Laman

Tampilkan postingan dengan label pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pembelajaran. Tampilkan semua postingan

06 Februari 2012

Pendekatan STM

Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat
Oleh: Sri Hendrawati

Menurut pandangan Hidayat (dalam Wahidin, 2006) menyatakan bahwa pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) adalah cara guru berpikir dan berpandangan dalam melakukan pembelajaran IPA dikaitkan dengan keadaan masyarakat, kejadian dalam kehidupan sehari-hari, dan dikaitkan dengan perubahan sosial masyarakat. Jadi bukan sekedar melakukan pembelajaran tentang materi IPA, tetapi perlu dikaitkan dengan kehidupan nyata.

Selajutnya Poedjiadi (2005) menyatakan pada dasarnya pendekatan Sains Teknologi Masyarakat dalam pembelajaran sains dilaksanakan guru melalui topik yang dibahas dengan jalan menghubungkan antara sains dan teknologi yang terkait dengan kegunaanya dimasyarakat. Sedangkan menurut Galib, (2002) menyatakan bahwa pendekatan STM adalah pembelajaran sains dan teknologi dalam konteks pengalaman dan kehidupan manusia sehari-hari, dengan fokus masalah-masalah/masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh masyarakat, baik bersifat lokal, regional, nasional, maupun global yang memiliki komponen sains dan teknologi. Pendekatan ini sangat cocok untuk pembelajaran sains yang menekankan pada multi-dimensi hasil belajar siswa (seperti penguasaan konsep, proses sains, kreativitas, sikap, penerapan, nilai-nilai, dan keterkaitan). Tujuannya antara lain adalah untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar disamping memperluas wawasan peserta didik. Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa teknologi berdasarkan sains dan bertujuan sebagai alat bantu bagi manusia untuk memanfaatkan sumber daya alam guna kesejahteraan masyarakat. Hidayat (dalam Wahidin, 2006) menyatakan bahwa tujuan pendekatan sains teknologi masyarakat dimaksudkan agar para siswa dapat:

  1. Menggunakan sains untuk memperbaiki kehidupan dirinya dan untuk menghadapi perkembangan teknologi.
  2. Menghadapi masalah-masalah teknologi dalam masyarakat dengan penuh tanggungjawab.
  3. Memahami pengetahuan dasar untuk dapat menangani masalah-masalah sains teknologi masyarakat.
  4. Mengetahui gambaran yang akurat tentang isyarat-isyarat atau kesempatan kerja dalam lapangan sains teknologi masyarakat.

Yager (dalam Wahidin, 2006) menyebutkan bahwa pendekatan sains teknologi masyarakat memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
  1. Siswa mengidentifikasi masalah-masalah yang ada di daerahnya beserta dampaknya.
  2. Menggunakan sumber-sumber setempat (narasumber dan bahan-bahan) untuk memperoleh informasi yang dapat digunakan dalam pemecahan masalah.
  3. Keterlibatan siswa secara aktif dalam mencari informasi yang dapat diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah nyata dalam kehidupannya.
  4. Perluasan untuk terjadinya belajar melebihi periode, kelas, dan sekolah.
  5. Memusatkan pada pengaruh sains dan teknologi kepada individu siswa.
  6. Pandangan mengenai sains sebagai konten lebih dari sekedar yang hanya berisi konsep-konsep dan untuk menyelesaikan ujian.
  7. Penekanan ketrampilan proses sains, agar dapat digunakan oleh siswa dalam mencari solusi terhadap masalahnya.
  8. Penekanan kepada kesadaran mengenai karir khususnya karir yang berhubungan dengan sains dan teknologi.
  9. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan dalam bermasyarakat sebagai usaha untuk memecahkan kembali masalah-masalah yang diidentifikasinya.
  10. Menentukan proses sains dan teknologi yang mempengaruhi masa depan.
  11. Sebagai perwujudan otonomi setiap individu dalam proses belajar (sebagai masalah individu).

Dari tujuan dan ciri pendekatan sains teknologi masyarakat di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan mengaitkan sains dan teknologi serta kegunaannya dan kebutuhan masyarakat diharapkan dapat bermanfaat bagi dirinya dan dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya maupun masalah lingkungan sosial. Untuk mencapai hal itu, diharapkan guru disamping membekali peserta didik dengan pemahaman konsep dan kemampuan aplikasi sains, juga membekali dengan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, peduli terhadap lingkungan sehingga mau melakukan tindakan nyata apabila ada masalah yang dihadapi di luar kelas. Pembelajaran dengan mengaitkan sains teknologi serta kegunaannya dan kebutuhan masyarakat dapat meningkatkan kemampuan proses, mengaplikasikan konsep-konsep sains, kreativitas dan sikap melalui sains. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Robert Yager yang di publikasikan pada tahun 1992 bahwa manfaat mempelajari sains dengan menggunakan pendekatan Science Technology and Society (STS), yaitu dapat meningkatkan kemampuan proses, mengaplikasikan konsep-konsep sains, kreativitas dan sikap melalui sains. Hasil penelitian ini di dapat setelah mengadakan uji coba terhadap kelompok siswa yang belajar dengan menggunakan pendekatan STS dan siswa yang belajar dengan pendekatan non-STS. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh penelitian Fensham (1988) seorang tenaga pendidik bidang sains yang terkenal menyatakan bahwa pembelajaran sains dengan menggunakan pendekatan STS akan membuat siswa menggunakan beragam sudut pandang dalam menyikapi persoalan yang berhubungan dengan dampak dari sains dan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Siswa juga dapat mengerti relevansi antara penemuan-penemuan ilmiah, bukan hanya berkonsentrasi pada belajar fakta-fakta dan teori-teori sains yang kelihatannya jauh dari realita kehidupan mereka.

Peer Coaching

Peer Coaching*)

Peer coaching adalah salah satu strategi untuk memperbaiki implementasi kurikulum pada strategi, teknik dan kemampuan guru dalam pembelajaran (Hasbrouck,1997). Dengan penekanan utama kegiatan peer coaching adalah refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan dan memperbaiki segala kelemahannya.

Dalam proses peningkatan kemampuan, peer coaching tidak boleh ditinggalkan. Karena coach (mentor) memberikan panduan dan dukungan bagi coachee (guru) untuk melihat secara utuh kondisi mereka, misalnya mengenai asumsi dan persepsi mengenai pekerjaan, pribadi, dan pandangan mereka tentang pihak lain (Ridwan, 2007). Coach juga membantu mereka menentukan tujuan yang relevan dan realistis berdasarkan kebutuhan dan sifat-sifat yang dimiliki, kemudian membantu mereka mengambil tindakan berdasarkan tujuan yang relevan dan realistis tersebut. Proses peer coaching bersifat forward looking, artinya bahwa peer coaching berorientasi kepada perubahan dan bersifat pengembangan.

Peer coaching merupakan sarana memaksimalkan kekuatan yang dimiliki, mendorong dan meningkatkan komunikasi, serta membantu mereka (guru) mencapai sasarannya dalam waktu lebih cepat. Lebih lanjut Meyer dan Grey (1996) menyatakan bahwa peer coaching sebagai sebuah inovasi untuk memperbaiki cara pengajaran guru yang bisa diimplementasikan di berbagai jenjang pendidikan. Dari pernyataan itu mengandung makna bahwa permasalahan peningkatan mutu guru dapat dijawab dengan metode ini.

Menurut Susanto, (2007) peer coaching menjadi alat yang penting dalam perkembangan profesional dan pribadi seseorang. Peer coaching dapat berpengaruh positif bagi pengembangan karir, membantu menumbuhkan dan meningkatkan rasa tanggungjawab dari setiap perilaku dan tindakan yang dilakukan, serta mendorong pengerahan kemampuan terbaik melewati keterbatasan-keterbatasan yang selama ini sebenarnya diasumsikan sendiri. Dengan peer coaching seseorang dapat meningkatkan kepercayaan dirinya, memperoleh kepuasan lebih dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi, memberikan kontribusi yang lebih efektif bagi tim atau organisasi melalui tindakan dan perilaku yang lebih baik dan lebih cerdas, memungkinkan diperolehnya feedback (umpan balik) bagi rencana-rencana dan ide-ide yang dimiliki, serta bekerja lebih mudah dan lebih produktif dengan orang lain (atasan, rekan kerja, ataupun bawahan) (Rachman dan Savitri, 2007).

Menurut Ridwan (2007) memanfaatkan strategi peer coaching adalah sebuah strategi yang mendorong para guru untuk bekerja sama secara profesional sehingga menghapuskan keterisolasian. Selain itu peer coaching juga menjadi sarana untuk:
1) Mendorong melakukan refleksi dan analisa pelaksanaan pembelajaran
2) Mengembangkan umpan balik yang spesifik dari waktu ke waktu
3) Membantu pengembangan kerja sama antar guru di seluruh sekolah yang termasuk dalam jejaring kerjasamanya

Sebagai hasilnya, para guru mengalami perubahan yang positif dalam praktek pengajaran mereka. Dalam banyak kasus kegiatan terorganisir ini dirancang untuk meningkatkan penggunaan dan pemahaman suatu inovasi kurikulum atau strategi pembelajaran. Sehingga proses berbagi (sharing) dalam peer coaching merupakan suatu proses siklis yang dirancang sebagai suatu perluasan dari kebutuhan guru.
Sejalan dengan hal di atas Ladyshewsky (2006) menyebutkan bahwa terdapat framework (bingkai kerja) yang menyangkut tiga komponen yang melandasi keberhasilan peer coaching ini.

Menurut Ridwan (2007), secara garis besar Peer coaching dibagi menjadi dua yaitu:

1) Peer coaching pada aktivitas formal, sebagai berikut:
- Co-teaching (pendamping pembelajaran)
- Co-planning (pendamping perencanaan, mengamati dan bekerja kelompok)
- Coach as mentor (pendamping sebagai mentor)
- Coach as mirror (pendamping sebagai contoh/model)
- Coach as action researcher (Pendamping sebagai peneliti tindakan kelas)
- Coach as expert (pendamping sebagai orang yang lebih berpengalaman)

2) Peer coaching pada aktivitas informal, sebagai berikut:
- Pengembangan kurikulum
- Pemecahan masalah
- Belajar kelompok
- Kelompok pencinta buku (Book clubs)
- Mendiskusikan pekerjaan siswa
- Analisis videotape
- Berdiskusi tentang latihan mengajar dengan metode baru/inovatif
- Mempelajari dan memperluas wawasan terhadap pelajaran yang terkait
- Merencanakan kedisiplinan internal sesama guru serumpun
- Mengamati data siswa dan mengembangkan pengalaman belajar

Berdasarkan beberapa hal yang dikemukakan oleh Ridwan tersebut, maka dalam penelitian ini jenis peer coaching yang dipilih adalah yang memposisikan coach sebagai ahli (coach as expert). Lebih lanjut Ridwan (2007) mengungkapkan bahwa pada model ini, ahli berlaku sebagai pelatih dan mentor. Kegiatan ini dapat memanfaatkan sarana berupa hasil rekaman videotape yang berikutnya dilakukan analisis bersama. Dengan pertimbangan bahwa dengan menggunakan analisis tersebut observasi yang dilakukan dapat diputar ulang dihadapan guru dan selanjutnya guru dapat menemukenali kelemahan dan kelebihannya. Menurut Ridwan (2007) ada tiga tahapan dalam pelaksanaan peer coaching yaitu sebagai berikut:

1. Pengamatan dan umpan balik
Coach mengamati berlangsungnya proses belajar yang dilakukan oleh guru, kemudian memberikan umpan balik positif dari apa yang diamati.
2. Aplikasi dari pengajaran yang baru
Coach mentransfer strategi mengajar yang baru untuk kemudian dapat diterapkan secara efektif di kelas.
3. Penyelesaian Masalah

Pada tahap ini guru melakukan kerja kelompok yang merupakan bagian dari kolaborasi dalam pemecahan masalah. Anggota tim mulai mengeksplor dan menganalisis KTSP untuk menentukan strategi pengajaran yang tepat.
Hal di atas didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Showers and Joyce (2002) dalam Foltos, (2009) yang menyebutkan paling tidak ada beberapa dampak yang di dapat ketika menggunakan peer coaching sebagai alternatif dalam meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar antara lain (1) guru yang mengikuti program peer coaching akan lebih sering menggunakan strategi yang di ajarkan, (2) terjadi peningkatan keterampilan megajar guru secara terus menerus dari waktu ke waktu, (3) guru menunjukan pemahaman yang lebih tinggi terhadap tujuan-tujuan pembelajaran ataupun tujuan-tujuan strategi pembelajaran

Garet et al (2001) dalam Foltos (2009), menemukan bahwa pada sekolah-sekolah yang menggunakan peer coaching sebagai proses peningkatan profesionalisme guru, terlihat kesempatan yang sangat besar untuk saling berdiskusi tentang konsep, keterampilan, dan seluruh permasalahan yang mereka temukan dalam pembelajaran yang berawal dari pengalaman.

Ike, (1997), Miller, (1998), Norton and Gonzales, (1998) Saye, (1998) Tenbusch, (1998) Yocam, (1996) dalam Foltos (2009) menyebutkan bahwa rata-rata guru yang mengikuti program peer coaching dapat dengan efektif menerapkan teknologi pembelajaran di dalam kelas. Hal ini berdampak langsung pada meningkatnya mutu pengajaran guru hingga mencapai 80%. Selain itu menurut Kowal dan Steiner (2007), selain berdampak pada peningkatan pelaksanaan pembelajaran, program peer coaching juga akan berdampak pada peningkatan prestasi siswa dalam belajar di kelas.
Menurut Kohler et al (1997) dalam Muray et al (2009) ditemukan tiga peningkatan yang saling berkaitan setelah guru mengikuti kegiatan peer coaching yaitu: Pertama, perubahan prosedur, strategi, metoda ataupun teknik pembelajaran. Kedua, peningkatan interaksi antara guru dengan coache dan kepuasan terhadap proses pelatihan. Ketiga, adalah peningkatan kompetensi akademik siswa.


*) Spesial Thanks to Jaya Adi (Dosen UNRI)

20 Mei 2010

Metode-Metode Membaca Menulis Permulaan (MMP) di Sekolah Dasar

Metode –Metode Membaca Menulis Permulaan (MMP) di Sekolah Dasar
Oleh:
Sri Hendrawati, M.Pd

Tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia adalah siswa terampil berbahasa. Dalam kehidupan sehari-hari, kegiatan berbahasa tercermin dalam empat aspek keterampilan berbahasa yakni keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Pemerolehan keempat keterampilan berbahasa tersebut bersifat hirarkhis. Artinya pemerolehan keterampilan berbahasa yang satu akan mendasari keterampilan lainnya. Ada dua kategori keterampilan berbahasa, yakni pertama adalah menyimak dan berbicara diperoleh seseorang untuk pertama kalinya di lingkungan rumah. Dua keterampilan berbahasa berikutnya yakni membaca dan menulis diperoleh seseorang setelah mereka memasuki sekolah. Menurut Supriyadi 1995, kategori keterampilan berbahasa yang kedua ini merupakan sajian pembelajaran yang utama dan pertama bagi murid-murid sekolah dasar kelas awal. Selanjutnya, kategori keterampilan berbahasa ini dikemas dalam satu paket pembelajaran yang dikenal dengan paket MMP (Membaca Menulis Permulaan). Adapun metode-metode yang digunakan bervariasi diantaranya adalah metode Eja, Bunyi, Suku Kata, Global, dan SAS (Struktur Analitik Sintetik). Penjelasan berikutnya dapat dicermati pada uraian berikut.

a.Metode Eja

Pembelajaran membaca dan menulis permulaan dengan metode ini memulai pengajarannya dengan memperkenalkan huruf-huruf alpabetis. Huruf-huruf tersebut dihafalkan dan dilafalkan peserta didik sesuai dengan bunyinya menurut abjad. Sebagai contoh:
A a, B b, C c, D d, E e, F f, G g,
Dilafalkan sebagai: a, be, ce, de, e, ef, ge, dan seterusnya.
Setelah melalui tahapan ini, para siswa diajak untuk berkenalan dengan suku kata dengan cara merangkaikan beberapa huruf yang sudah dikenalnya
Misalnya: b, a,  ba (dibaca  be, a  ba)
d, u  du (dibaca de, u  du)
ba – du dilafalkan badu
b, u, k, u menjadi:
b, u  bu (dibaca be, u  bu)
k, u  ku (dibaca ke, u ku)

Proses ini seiring dengan menulis permulaan, setelah anak-anak bisa menulis huruf-huruf lepas. Setelah itu dilanjutkan dengan belajar menulis rangkaian huruf yang berupa suku kata. Proses pembelajaran selanjutnya adalah pengenalan kalimat-kalimat sederhana, misalnya huruf menjadi suku kata, suku kata menjadi kata, dan kata menjadi kalimat yang diupayakan mengikuti prinsip pendekatan spiral, pendekatan komunikatif, dan pendekatan pengalaman berbahasa. Artinya pemilihan bahan ajar untuk pembelajaran MMP hendaknya dimulai dari hal-hal yang konkret menuju pada hal yang abstrak, yaitu dari hal-hal yang mudah, akrab, familiar dengan kehidupan peserta didik menuju hal-hal yang sulit, dan mungkin merupakan sesuatu yang baru bagi peserta didik. Berdasarkan pengamatan, metode ini memiliki kelemahan-kelemahan antara lain kesulitan dalam mengenal rangkaian-rangkaian huruf yang berupa suku kata atau pun kata. Kelemahan lain dalam metode ini adalah dalam kesulitan pelafalan diftong dan fonem – fonem rangkap, seperti ng, ny, kh, au, oi, dan sebagainya.
Bertolak dari kedua kelemahan tersebut, proses pembelajaran melalui sistem tubian dan hafalan akan mendominasi proses pembelajaran MMP jenis ini, padahal pendekatan cara belajar siswa aktif (CBSA) merupakan ciri utama dari pelaksanaan kurikulum SD yang saat ini prinsipnya masih berlaku.

b.Metode bunyi

Proses pembelajaran membaca permulaan pada sistem pelafalan abjad atau huruf dengan metode bunyi adalah:
b dilafalkan /eb/
d dilaflakan /ed/ : dilafalkan dengan e pepet seperti pengucapan pada kata; benar, keras, pedas, lemah dan sebagainya
c dilafalkan /ec/
g dilafalkan /eg/
p dilafalkan /ep/ dan sebagainya

Dengan demikian, kata “nani” dieja menjadi:
en,a  na
en, i  ni  dibaca  na-ni

Dari penjelasan metode di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran MMP melalui metode bunyi adalah bagian dari metode eja. Prinsip dasar dan proses pembelajaran tidak jauh berbeda dengan metode eja/abjad di atas. Demikian juga dengan kelemahan-kelemahannya, perbedaannya terletak hanya pada cara atau sistem pembacaan atau pelafalan abjad.

c.Metode Suku Kata dan Metode Kata

Proses pembelajaran MMP dengan metode ini diawali dengan pengenalan suku kata, seperti
ba, bi, bu, be, bo, ca, ci, cu, ce, co,
da, di, du, de, do, ka, ki, ku, ke, ko

Suku-suku kata tersebut kemudian dirangkaikan menjadi kata-kata bermakna. Sebagai contoh, dari daftar suku kata tadi guru dapat membuat berbagai variasi paduan suku kata menjadi kata-kata bermakna untuk bahan ajar MMP. Kata-kata tadi misalnya:
ba – bi cu – ci da – da ka – ki
ba – bu ca – ci du – da ku – ku
bi - bi ci - ca da – du ka – ku
ba – ca ka – ca du – ka ku – da

Kegiatan ini dapat dilanjutkan dengan proses perangkaian kata menjadi kalimat sederhana. Contoh perangkaian kata menjadi kalimat seperti tampak pada contoh di bawah ini.
ka – ki ku – da
ba – ca bu – ku
cu – ci ka – ki

Proses perangkaian suku kata mejadi kata, kata menjadi kalimat sederhana, kemudian ditindaklanjuti dengan proses pengupasan atau penguraian bentuk-bentuk tersebut menjadi satuan-satuan bahasa terkecil di bawahnya, yakni dari kalimat ke dalam kata dan dari kata ke dalam suku kata. Proses pembelajaran MMP yang melibatkan merangkai dan mengupas kemudian melahirkan istilah lain yaitu Metode Rangkai-kupas.
Jika kita simpulkan langkah-langkah pembelajaran dengan metode suku kata adalah:
(1) tahap pertama, pengenalan suku-suku kata;
(2) tahap kedua, perangkaian suku-suku kata menjadi kata;
(3) tahap ketiga perangkaian kata menjadi kalimat sederhana;
(4) tahap keempat, pengintegrasian kegiatan perangkaian dan pengupasan;
(kalimat ---------> kata-kata ---------> suku-suku kata)
Metode suku kata/silaba, saat ini tampaknya sedang populer dalam pembelajaran baca tulis Al-Quran yang disebut dengan metode Iqra. Proses pembelajaran MMP seperti yang digambarkan ke dalam langkah-langkah di atas, dapat pula dimodifikasi dengan mengubah objek pengenalan awalnya. Sebagai contoh pembelajaran diawali dengan pengenalan sebuah kata tertentu, kemudian kata ini dijadikan lembaga tertentu sebagai dasar untuk pengenalan suku kata dan huruf. Artinya kata dimaksud diuraikan atau dikupas menjadi suku kata, suku kata menjadi huruf-huruf. Selanjutnya dilanjutkan proses perangkaian huruf menjadi suku kata, dan suku kata menjadi kata. Dengan kata lain hasil pengupasan tadi dikembalikaan lagi ke bentuk asalnya sebagai kata lembaga (kata semula).

d.Metode Global

Metode ini disebut juga sebagai “Metode Kalimat” karena alur proses pembelajaran MMP yang diperlihatkan melalui metode ini diawali dengan penyajian beberapa kalimat global. Untuk membantu pengenalan kalimat dimaksud biasanya digunakan gambar. Di bawah gambar tersebut ditulis sebuah kalimat yang kira-kira merujuk pada makna gambar tersebut. Sebagai contoh, jika kalimat yang diperkenalkan berbunyi ‘ini nani”, maka gambar yang cocok untuk menyertai kalimat itu adalah gambar seorang anak perempuan.
Setelah anak diperkenalkan dengan beberapa kalimat, barulah proses pembelajaran MMP dimulai. Mula-mula guru mengambil sebuah kalimat dari beberapa kalimat yang diperkenalkan kepada anak pertama kali tadi. Kalimat ini dijadikan dasar/alat untuk pembelajaran MMP. Melalui proses degloblalisasi selanjutnya anak mengalami proses belajar MMP.

e.Metode SAS

Pembelajaran MMP dengan metode ini mengawali pembelajarannya dengan menampilkan dan memperkenalkan sebuah kalimat utuh. Mula-mula anak disuguhi sebuah struktur yang memberi makna lengkap, yakni struktur kalimat yang bertujuan membangun konsep-konsep kebermaknaan pada diri anak. Selanjutnya melalui proses analitik, anak-anak diajak untuk mengenal konsep kata. Kalimat utuh yang dijadikan tonggak dasar diuraikan ke dalam satuan-satuan bahasa yang lebih kecil yang disebut kata. Proses penganalisisan atau penguraian ini terus berlanjut hingga sampai pada wujud satuan bahasa terkecil yang tidak bisa diuraikan lagi, yakni huruf-huruf. Dengan demikian proses penguraian dan penganalisisan dalam pembelajaran MMP dengan metode SAS meliputi;
1) kalimat menjadi kata-kata
2) kata menjadi suku-suku kata; dan
3) suku kata menjadi huruf-huruf
Pada tahap berikutnya anak-anak didorong melakukan kerja sintetis (menyimpulkan). Satuan bahasa yang telah terurai dikembalikan lagi kepada satuannya semula, yakni dari huruf-huruf menjadi suku kata, dari suku kata menjadi kata, dari kata menjadi kalimat lengkap. Dengan demikian, melalui proses sintesis ini, anak-anak akan menemukan kembali wujud struktur semula, yakni sebuah kalimat utuh. Melihat prosesnya, metode ini merupakan campuran dari metode-metode membaca permulaan seperti yang telah kita bicarakan di atas. Oleh karena itu, penggunaan metode SAS dalam pengajaran MMP pada sekolah-sekolah kita di tingkat sekolah dasar pernah dianjurkan, bahkan diwajibkan pemakaiannya oleh pemerintah. Beberapa manfaat yang dianggap sebagai kelebihan metode ini diantaranya sebagai berikut:
1) Metode ini sejalan dengan prinsip linguistik (ilmu bahasa) yang memandang satuan bahasa terkecil yang bermakna untuk berkomunikasi adalah kalimat. Kalimat dibentuk oleh satuan-satuan bahasa di bawahnya, yakni kata, suku kata dan huruf.
2) Metode ini mempertimbangkan pengalaman berbahasa anak. Oleh karena itu, pengajaran akan lebih bermakna bagi anak karena bertolak dari sesuatu yang dikenal dan diketahui anak. Hal ini akan memberikan dampak positif terhadap daya ingat dan pemahaman anak.
3) Metode ini sesuai dengan prinsip inkuiri (menemukan sendiri). Anak mengenal dan memahami sesuatu berdasarkan hasil temuannya sendiri. Dengan begitu anak akan merasa lebih percaya diri atas kemampuannya sendiri.
Penerapan pembelajaran membaca dan menulis permulaan dengan metode ini tampak dapat diamati dalam contoh berikut:

ini mama
ini mama
i ni ma ma
i n i m a m a
i ni ma ma
ini mama
ini mama

17 Oktober 2009

Pembelajaran Tematik

PEMBELAJARAN TEMATIK DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR

Oleh:

Sri Hendrawati, S.Pd., M.Pd.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Peserta didik kelas satu, dua, dan tiga sekolah dasar berada pada rentangan usia dini. Pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasan seperti IQ, EQ, dan SQ tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Pada umumnya tingkat perkembangan masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) serta mampu memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih bergantung kepada objek-objek konkrit dan pengalaman yang dialami secara langsung.

Pelaksanaan pembelajaran yang terpisah menyebabkan banyak permasalahan bagi siswa kelas rendah, selain daripada itu muncul permasalahan lain yaitu tingginya angka mengulang kelas dan putus sekolah. Angka mengulang kelas dan angka putus sekolah peserta didik kelas I SD jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelas yang lain. Data tahun 1999/2000 memperlihatkan bahwa angka mengulang kelas satu sebesar 11,6% sementara pada kelas dua 7,51%, kelas tiga 6,13%, kelas empat 4,64%, kelas lima 3,1%, dan kelas enam 0,37%. Pada tahun yang sama angka putus sekolah kelas satu sebesar 4,22%, masih jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelas dua 0,83%, kelas tiga 2,27%, kelas empat 2,71%, kelas lima 3,79%, dan kelas enam 1,78%.

Angka nasional tersebut semakin memprihatinkan jika dilihat dari data di masing-masing propinsi terutama yang hanya memiliki sedikit taman Kanak-kanak. Hal itu terjadi terutama di daerah terpencil. Pada saat ini hanya sedikit peserta didik kelas satu sekolah dasar yang mengikuti pendidikan prasekolah sebelumnya. Tahun 1999/2000 tercatat hanya 12,61% atau 1.583.467 peserta didik usia 4-6 tahun yang masuk Taman Kanak-kanak, dan kurang dari 5 % Peserta didik berada pada pendidikan prasekolah lain.

Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa kesiapan sekolah sebagian besar peserta didik kelas awal sekolah dasar di Indonesia cukup rendah. Sementara itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik yang telah masuk Taman Kanak-Kanak memiliki kesiapan bersekolah lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang tidak mengikuti pendidikan Taman Kanak-Kanak. Selain itu, perbedaan pendekatan, model, dan prinsip-prinsip pembelajaran antara kelas satu dan dua sekolah dasar dengan pendidikan pra-sekolah dapat juga menyebabkan peserta didik yang telah mengikuti pendidikan pra-sekolah pun dapat saja mengulang kelas atau bahkan putus sekolah.

Atas dasar pemikiran di atas dan dalam rangka implementasi Standar Isi yang termuat dalam Standar Nasional Pendidikan, maka pembelajaran pada kelas awal sekolah dasar yakni kelas satu, dua, dan tiga lebih sesuai jika dikelola dalam pembelajaran terpadu melalui pendekatan pembelajaran tematik. Untuk memberikan gambaran tentang pembelajaran tematik yang dapat menjadi acuan dan contoh konkret, disiapkan model pelaksanaan pembelajaran tematik untuk SD/MI kelas I hingga kelas III.

B. Batasan Masalah

Pada makalah ini akan dibahas beberapa hal mengenai pembelajaran tematik dengan terlebih dahulu mengupas secara singkat mengenai pembelajaran terpadu serta model-model pembelajaran terpadu. Selain dari itu dibahas pula mengenai pembelajaran tematik pada jenjang Sekolah Dasar.

PEMBELAJARAN TEMATIK DAN IMPLIKASINYA BAGI JENJANG PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR

Pembelajaran Terpadu

Pembelajaran terpadu atau integrated learning merupakan suatu konsep yang dapat dikatakan sebagai pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Bermakna artinya bahwa dalam pembelajaran terpadu, siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari itu melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep yang lain yang sudah mereka pahami.(Tim pengembang D-II dan S-2,1997:6). Jika dibandingkan dengan pendekatan konvensional, pembelajaran terpadu lebih melibatkan siswa secara aktif secara mental dan fisik di dalam kegiatan belajar mengajar di kelas serta pembuatan keputusan. Pendapat John Dewey dengan konsepnya “Learning By Doing” sangat sesuai dengan pendekatan terpadu ini.

Pada dasarnya model pembelajaran terpadu merupakan system pembelajaran yang memungkinkan siswa baik individual maupun kelompok aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistic, bermakna dan otentik. Pembelajaran terpadu akan terjadi apabila peristiwa-peristiwa otentik atau eksplorasi tema menjdai pengendali di dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan berpartisipasi di dalam eksplorasi tema tersebut, para siswa belajar sekaligus melakukan proses dan siswa belajar berbagai mata pelajaran secara serempak. Sedangkan, UNESCO memberikan definisi tentang pembelajaran terpadu seperti yang dikemukakan oleh Anna Poedjadi (1981;80) bahwa pengajaran terpadu terdiri dari pendekatan-pendekatan di mana konsep dan prinsip pembelajaran disajikan dalam satu paket pembelajaran sehingga tampak adanya satau kesatuan pemikiran ilmiah dan fundamental.

Pembelajaran terpadu seperti yang dikemukakan Hilda Karli (2003;53) mempunyai karakteristik sebagai berikut :

1. Berpusat pada anak (student centered)

2. Memberi pengalaman langsung pada anak

3. Pemisahan antar bidang studi tidak begitu jelas

4. Menyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam suatu proses pembelajaran

5. Bersifat luwes

6. Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak

7. Holistik, artinya suatu peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran terpadu diamati dan dikaji dari beberapa mata pelajaran sekaligus, tidak dari sudut pandang yang terkotak-kotak

8. Bermakna, artinya pengkajian suatu fenomena dari berbagai macam aspek memungkinkan terbentuknya semacam jalinan antar schemata yang dimiliki siswa. Pada gilirannya nanti akan berdampak kebermaknaan dari meteri yang dipelajari. Siswa mampu menerakan perolehan belajarnya untuk memecahkan masalah-masalah nyata di dalam kehidupannya.

9. Otentik, artinya informasi dan pengetahuan yang diperoleh sifatnya menjadi otentik. Guru hanya sebagai fasilitator dan katalisator saja sementara itu siswa bertindak sebagai actor pencari informasi dan pengetahuannya. Artinya siswa memahami sendiri pengetahuan yang diperoleh dari hasil belajar mereka. Oleh karena itu siswa tidak akan cepet lupa dengan pengetahuan yang diperolehnya itu.

10. Aktif, artinya siswa perlu terlibat langsung dan aktif dalam proses pembelajaran, mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga proses evaluasinya.

Macam-macam Model Pembelajaran Terpadu

Menurut Fogarty dalam bukunya How to Integrate the Curricula , ada 10 macam model pembelajaran terpadu, seperti : fragmented (penggalan), connected (keterhubungan), nested (sarang), sequenced (pengurutan), shared (irisan), webbed (jarring laba-laba), threaded (bergalur), integrated (terpadu), immersed (terbenam), dan networked (jaringan kerja).

1. Model Penggalan (Fragmented) adalah model pembelajaran konvensional yang terpisah secara mata pelajaran. Hal ini dipelajari siswa tanpa menghubungkan kebermaknaan dan keterkaitan antara satu pelajaran dengan pelajaran lainnya. Setiap mata pelajaran diajarkan oleh guru yang berbeda dan mungkin pula ruang yang berbeda. Setiap mata pelajaran memiliki ranahnya tersendiri dan tidak ada usaha untuk mempersatukannya. Setaiap mata pelajaran berlangsung terpisah dengan pengorganisasian dan cara mengajar yang berbedadari setiap guru.

Kelemahan model ini : siswa tidak dapat mengintegrasikan konsep-konsep yang sama, keterampilan serta sikap yang ada kaitannya satu dengan yang lainnya.

Keunggulan model ini antara lain : guru dapat menyiapkan bahan ajar sesuai dengan bidang keahliannya dan dengan mudah menentukan ruang lingkup bahasan yang diprioritaskan dalam setiap pengajaran.

2. Model Keterhubungan (Connected) adalah model pembelajaran terapdu yang secara sengaja diusahakan untuk menghubungkan satu konsep dengan konsep yang lain, satu topic dengan topic yang lain, satu keterampilan dengan keteramilan yag lain, tugas yang dilakukan dalam satu hari dengan tugas yang dilakukan pada hari berikutnya, bahkna ide-ide yang dipelajari pada satu semester berikutnya dalam satu bidang studi.

Keunggulan model ini antara lain adalah siswa dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas dan luas dari konsep yang dijelaskan dan juga siswa diberi kesempatan untuk melakukan pedalaman, tinjauan, memperbaiki dan mengasimilasi gagasan secara bertahap.

Kelemahan model ini adalah bagi guru bidang studi mungkin kurang terdorong untuk menghubungkan konsep yang terkait karena sukarnya mengatur waktu untuk merundingkannya atau karena terfkus pada keterkaitan konsep, maka pembelajaran secara global jadi terabaikan.

3. Model Sarang (Nested) adalah model pembelajaran terpadu yang target utamanya adalah materi pelajaran yang dikaitkan dengan keterampilan berfikir dan keterampilan mengorganisasi. Artinya memadukan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik serta memadukan keterampilan proses, sikap dan komunikasi. Model ini masih memfokuskan keterpaduan beberapa aspek pada satu mata pelajaran saja. Tetapi materi pelajaran masih ditempatkan pada prioritas utama yang kemudian dilengkapi dengan aspek keterampilan lain. model ini dapat digunakan bila guru mempunyai tujuan selain menanamkan konsep suatu materi tetapi juga aspek keterampilan lainnya menjadi suatu kesatuan. Dengan menggabungkan atau merangkaikan kemampuan-kemampuan tertentu pada ketiga cakupan tersebut akan lebih mudah mengintegrasikan konsep-konsep dan sikap melalui aktivitas yang telah terstruktur.

Keunggulan model sarang antara lain : kemampuan siswa lebih diperkaya lagi karena selain memperdalam materi juga aspek keterampilan seperti berfikir dan mengorganisasi. Setiap mata pelajaran mempunyai dimensi ganda yang berguna kelak untuk kehidupan siswa mendatang.

Kelemahan model ini adalah dalam hal perencanaan, jika dilakukan secara tergesa-gesa dan kurang cermat maka penggabungan beberapa materi dan aspek keterampilan dapat mengacaukan pola pikir siswa. Pada mulanya tujuan utama pengajaran adalah penekanan pada materi, tetapi akhirnya bergeser prioritasnya pada keterampilan.

4. Model Pengurutan (Sequenced) adalah model pembelajaran yang topic atau unit yang disusun kembali dan diurutkan sehingga bertepatan pembahasannya satu dengan yang lainnya. Misalnya dua mata pelajaran yang berhubungan diurutkan sehingga materi pelajaran dari keduanya dapat diajarkan secara parallel. Dengan mengurutkan urutan topic-topik yang diajarkan, tiap kegiatan akan dapat saling mengutamakan karena tiap subjek saling mendukung.

Keunggulan model ini adalah dalam penyusunan urutan topic, guru memiliki keleluasaan untuk menentukan sendiri berdasarkan prioritas dan tidak dibatasi oleh apa yang sudah tercantum dalam kurikulum. Sedangkan dari sudut pandang siswa, pengurutan topic yang berhubungan dari disiplin yang berbeda akan membantu mereka untuk memahami isi dari mata pelajaran tersebut.

Kelemahan model pengurutan antara lain perlu adanya kerjasama antara guru-guru bidang studi agar dapat mengurutkan materi, sehingga ada kesesuaian antara konsep yang ssatu dengan konsep yang lainnya.

5. Model Irisan (Shared) adalah model pembelajaran terpadu yang merupakan gabungan atau keterpaduan antara dua mata pelajaran yang saling melengkapi dan di dalam perencanaan atau pengajarannya menciptakan satu focus pada konsep, keterampilan serta sikap. Penggabungan antara konsep pelajaran, keterampilan dan sikap yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya dipayungi dalam satu tema. Model ini berbeda dengan model sarang, dimana tema memayungi dua mata pelajaran, aspek konsep, keterampilan dan sikap menjadi kesatuan yang utuh. Sedangkan pada model sarang, sebuah tema hanya memayungi satu pelajaran saja.

Keunggulan model ini antara lain adalah dalam hal mentransfer konsep secara lebih dalam, siswa menjadi lebih mudah melakukannya. Misalnya dengan alat bantu media film untuk menanamkan konsep dari dua mata pelajaran dalam waktu yang bersamaan.

Kelemahan model ini antara lain adalah untuk menyususn rencana model pembelajaran ini diperlukan kerjasama guru dari mata pelajaran yang berbeda, sehingga perlu waktu ekstra untuk mendiskusikannya.

6. Model Jaring Laba-laba (Spider Webbed) adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan tematik. Pendekatan ini pengembangannya dimulai dengan menentukan tema tertentu. Setelah tema disepakati, maka dikembangkan menjadi subtema dengan memperlihatkan keterkaitan dengan bidang studi lain. setelah itu dikembangkan berbagai aktivitas pembelajatran yang mendukung.

Keunggulan model ini antara lai : factor motivasi berkembang karena adanya pemilihan tema yang didasarkan pada minat siswa. Mereka dapat dengan mudah melihat bagaimana kegiatan yang berbeda dan ide yang berbeda dapat saling berhubungan, kemudahan untuk lintas semester dalam KTSP sangat mendukung untuk dapat dilaksanakannya model pembelajaran ini.

Kelemahan model ini antara lain : kecenderungan untuk mengambil tema sangat dangkal sehingga kurang bermanfaat bagi siswa. Selain itu seringkali guru terfokus pada kegiatan sehingga materi atau konsep menjadi terabaikan. Perlu ada keseimbangan antara kegiatan dan pengembangan materi pelajaran.

7. Model Bergalur (Threaded) adalah model pembelajaran yang memfokuskan pada metakurikulum yang menggantikan atau yang berotongan dengan inti materi subjek. Misalnya untuk melatih keterampilan berfikir (problem solving) dari beberapa mata pelajaran dicari bagia materi yang merupakan bagian dari problem solving. Seperti komponen memprediksi, meramalkan kejadian yang sedang berlangsung, mengantisipasi sebuag bacaan, hipotesis laboratorium dan sebagainya. Keterampilan-keterampilan ini merupakan dasar yang saling berkaitan. Keterampilan yang digunakan dalam modelini disesuaikan pula dengan perkembangan usia siswa sehingga tidak tumpan tindih.

Keunggulan model ini antara lain : konsep berputar sekitar metakurikulum yang menekankan pada perilaku metakognitif. Model ini membuat siswa dapat belajar bagaimana seharusnya belajar di masa yang akan dating sesuai dengan laju perkembangan era globalisasi. Niali lebih dari model ini adalah materi untuk tiap mata pelajaran tetap murni sehingga siswa yang mempunyai tingkat pemikiran superordinat memiliki kekuatan transfer pada keterampilan hidup.

Kelemahan model ini antara lain : Hubungan isi antar materi pelajaran tidak terlalu ditunjukkan sehingga secara eksplisit sehingga siswa kurang dapat memahami keterkaitan konten antara mata pelajaran satu dengan yang lainnya. Guru perlu memahami keterampilan dan strategi yang digunakan siswa agar dapat mengembangkan dirinya.

8. Model Keterpaduan (Integrated) adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan antar bidang studi. Model ini diusahakan dengan cara menggabungkan bidang studi dengan cara menetapkan prioritas kurikuler dan menemukan keterampilan, konsep dan sikap yang saling tumpang tindih di dalam beberapa mata pelajaran. Untuk membuat tema, guru harus menyeleksi terlebih ahulu konsep dari beberapa mata pelajaran, selanjutnya dikaitkan dalam satu tema untuk memayungi beberapa mata pelajaran, dalam satu paket pembelajaran bertema.

Keunggulan model ini adalah : siswa merasa senang dengan adanya keterkaitan dan hubungan timbale balik antar berbagai disiplin ilmu, memperluas wawasan dan apresiasi guru, jika dapat diterapkan dengan baik maka dapat dijadikan model pembelajaran yang ideal di lingkungan sekolah “integrated day”

Kelemahan model ini adalah : sulit mencari keterkaitan antara mata pelajaran yang satu dengan yang lainnya, juga mencari keterkaitan aspek keterampilan yang terkait. Dibutuhkan banyak waktu pada beberapa mata pelajaran untuk didiskusikan guna mencari keterkaitan dan mencari tema.

9. Model Terbenam (Immersed) adalah model pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran dalam satu proyek. Misalnya seorang mahasiswa yang memperdalam ilmu kedokteran maka selain Biologi, Kimia, Komputer, juga harus mempelajari fisika dan setiap mata pelajaran tersebut ada kesatuannya. Model ini dapat pula diterapkan pada siswa SD, SMP, maupun SMU dalam bentuk proyek di akhir semester.

Keunggulan model ini adalah ; setiap siswa mempunyai ketertarikan mata pelajaran yang berbeda maka secara tidak langsung siswa yang lain akan belajar dari siswa lainnya. Mereka terpacu untuk dpat menghubungkan mata pelajaran yang satu dengan yang lainnya. Mata pelajaran menjadi lebih terfokus dan siswa akan selalu mencari tahu apa yang menjadi pertanyaan baginya, sehingga pengalamannya menjadi lebih luas. Model ini melatih kreatifitas berfikir siswa secara bertahap dari jenjang SD hingga SMU. Bagi siswa kelas 4 SD model ini dapat dilaksanakan pada hari HUT RI. Misalnya merancang sebuah pesawat terbang yang seimbang lalu dipamerkan.

Kelemahan model ini antara lain : siswa yang tidak senang membaca akan mendapat kesulitan utnuk mengerjakan proyek ini, sehingga siswa menjadi kehilangan minat belajar. Guru perlu waktu untuk mengorganisir semua kegiatan proyek yang dilaksanakan oleh siswa yang tersususn secara baik dan terencana sebelumnya.

10. Model Jaringan Kerja (Networking) adalah model pembelajaran berupa kerjasama antara siswa dengan seorang ahli dalam mencari data, keterangan, atau lainnya sehubungan dengan mata pelajaran yang disukainya atau yang diminatinya sehingga siswa secara tidak langsung mencari tahu dari berbagai sumber. Sumber dapat berupa buku bacaan, internet, saluran radio, TV, atau teman, kakak, orangtua atau guru yang dianggap ahli olehnya. Siswa memperluas wawasan belajarnya sendiri artinya siswa termotivasi belajar karena rasa ingin tahunya yang besar dalam dirinya.

Keunggulan model ini : siswa memperluas wawasan pengetahuan pada satu atau dua mata pelajaran secara mendalam dan sempit sararannya. Hal ini umumnya muncul secara tidak sengaja selama proses pembelajaran di kelas sedeng berlangsung.

Kelemahan model ini adalah : kemnkinan motivasi siswa akan berubah sehingga kedalaman materi pelajaran menjadi dangkal secara tidak sengaja karena mendapat hambatan dalam mencari sumber.

Secara umum pembelajaran terpadu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam hal implementasinya. Adapun kelebihan pembelajaran terpadu adalah :

  1. Pengalaman dan kegiatan belajar anaka akan selalu relevan dengan tingkat pekembangan anak
  2. Kegiatan yang dipilih sesuai dengan dan bertolak dari minat dan kebutuhan anak
  3. Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi anak sehingga hasil belajar akan dapat bertahan lebih lama.
  4. Pembelajaran terpadu menumbuhkembangkan keterampilan berfikir anak.
  5. Menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang ditemui dalam lingkungan anak.
  6. Menumbuhkembangkan keterampilan social anak seperti kerjasama, toleransi, komunikasi dan menghargai gagasan orang lain.

Kelemahan pembelajaran terpadu antara lain dalam hal evaluasi. Aspek evaluasi yang lebih banyak menuntut guru untuk melakukannya tidak hanya terhadap hasil melainkan juga terhadap proses. Oleh karena itu pemebelajaran terpadu evaluasinya lebih beragam

Pembelajaran Tematik Pada Jenjang Sekolah Dasar

A. Pengertian Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema-tema tertentu. Dalam pembahasannya tema itu ditinjau dari berbagai mata pelajaran. Sebagai contoh, tema “Air” dapat ditinjau dari berbagai mata pelajaran seperti IPA, IPS, Matematika, bahasa dan seni , bahkan dapat pula ditinjau dari mata pelajaran agama dan PJOK.

Berdasarkan beberapa model pembelajaran terpadu di atas, dapat digunakan beberapa model pembelajaran yang menggunakan pendekatan tematik pada jenjang sekolah dasar. Model yang biasa digunakan adalah model jaring laba-laba (spider webb) dan model keterpaduan (integrated).

Pembelajaran tematik menyediakan keluasan dan kedalaman implementasi kurikulum, menawarkan kesempatan yang sangat banyak pada siswa untuk memunculkan dinamika dalam pendidikan. Unit yang tematik adalah epitome dari seluruh bahasan pembelajaran yang memfasilitasi siswa untuk secara produktif menjawab pertanyaan yang dimunculkan sendiri dan memuaskan rasa ingin tahu dengan penghayatan secara alamiah tentang dunia di sekitar mereka.

Keuntungan pembelajaran tematik bagi guru antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Tersedia waktu lebih banyak untuk pembelajaran.
  2. Materi pelajaran tidak dibatasi oleh jam pelajaran, melainkan dapat dilanjutkan sepanjang hari, mencakup berbagai mata pelajaran.
  3. Hubungan antar mata pelajaran dan topik dapat diajarkan secara logis dan alami. Dapat ditunjukkan bahwa belajar merupakan kegiatan yang kontinyu, tidak terbatas pada buku paket, jam pelajaran, atau bahkan empat dinding kelas.
  4. Guru dapat membantu siswa memperluas kesempatan belajar ke berbagai aspek kehidupan. Guru bebas membantu siswa melihat masalah, situasi, atau topik dari berbagai sudut pandang.
  5. Pengembangan masyarakat belajar terfasilitasi. Penekanan pada kompetisi bisa dikurangi dan diganti dengan kerja sama dan kolaborasi.

Keuntungan pembelajaran tematik bagi siswa antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Bisa lebih memfokuskan diri pada proses belajar, daripada hasil belajar.
  2. Menghilangkan batas semu antar bagian-bagian kurikulum dan menyediakan pendekatan proses belajar yang integratif.
  3. Menyediakan kurikulum yang berpusat pada siswa – yang dikaitkan dengan minat, kebutuhan, dan kecerdasan; mereka didorong untuk membuat keputusan sendiri dan bertanggung jawab pada keberhasilan belajar.
  4. Merangsang penemuan dan penyelidikan mandiri di dalam dan di luar kelas.
  5. Membantu siswa membangun hubungan antara konsep dan ide, sehingga meningkatkan apresiasi dan pemahaman.

B. Kaitan Pembelajaran Tematik dengan Standar Isi dalam KTSP

Dalam kerangka dasar dan struktur kurikulum yang dikeluarkan . Badan Standar Nasional Pendidikan, dijelaskan bahwa untuk kelas I, II, dan III SD pembelajaran dilaksanakan melalui pendekatan tematik. Mata pelajaran yang harus dicakup adalah (1) pendidikan agama, (2) pendidikan kewarganegaraan, (3) bahasa Indonesia, (4) matematika, (5) ilmu pengetahuan alam, (6) ilmu pengetahuna sosial, (7) seni budaya dan keterampilan, dan (8) pendidikan jasmani, olah raga dan kesehatan.

Dalam pembelajaran tematik, standar kompetensi dan kompetensi dasar yang termuat dalam standar isi harus dapat tercakup seluruhnya karena sifatnya masih minimal. Sesuai dengan petunjuk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), standar itu dapat diperkaya dengan muatan lokal atau ciri khas satuan pendidikan yang bersangkutan.

C. Cara Merancang Pembelajaran Tematik

Dalam pelaksanaan pembelajaran tematik, perlu dilakukan beberapa hal yang meliputi tahap perencanaan yang mencakup kegiatan pemetaan kompetensi dasar, pengembangan jaringan tema, pengembangan silabus dan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran.

Pemetaan Kompetensi Dasar

Kegiatan pemetaan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh semua standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator dari berbagai mata pelajaran yang dipadukan dalam tema yang dipilih. Kegiatan yang dilakukan adalah:

1. Penjabaran Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ke dalam indikator

Melakukan kegiatan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar dari setiap mata pelajaran ke dalam indikator. Dalam mengembangkan indikator perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran Dirumuskan dalam kata kerja oprasional yang terukur dan/atau dapat diamati

2. Menentukan tema

Cara penentuan tema

Dalam menentukan tema dapat dilakukan dengan dua cara yakni, cara pertama, mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam masing-masing mata pelajaran, dilanjutkan dengan menentukan tema yang sesuai. Cara kedua, menetapkan terlebih dahulu tema-tema pengikat keterpaduan, untuk menentukan tema tersebut, guru dapat bekerjasama dengan peserta didik sehingga sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.

Prinsip Penentuan tema

Dalam menetapkan tema perlu memperhatikan beberapa prinsip yaitu: 1) Memperhatikan lingkungan yang terdekat dengan siswa: 2) Dari yang termudah menuju yang sulit; 3)Dari yang sederhana menuju yang kompleks; 4) Dari yang konkret menuju ke yang abstrak.

Tema yang dipilih harus memungkinkan terjadinya proses berpikir pada diri siswa Ruang lingkup tema disesuaikan dengan usia dan perkembangan siswa,termasuk minat, kebutuhan, dan kemampuannya

Topik untuk pembelajaran tematik dapat berasal dari beberapa sumber. Misalnya topik-topik dalam kurikulum, isu-isu , masalah-masalah , event-event khusus, minat siswa serta dari berbagai literatur yang relevan.

Menurut Hilda Karli (2003;63) dalam memilih tema, perlu diperhatikan beberapa aspek seperti :

a. tema hendaknya tidak terlalu luas, namun dengan mudah dapat digunakan untuk memadukan banyak bidang studi

b. tema harus bermakna, maksudnya bahwa tema yang dipilih untuk dikaji harus memberikan bekal bagi siswa untuk belajar selanjutnya

c. tema harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan psikologis anak

d. tema yang dikembangkan harus mampu mewadahi sebagaian besar minat anak

e. tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan peristiwa-peristiwa otentik yang terjadi di dalam rentang waktu belajar

f. tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan kurikulum yang berlaku serta harapan masyarakat

g. tema yang dipilih hendaknya juga mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar

3. Identifikasi dan analisis Standar Kompetensi, Kompetensi dasar dan Indikator

Lakukan identifikasi dan analisis untuk setiap Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan indikator yang cocok untuk setiap tema sehingga semua standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator terbagi habis

C. Menetapkan Jaringan Tema

Buatlah jaringan tema yaitu menghubungkan kompetensi dasar dan indikator dengan tema pemersatu. Dengan jaringan tema tersebut akan terlihat kaitan antara tema,kompetensi dasar dan indikator dari setiap mata pelajaran. Jaringan tema ini dapat dikembangkan sesuai dengan alokasi waktu setiap tema.

Pengorganisasian tema dilakukan dengan menggunakan jaringan topik,

seperti contoh berikut ini.

Untuk merencanakan suatu model pembelajaran tematik, sebaiknya siswa dilibatkan dalam memilih tema atau kegiatan yang akan dilakukan, kecuali untuk kelas-kelas rendah (kelas1-3). Collin dan Dixon dalam Integrated Learning (1991;13) mengungkapkan bagaimana tahapan untuk merencanakan suatu model pembelajaran terpadu yang juga dapat diterapkan pada pendekatan tematik ini.


Gambar tahapan perencanaan model pembelajaran terpadu

D. Penyusunan Silabus

Hasil seluruh proses yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya dijadikan dasar dalam penyusunan silabus. Komponen silabus terdiri dari standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, pengalaman belajar, alat/sumber, dan penilaian.

E. Penyusunan Rencana Pembelajaran

Untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran guru perlu menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. Rencana pembelajaran ini merupakan realisasi dari pengalaman belajar siswa yang telah ditetapkan dalam silabus pembelajaran. Komponen rencana pembelajaran tematik meliputi:

  1. Identitas mata pelajaran (nama mata pelajaran yang akan dipadukan, kelas, semester, dan waktu/banyaknya jam pertemuan yang dialokasikan).
  2. Kompetensi dasar dan indikator yang akan dilaksanakan.
  3. Materi pokok beserta uraiannya yang perlu dipelajari siswa dalam rangka mencapai kompetensi dasar dan indikator.
  4. Strategi pembelajaran (kegiatan pembelajaran secara konkret yang harus dilakukan siswa dalam berinteraksi dengan materi pembelajaran dan sumber belajar untuk menguasai kompetensi dasar dan indikator, kegiatan ini tertuang dalam kegiatan pembukaan, inti dan penutup).
  5. Alat dan media yang digunakan untuk memperlancar pencapaian kompetensi dasar, serta sumber bahan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran tematik sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai.
  6. Penilaian dan tindak lanjut (prosedur dan instrumen yang akan digunakan untuk menilai pencapaian belajar peserta didik serta tindak lanjut hasil penilaian).

F. Mengumpulkan Bahan dan Sumber

Pembelajaran tematik berbeda dengan pembelajaran berdasarkan buku paket tidak hanya dalam mendesain, melainkan juga berbagai bahan yang digunakan. Sumber yang digunakan dalam pembelajaran tematik antara lain ; Sumber-sumber yang tercetak, Sumber-sumber visual, Sumber-sumber literatur serta Artifac .

G. Mendesain Kegiatan dan Proyek

Dalam beberapa literatur, desain kegiatan pembelajaran tematik hendaknya memperhatikan aspek berikut ini :

a. Integrasikan bahasa – membaca, menulis, berbicara, dan mendengar.

b. Hendaknya bersifat holistik.

c. Tekankan pada pada pendekatan “hands-on, minds-on”.

d. Sifatnya lintas kurikulum.

H. Mengimplementasikan Pembelajaran Tematik

Beberapa kemungkinan implementasi pembelajaran tematik pada jenjang sekolah dasar:

a. Lakukan pembelajaran tematik sepanjang hari, untuk beberapa hari.

b. Lakukan pembelajaran tematik selama setengah hari untuk beberapa hari.

c. Gunakan pembelajaran tematik untuk satu atau dua mata pelajaran.

d. Gunakan pembelajaran tematik untuk beberapa mata pelajaran.

e. Gunakan pembelajaran tematik untuk kegiatan lanjutan.

KESIMPULAN

Pembelajaran terpadu atau integrated learning merupakan suatu konsep yang dapat dikatakan sebagai pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Pada dasarnya model pembelajaran terpadu merupakan system pembelajaran yang memungkinkan siswa baik individual maupun kelompok aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistic, bermakna dan otentik.

Menurut Fogarty dalam bukunya How to Integrate the Curricula , ada 10 macam model pembelajaran terpadu, seperti : fragmented (penggalan), connected (keterhubungan), nested (sarang), sequenced (pengurutan), shared (irisan), webbed (jarring laba-laba), threaded (bergalur), integrated (terpadu), immersed (terbenam), dan networked (jaringan kerja).

Berdasarkan beberapa model pembelajaran terpadu di atas, dapat digunakan beberapa model pembelajaran yang menggunakan pendekatan tematik pada jenjang sekolah dasar. Model yang biasa digunakan adalah model jaring laba-laba (spider webb) dan model keterpaduan (integrated).

Pembelajaran tematik menyediakan keluasan dan kedalaman implementasi kurikulum, menawarkan kesempatan yang sangat banyak pada siswa untuk memunculkan dinamika dalam pendidikan. Unit yang tematik adalah epitome dari seluruh bahasan pembelajaran yang memfasilitasi siswa untuk secara produktif menjawab pertanyaan yang dimunculkan sendiri dan memuaskan rasa ingin tahu dengan penghayatan secara alamiah tentang dunia di sekitar mereka.

Dalam pelaksanaan pembelajaran tematik, perlu dilakukan beberapa hal yang meliputi tahap perencanaan yang mencakup kegiatan pemetaan kompetensi dasar, pengembangan jaringan tema, pengembangan silabus dan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran.

Kepiawaian dan kreatifitas guru dalam menentukan tema dan merancang kegiatan pembelajaran adalah sarat mutlak bagi keberhasilan pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah dasar.