokasian waktu secara cermat dapat meningkatkan kinerja sekolah dan iklim yang kondusif bagi penyelenggaraan pendidikan.
(8) Tradisikan pertemuan antar pengajar dan siswa untuk mereview proses belajar-mengajar dalam rangka memperbaiki pendidikan/pengajaran yang bemutu. Pertemuan dengan orang tua siswa, pertemuan dengan tokoh masyarakat, dengan alumni, pemerintah daerah, pengusaha dan donatur dapat dilakukan oleh sekolah untuk menggalang partisipasi mereka dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolah.

Berdasarkan hal-hal diatas, dapat diperoleh gambaran bahwa pada intinya mutu pendidikan merupakan akumulasi dari semua mutu jasa pelayan yang ada di lembaga pendidikan yang diterima oleh para pelanggannya. Layanan pendidikan adalah suatu proses yang panjang, dan kegiatannya yang satu dipengaruhi oleh kegiatannya yang lain. Bila semua kegiatan dilakukan dengan baik, maka hasil akhir layanan pendidikan tersebut akan mencapai hasil yang baik, berupa “mutu terpadu”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar