Laman

15 April 2012

TEORI MEDAN ALA KURT LEWIN

Teori medan muncul sebagai teori dalam psikologi sosial karena dipengaruhi oleh perkembangan ilmu alam dan ilmu kimia. Psikologi itu sendiri hadir untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan karena psikologi merupakan sebuah paradigma baru dalam ilmu pengetahuan yang  memberikan cara pandang serta upaya dalam memahami gejala-gejala ilmiah. (Calvin& Gardner,1993:275)

Pengaruh teori medan dari ilmu alam dimanifestasikan dalam psikologi sejalan dengan pengaruh yang diberikan oleh gerakan Gestalt yang dipelopori oleh psikolog Jerman. Pokok fikiran psikologi Gestalt sendiri berasumsi bahwa tingkah laku ditentukan oleh medan psikofisis yang terdiri dari suatu system tekanan-tekanan atau kekuatan-kekuatan yang terorganisir 

Selanjutnya Lewin menggambarkan manusia sebagai pribadi berada dalam lingkungan psikolgis dengan pola hubungan dasar tertentu. Pendekatan matematis yang dipakai Lewin untuk menggambarkan ruang hidup disebut topologi. Fokusnya adalah saling hubungan antara segala sesuatu didalam jiwa manusia, hubungan antara bagian dengan bagian dan antara bagian dengan kesluruhan, lebih dari sekedar ukuran dan bentuk. Jadi dalam mempelajari diagram-diagram Lewin harus diperhatikan saling hubungan dean komuniukasi antara daerah alih-laih bentuk dan ukuran yang dipakai untuk menggambarkan daerah-daerah itu.

Lewin biasanya menggambarkan daerah pribadi dengan lingkaran tertutup, menunjukan bahwa pribadi adalah kesatuan yang terpisah dari hal lain di dunia, tetapi tetap menjadi bagian dari dunia. Lingkaran itu berada di dalam elips yang menggambarkan bahwa pribadi adalah bagian terpisah tetapi berada dalam ruang hidup, menjadi bagian dari semua yang ada di dalam ruang hidup.Teori inilah yang banyak dikenal dengan “teori medan” nya Lewin.

Bagi Lewin, teori medan bukan suatu sistem psikologi baru yang terbatas pada suatu isi yang khas; teori medan merupakan sekumpulan konsep dengan dimana seseorang dapat menggambarkan kenyataan psikologisnya. Konsep-konsep ini cukup luas untuk dapat diterapkan dalam semua bentuk tingkah laku dan juga cukup spesifik untuk menggambarkan orang tertentu dalam suatu situasi konkrit. Lewin juga menggolongkan teori medan sebagai “suatu metode untuk menganalisis hubungan-hubungan kausal dan untuk membangun konstruk-konstruk ilmiah”.( http://cacariosan.multiply.com/journal/item/4,)

Dalam sumber yang sama (http://cacariosan.multiply.com/journal/item/4), diidentifikasi Ciri-ciri dari teori Lewin, adalah sebagai berikut :

1.      Tingkah Laku adalah suatu fungsi dari medan yang ada pada waktu tingkah laku itu terjadi,
2.      Analisis mulai dengan situasi sebagai keseluruhan dari mana bagian-bagian komponennya dipisahkan,
3.      Orang yang kongkrit dalam situasi yang kongkrit dapat digambarkan secara matematis.

Rumus : LP = RH (Lingkungan Psikologis = Ruang Hidup/Medan)

Konsep teori medan telah diterapkan Lewin dalam berbagai gejala psikologis dan sosiologis, termasuk tingkah laku bayi dan anak-anak, masa adolesen, keterbelakangan mental, masalah-masalah kelompok minoritas, perbedaan-perbedaan karakter nasional dan dinamika kelompok.

a.   Struktur Kepribadian

            Menurut Lewin sebaiknya menggambarkan kepribadian itu dengan menggunakan        definisi konsep-konsep struktur secara spasial. Dengan cara ini, Lewin berusaha mematematisasikan konsepnya sejak dari permulaan. Matematika Lewin bersifat non-motris dan menggambarkan hubungan-hubungan spasial dengan istilah-istilah yang berbeda. Pada dasarnya matematika Lewin merupakan jenis matematika untuk menggambarkan inte4rkoneksi dan interkomunikasi antara bidang-bidang spasial dengan tidak memperhatikan ukuran dan bentuknya.
Pemisahan pribadi dari yang lain-lainnya di dunia dilakukan dengan menggambarkan usatu figur yang tertutup. Batas dari figur menggambarkan batas-batas dari entitas yang dikenal sebagai pribadi. Segala sesuatu yang terdapat dalam batas itu adalah P (Pribadi), sedangkan segala sesuatu yang terdapat di luar batas itu adalan non-P.
            Selanjutnya untuk melukiskan kenyataan psikologis ialah menggambar suatu figur tertutup lain yang lebih besar dari pribadi yang melingkupinya. Bentuk dan ukuran figur yang melingkupi ini tidak penting asalkan ia memenuhi dua syarat yakni lebih besar dari pribadi dan melingkupinya. Figur yang baru ini tidak boleh memotong bagian dari batas lingkaran yang menggambarkan pribadi.
            Lingkaran dalam elips ini bukan sekedar ilustrasi atau alat peraga, melainkan sungguh-sungguh merupakan suatu penggambaran yang tepat tentang konsep-konsep struktural yang paling umum dalam teori Lewin, yakni ruang hidup/medan, lingkungan psikologis dan pribadi.
  
1. Ruang Hidup/Medan

Ruang hidup (medan) mengandung semua kemungkinan fakta yang dapat menentukan tingkah laku individu. Ruang hidup meliputi segala sesuatu yang harus diketahui untuk memahami tingkah laku kongkrit manusia individual dalam suatu lingkungan psikologis tertentu pada saat tertentu. Tingkah laku adalah fungsi dan ruang hidup.

Secara matematis : TL = f (RH)

Fakta-fakta non-psikologis dapat dan sungguh-sungguh mengubah fakta-fakta psikologis. Fakta-fakta dalam lingkungan psikologis dapat juga menghasilkan perubahan-perubahan dalam  dunia fisik. Ada komunikasi dua arah antara ruang hidup dan dunia luar bersifat dapat ditembus (permeability), tetapi dunia fisik (luar) tidak dapat berhubungan langsung  dengan pribadi karena suatu fakta harus ada dalam lingkungan psikologis sebelum mempengaruhi/dipengaruhi oleh pribadi.

2. Lingkungan Psikologis

Meskipun pribadi dikelilingi oleh lingkungan psikologisnya, namun ia bukanlah bagian atau termasuk dalam lingkungan tersebut. Lingkungan psikologis berhenti pada batas pinggir elips, tetapi batas antarea pribadi dan lingkungan juga bersifat dapat ditembus. Hal ini berarti fakta-fakta ligngkungan dapat mempengaruhi pribadi. Secara matematis : P = f (LP). Dan fakta-fakta pribadi dapat mempengaruni lingkungan. Secara matematis : LP = f (LP).

3. Pribadi

Menurut Lewin, pribadi adalah heterogen, terbagi menjadi bagian-bagian yang terpisah meskipun saling berhubungan dan saling bergantung. Daerah dalam personal dibagi menjadi sel-sel. Sel-sel yang berdekatan dengan daerah konseptual motor disebut sel-sel periferal; p, sel-sel dalam pusat lingkaran disebut sel-sel sentral; s. Sistem motor bertindak sebagai suatu kesatuan karena biasanya lahannya dapat nelakukan sesuatu tindakan pada suatu saat. Begitu pula dengan sistem perseptual artinya orang hanya dapat memperhatikan dan mempersepsikan satu hal pada suatu saat. Bagian-bagian tersebut mengadakan komunikasi dan interdependen, tidak bisa berdiri sendiri.

  1. Dinamika Kepribadian
            Konsep-konsep dinamika dari Lewin, yakni kebutuhan energi psikis, tegangan, kekuatan atau vektor dan valensi. . Konstruk-konstruk dinamika ini menentukan lokomosi khusus dari individu dan cara ini mengatur struktur lingkungannya, Lokomosi dan perubahan-perubahan dan struktur berfungsi mereduksi tegangan dengan cara memuaskan kebutuhan.

            Suatu tegangan dapat direduksikan dan keseimbangan dipulihkan oleh suatu lokomosi substitusi. Proses ini menuntut bahwa dua kebutuhan erat saling ketergantungan satu sama lain sehingga pemisahan salah satu  kebutuhan adalah melepaskan tegangan dari sitem kebutuhan lainnya. Akhirnya tegangan dapat direduksikan dengan lokomosi-lokomosi murni khayalan. Seseorang yang berkhayal bahwa ia telah melakukan perbuatan yang sulit atau menempati suatu jabatan yang tinggi mendapat semacam kepuasan semi dari sekedar berkhayal tentang keberhasilan.

  1. Perkembangan Kepribadian
            Menurut Lewin hakekat Perkembangan Kepribadian itu terdiri atas unsur-unsur sebagai berikut :
1. Diferensiasi. Yaitu semakin bertambah usia, maka region-region dalam pribadi seseorang dalam Lingkungan  Psikologis-nya akan semakin bertambah. Begitu pula dengan kecakapan-kecakapan atau keterampilan-keterampilannya. Contohnya : orang dewasa lebih pandai menyembunyikan isi hatinya dari –pada anak-anak (region anak lebih mudah ditembus).
  1. Perubahan dalam variasi tingkah lakunya.
  2. Perubahan dalam organisasi dan struktur tingkah lakunya lebih kompleks.
  3. Bertambah luasnya arena aktivitas. Contohnya : Anak kecil terikat oleh masa kini, sedangkan orang dewasa terikat oleh masa kini, masa lampau dam masa depan.
  4. Perubahan dalam realitas. Dapat membedakan mana yang khayalan dan yang nyata, pola berfikir meningkat. Contohnya : Dari pola berfikir assosiasi menjadi pola berfikir abstrak.
 .   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar