Laman

Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan

06 Februari 2012

Keterampilan Proses Sains

Keterampilan Proses Sains Bagi Siswa SD Kelas Rendah
By: Sri Hendrawati, M.Pd

Semiawan (1992) mengatakan bahwa keterampilan proses adalah keterampilan siswa untuk mengelola hasil yang didapat dalam kegiatan belajar mengajar yang memberi kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk mengamati, menggolongkan, menafsirkan, meramalkan, menerapkan, merencanakan penelitian dan mengkomunikasikan hasil perolehannya tersebut.

Keterampilan proses sains adalah keterampilan intelektual yang khas yang digunakan oleh semua ilmuwan serta dapat digunakan untuk memahami fenomena apa saja, dimana keterampilan ini diperlukan untuk memperoleh, mengembangkan dan menerapkan konsep-konsep, prinsip hukum dan teori-teori sains. Melalui keterampilan proses sains ini siswa diharapkan dapat mengalami proses sebagaimana yang dialami para ilmuan dalam memecahkan misteri-misteri alam dan akan menjadi roda penggerak penemuan, pengembangan fakta dan konsep serta penumbuhan dan pengembangan sikap, wawasan dan nilai.

Menurut Gega (1977) untuk membantu menumbuhkan kemampuan berpikir siswa dalam memahami IPA dibutuhkan sedikitnya enam keterampilan proses sains yang perlu dikembangkan dalam proses pembelajaran, yaitu : mengamati (observing), mengelompokkan (classifying), mengukur (measuring), mengkomunikasikan (communicating), membuat kesimpulan sementara (inferring), dan melakukan eksperimen (experimenting).

Senada dengan apa yang dikemukakan oleh Gega (1977), Bergman dan Jacobsons (1980) mengemukakan bahwa keterampilan proses sains perlu dikembangkan untuk mendukung pembelajaran inkuiri dalam IPA. Terdapat beberapa keterampilan proses sains yang sangat penting untuk dikuasai oleh siswa, yaitu: observation, sorting, classification, serial ordering, operational definition, dan communication. Lebih lanjut, dikemukakan pula bahwa pembelajaran inkuiri dalam IPA menuntut siswa untuk memiliki kemampuan Matematika dan kemampuan membaca. Pembelajaran IPA menyediakan wahana belajar bagi siswa untuk melakukan banyak aktivitas konkrit dan langsung yang membutuhkan kemampuan Matematika dan bahasa yang baik demi tercapainya tingkat pemahaman siswa terhadap konsep atau materi IPA yang dipelajari (Bergman dan Jacobsons, 1980).

Menurut Standar Isi Permendiknas No.22 tahun 2006 mengenai kurikulum IPA, dikemukakan bahwa pembelajaran IPA pada jenjang sekolah dasar sebaiknya dilakukan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry). Hal ini menempatkan inkuiri menjadi hal yang fundamental dalam proses pembelajaran IPA. Pembelajaran inkuiri dalam IPA dapat dilaksanakan bersamaan dengan pengembangan aspek keterampilan proses sains. Namun, sangat disayangkan bahwa dalam standar isi tidak mencantumkan kemampuan inkuiri dan keterampilan proses apa yang sebaiknya dikembangkan dalam pembelajaran IPA pada jenjang sekolah dasar.

Hal ini berbeda dengan kondisi di beberapa negara maju yang mencantumkan standar kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa berkenaan dengan kemampuan inkuiri. Misalnya saja, kurikulum National Academy of Science yang memberikan batasan/standar kompetensi kemampuan inkuiri yang harus dimiliki siswa. Disebutkan bahwa kemampuan inkuiri siswa pada jenjang TK sampai SD kelas 4, adalah: (1) kemampuan untuk mengajukan pertanyaan mengenai objek, organisme, dan peristiwa yang terjadi dalam lingkungan, (2) merencanakan dan melakukan penyelidikan sederhana, (3) menggunakan peralatan sederhana untuk mengumpulkan data, (4) menggunakan data untuk memberikan penjelasan yang rasional mengenai hasil temuan, dan yang terakhir, (5) mengkomunikasikan hasil penelitian dengan penjelasannya. Kelima standar ini berimplikasi bahwa pembelajaran inkuiri ini harus pula mengembangkan aspek keterampilan proses IPA dalam proses pembelajaran. Begitu banyak interpretasi mengenai keterampilan proses sains yang sebaiknya dikembangkan dalam pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar. Harlen dan Jelly (1997) mengemukakan bahwa terdapat tujuh aspek fundamental yang harus dimiliki siswa, yaitu observing, questioning, hypothesizing, predicting, investigating, interpreting dan communicating.
Untuk memahami keterampilan proses yang mana yang cocok untuk dikembangkan bagi siswa SD, sebaiknya disesuaikan dengan karakteristiknya terutama usia. Pendekatan Developmentally Appropriate Practice (DAP) dalam pembelajaran IPA menjadi sangat penting untuk dijadikan pertimbangan dalam mendesain sebuah pembelajaran IPA. Menurut Charlesworth & Lind. (1999), pengembangan keterampilan proses sains dapat dilakukan dengan mengacu pada pendekatan DAP. Terdapat tiga tahapan pengembangan keterampilan proses sains, yaitu: pertama, tahap Basic (Dasar) yang diperuntukkan bagi anak usia 5 tahun ke atas yang mengembangkan lima buah keterampilan proses sains tingkat dasar, yaitu mengamati, membandingkan, mengelompokkan, mengukur dan mengkomunikasikan. Kedua, tahap intermediate yang diperuntukkan bagi anak pada rentang usia 9-11 tahun yang mengembangkan 2 aspek keterampilan proses sains, yaitu memprediksi dan melakukan inferring (pengambilan kesimpulan). Tahapan ketiga, adalah tahap advanced yang diperuntukkan bagi anak usia 12 tahun ke atas yang mengembangkan dua aspek keterampilan proses sains, yaitu merumuskan hipotesis dan keterampilan menggunakan dan mengontrol variabel.

Hal ini senada dengan pendapat Semiawan (1992) bahwa penerapan keterampilan proses harus disesuaikan dengan taraf perkembangan anak sejalan dengan hasil penelitian dalam psikologi belajar. Untuk siswa SD kelas rendah (kelas I-kelas III), aspek keterampilan proses yang dapat dikembangkan adalah komunikasi dan observasi, yang didalamnya termasuk pula aspek keterampilan klasifikasi (mengelompokkan dan membandingkan), perhitungan, dan pengukuran.

Mulyani (2001) mengemukakan bahwa implementasi keterampilan proses dalam suatu proses pembelajaran dapat dikembangkan secara terpadu, yakni antara satu keterampilan dengan keterampilan lainnya sekaligus terjawantahkan. Lebih lanjut dikemukakan bahwa seorang guru dapat pula memberikan perhatian terhadap satu jenis keterampilan yang dikembangkan meskipun pada kenyataannya tidak akan pernah lepas dari keterkaitannya dengan keterampilan lainnya. Selain itu, dapat juga untuk jenis-jenis keterampilan tertentu dipandang belum memadai untuk diimplementasikan pada peserta didik yang duduk dikelas rendah (kelas I-III), seperti halnya keterampilan proses yang termasuk kelompok keterampilan terintegrasi.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas, maka dapat ditentukan jenis keterampilan proses sains yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran pada kelas rendah, terutama dalam hal ini kelas II. Berikut ini adalah jenis keterampilan proses yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran beserta indikatornya, yaitu :

  1. Mengamati (Observing), menggunakan panca indera untuk mengumpulkan data dan menggunakan fakta yang relevan.
  2. Membandingkan (Comparing & Contrasting), menemukan persamaan dan perbedaan dari objek yang diamati.
  3. Mengelompokkan (Classifying), menghubungkan hasil pengamatan, mengontraskan ciri-ciri serta mencari dasar pengelompokkan.
  4. Mengukur (Measuring), menggunakan alat bantu pengukuran baku (satuan panjang, waktu, berat) untuk mengukur suatu objek pada saat kegiatan pengamatan secara kuantitatif
  5. Mengkomunikasikan (Communicating), mengemukakan ide atau gagasan secara lisan maupun tulisan, membaca diagram, gambar, tabel, serta mendiskusikan hasil kegiatan atau pengamatan terhadap suatu peristiwa.

Keterampilan proses sains tidak hanya dikembangkan dalam pembelajaran IPA, keterampilan ini merupakan bagian penting dari berbagai mata pelajaran lainnya seperti Matematika dan Bahasa. Sejumlah penelitian mengindikasikan bahwa keterpaduan antara pembelajaran sains dengan membaca dan Matematika telah menghasilkan dampak positif bagi siswa. Dalam artikel yang berjudul “Science Process Skills, How can teaching science process skills improve student performance in reading, language arts, and mathematics?”, Dr.Karen Ostlund (EJSE, 1998) mengemukakan beberapa hasil penelitian mengenai hubungan antara keterampilan proses sains dengan perkembangan bahasa dan Matematika sebagai berikut:

1) Hubungan antara Kegiatan membaca dan KPS

  • Penelitian menunjukkan bahwa pengalaman langsung dalam pembelajaran sains dimana salah satunya siswa berinteraksi secara langsung dengan material/bahan belajar dapat menjadi sarana atau memfasilitasi perkembangan kemampuan berbahasa siswa (Wellman, 1978). Kegiatan membaca dan aktivitas sains menekankan pada kemampuan berpikir dan keduanya melibatkan proses berpikir. Ketika guru membantu siswa mengembangkan keterampilan proses sains, proses membaca secara simultan juga turut dikembangkan (Mechling & Oliver, 1983 and Simon & Zimmerman, 1980).
  • Kegiatan hands-on untuk memberikan pengalaman langsung bagi siswa dalam sains adalah kunci bagi hubungan antara keterampilan proses baik dalam sains maupun dalam kegiatan membaca (Lucas & Burlando, 1975).
  • Keterampilan proses sains merupakan pendamping kegiatan membaca. Misalnya ketika guru menjelaskan tentang sains, maka siswa belajar untuk menentukan karakteristik yang penting, menyebut satu persatu karakteristik, menggunakan istilah yang sesuai, dan menggunakan sinonim yang tepat yang merupakan keterampilan membaca yang penting (Carter & Simpson, 1978).
  • Ketika siswa menggunakan keterampilan proses sains mengamati, mengidentifikasi, dan mengklasifikasikan, mereka dapat membedakan antara vocal dan konsonan dan belajar mengenai bunyi huruf, kata dan kalimat. (Murray & Pikul ski, 1978).
  • Keterlibatan siswa dalam keterampilan proses memudahkan siswa untuk mengenali kata kunci secara kontekstual dan terstruktur dan memudahkan siswa menginterpretasikan data dalam paragraf. Keterampilan proses sains penting bagi berpikir logis dan menjadi pondasi untuk kemampuan dasar belajar membaca siswa (Barufaldi & Swift, 1977).
  • Pembelajaran sains menyediakan alternatif strategi mengajar yang dapat memotifasi siswa yang mengalami kesulitan dalam membaca (Wellman, 1978).
  • Guszak mengemukakan bahwa kesiapan membaca adalah kemampuan yang kompleks. Dari tiga kemampuan kompleks tersebut, dua diantaranya dapat dipengaruhi secara langsung dengan keterampilan proses, yaitu: faktor fisik (kesehatan, pendengaran, penglihatan, berbicara dan motorik); dan faktor pemahaman (konsep, proses). Ketika siswa melihat, mendengar dan berbicara tentang pengalaman sains, pemahaman dan persepsi siswa terhadap konsep dan proses dapat improve (Barufaldi & Swift, 1977 and Bethel, 1974).
  • Program sains yang mengembangkan pengalaman hands on dapat meningkatkan perkembangan keterampilan proses anak-anak. Pencapaian keterampilan proses yang dikembangkan dengan pengalaman sains memiliki korelasi yang positif dengan perkembangan kesiapan membaca (Nicodemus, 1968).
  • Penelitian tentang hubungan antara menulis kreatif dan pengalaman sains menunjukkan bahwa ketika siswa menulis bahan bacaannya sendiri, maka skor menulis siswa mengalami peningkatan secara signifikan (Jenkins, 1981).
  • Data di sebuah sekolah menunjukkan peningkatan kemampuan komunikasi oral siswa yang signifikan ketika mereka berpartisipasi dalam penelitian Peningkatan kurikulum sains dan pendekatan keterampilan proses sains. Peningkatan kemampuan siswa yang menggunakan pendekatan keterampilan proses lebih baik dalam tes bahasa, meliputi kosakata, struktur kalimat, dan kemampuan mengklasifikasi, menyampaikan dan menerima kemampuan komunikasi secara oral (Bethel, 1974).

2) Hubungan antara Matematika dan KPS

  • Sains dan Matematika memiliki keterpaduan. Matematika secara luas dapat diartikan sebagai bahasa sains. Perkembangan kemampuan logika Matematika dan pemecahan masalah adalah tujuan pembelajaran sains dan Matematika. (National Council of Teachers of Mathematics, 1980 and National Science Teachers Association, 1964 & 1983).
  • Sains dan Matematika saling menguatkan, dengan cara memfasilitasi perkembangan kognitif menjadi lebih baik (Almy, 1966).
  • Penelitian menunjukkan bahwa keragaman pengalaman sains dapat memfasilitasi perkembangan kognitif siswa dari satu level ke level selanjutnya. Hubungan antara Matematika dan sains diperkuat dengan fakta bahwa pencapaian dalam Matematika berhubungan dengan tingkatan perkembangan kognitif (Stafford & Renner, 1976).
  • Melibatkan siswa dalam kegiatan hands-on dimana siswa menghitung dan memanipulasi objek, menyediakan pengalaman yang berkontribusi bagi pemahaman mereka terhadap angka/bilangan. Dengan demikian, pengalaman sains memberikan manfaat bagi perkembangan dasar Matematika dalam hal operasi Matematika, diantaranya menghitung lebar permukaan, korespondensi satu-satu, mengurutkan dan mengklasifikasikan (Campbell, 1972).
  • Kontribusi pengalaman sains bagi perkembangan kemampuan operasi Matematika diperkuat oleh penelitian. Dalam sebuah penelitian tentang hubungan antara kemampuan siswa dalam memahami bilangan dalam pembelajaran Matematika-sains menunjukkan bahwa siswa yang memiliki kemampuan tersebut lebih berhasil menguasai konsep dan proses Matematika dibandingkan siswa yang hanya menerima program pengajaran Matematika saja (Almy, 1966). Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa pengalaman sains tidak hanya meningkatkan kemampuan siswa Taman Kanak-kanak (TK) dan siswa SD kelas 1 saja, melainkan dapat memfasilitasi perpindahan dari tingkatan perkembangan kognitif pada siswa pada jenjang kelas yang lebih tinggi (Froit, 1976 and Tipps, 1982).
  • Penelitian menunjukkan bahwa sains dapat digunakan untuk memperluas pendekatan mengajar pemecahan masalah dalam Matematika. Dengan berusaha untuk mengungkapkan masalah sains dalam kehidupan sehari-hari adalah upaya yang potensial untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa, dan memberikan manfaat bagi siswa untuk memecahkan masalah dalam berbagai keadaan.(Coffia, 1971 & Shann, 1977).
  • Melalui pengalaman sains, siswa dapat mengaplikasikan Matematika ke dalam masalah kehidupan sehari-hari. Pada tingkatan sekolah dasar, guru dapat menyediakan pengalaman hands-on dan kegiatan sains yang memfasilitasi pembelajaran konsep aritmetika seperti pengurutan, pengelompokkan dan pecahan (Mechling & Oliver, 1983).

07 Desember 2011

Artikel Sains

BAHAN AJAR BERORIENTASI LITERASI SAINS
Sumber: Membangun Literasi Sains Peserta Didik
(Uus Toharudin, dkk. 2011)

A.Bahan Ajar Berorientasi Literasi Sains

Terdapat dua pengertian mendasar yang harus dipahami mengenai Bahan Ajar Berorientasi Literasi sains, pertama literasi sains, dan yang kedua adalah adalah bahan ajar. Keduanya saling berhubungan, dalam pembelajaran di sekolah pada umumnya literasi sains berkaitan dengan penggunaan bahan ajar yang digunakan, keadaan bahan ajar menjadi sangat penting untuk dicermati (Toharuddin, et.al:2011).
Secara harfiah literasi sains berasal dari dua padanan kata yaitu literasi dan sains. Literasi berasal dari kata literacy yang berarti melek huruf atau gerakan pemberantasan buta huruf (Echols dan Shadilly, 1990). Sains berarti ilmu pengetahuan. Sains merupakan sekelompok pengetahuan tentang objek dan fenomena alam yang diperoleh dari pemikiran dan penelitian para ilmuwan yang dilakukan dengan keterampilan bereksperimen menggunakan metode ilmiah (Pudjiadi,1987). C.E de Boer (1991) menyatakan bahwa orang yang pertama menggunakan istilah literasi sains adalah Paul de Hart Hurt dari Stanford University yang menyatakan Scientific Literacy berarti memahami sains dan aplikasinya bagi kebutuhan masyarakat. Poedjiadi (2005) menyatakan literasi sains dan teknologi adalah suatu kebutuhan dan tantangan, karena keduanya memainkan peranan penting dalam kehidupan, terutama untuk meningkatkan kualitas kehidupan.

Bahan ajar atau materi pembelajaran secara garis besar terdiri atas pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Secara terperinci, jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap atau nilai. Bahan ajar atau materi pelajaran sains tidak hanya merupakan sekumpulan fakta, konsep, prosedur serta pengetahuan yang bersifat metakognitif semata. Bahan ajar sains yang diperlukan oleh siswa adalah bahan ajar yang dapat memenuhi kebutuhannya dalam usaha menguasai materi pelajaran dan kompetensi yang berkaitan dengan literasi sains harus dimilikinya.

Tujuan pendidikan sains adalah meningkatkan kompetensi siswa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam berbagai situasi, yaitu untuk belajar lebih lanjut dan hidup di masyarakat yang dipengaruhi oleh perkembangan sains dan teknologi, sehingga siswa dapat berguna bagi dirinya sendiri dan masyarakat. Menurut Suhendra Yusuf (2003), literasi sains penting untuk dikuasai siswa dalam kaitannya dengan bagaimana siswa dapat memahami lingkungan hidup, kesehatan, ekonomi, dan masalah-masalah lain yang dihadapi oleh masyarakat modern yang sangat tergantung pada teknologi dan kemajuan serta perkembangan ilmu pengetahuan.

Ciri-ciri yang menunjukkan bahwa seseorang memiliki literasi sains menurut Poedjiadi (2005: 102-103). Pertama, ia menggunakan konsep sains-konsep sains, keterampilan proses dan nilai apabila mengambil keputusan yang bertanggungjawab dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, ia mengetahui bagaimana masyarakat mempengaruhi sains dan teknologi serta bagaimana sains dan teknologi mempengaruhi masyarakat. Ketiga, ia mengetahui bahwa masyarakat mengontrol sains dan teknologi melalui pengelolaan sumber daya alam. Keempat, ia menyadari keterbatasan dan kegunaan sains dan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Kelima, ia memahami sebagian besar konsep-konsep sains, hipotesis dan teori sains dan mampu menggunakannya. Keenam, ia menghargai sains dan teknologi sebagai stimulus intelektual yang dimilikinya. Ketujuh, ia mengetahui bahwa pengetahuan ilmiah tergantung pada proses-proses inkuari dan teori-teori. Kedelapan, ia membedakan antara fakta-fakta ilmiah dan opini pribadi. Kesembilan, ia mengakui asal usul sains dan mengetahui bahwa pengetahuan ilmiah adalah tentatif. Kesepuluh, ia mengetahui aplikasi teknologi dan pengambilan keputusan menggunakan teknolog. Kesebelas, ia memiliki pengetahuan dan pengalaman cukup untuk memberi penghargaan pada penelitian dan pengembangan teknologi. Keduabelas, ia mengetahui sumber-sumber informasi dari sains dan teknologi yang dipercaya dan menggunakan sumber-sumber tersebut dalam pengambilan keputusan.

Setelah memahami karakteristik orang yang memiliki literasi sains, maka para praktisi dapat menentukan arah pendidikan sains dan bagaimana menciptakan sebuah kondisi agar penguasaan literasi sains oleh siswa tersebut dapat terwujud.

B.Dimensi Pokok Bahan Ajar untuk Mengembangkan Literasi Sains
Bahan ajar berbasis literasi sains merupakan perpaduan dari dua dimensi pokok, yaitu dimensi pengetahuan dan dimensi literasi sains.

1. Dimensi Pengetahuan sebagai Bahan Ajar Sains
Terdapat empat macam dimensi pengetahuan yang merupakan materi pembelajaran, yaitu pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan metakognitif. Jenis-jenis pengetahuan tersebut pada dasarnya menunjukkan penjenjangan dari yang sifatnya konkrit hingga yang sifatnya abstrak (metakognitif).

a.Pengetahuan Faktual (Factual Knowledge) adalah pengetahuan yang merupakan potongan-potongan informasi yang masih terpisah atau disebut juga unsur dasar dalam suatu disiplin ilmu tertentu, yang terdiri dari pengetahuan tentang terminologi dan pengetahuan tentang bagian detail dan unsur-unsur. Contoh pengetahuan faktual antara lain adalah nama tempat, tanggal kejadian, nama tokoh, peristiwa penting.

b.Pengetahuan Konseptual (Conceptual Knowledge) adalah pengetahuan yang menunjukkan saling keterkaitan antara unsur-unsur dasar dalam struktur yang lebih besar dan semuanya memiliki fungsi yang bekerja secara bersama-sama. Ada tiga macam pengetahuan konseptual, yaitu pengetahuan tentang klasifikasi dan kategori, pengetahuan tentang prinsip dan generalisasi, serta pengetahuan tentang teori, model, dan struktur.

c.Pengetahuan Prosedural (Prosedural Knowledge) adalah pengetahuan tentang bagaimana mengerjakan sesuatu, baik yang bersifat rutin maupun yang baru. Biasanya pengetahuan prosedural berisi langkah-langkah atau tahapan yang harus diikuti dalam mengerjakan suatu hal tertentu. Ada tiga jenis pengetahuan prosedural, yaitu pengetahuan tentang keterampilan khusus yang berhubungan dengan bidang tertentu dan algoritma untuk menyelesaikan suatu masalah, pengetahuan tentang teknik dan metode yang berhubungan dengan suatu bidang tertentu serta pengetahuan mengenai suatu kriteria untuk menentukan kapan suatu prosedur tepat untuk digunakan.

d.Pengetahuan metakognitif (Metakognitif knowledge) adalah pengetahuan tentang kognisi secara umum dan pengetahuan tentang diri sendiri, yang terdiri dari tiga jenis. Pertama, pengetahuan strategik mencakup pengetahuan tentang strategi umum untuk belajar, berpikir dan memecahkan masalah. Kedua, pengetahuan tentang tugas kognitif, termasuk di dalamnya pengetahuan tentang konteks dan kondisi yang sesuai. Ketiga, pengetahuan tentang diri sendiri. Contoh pengetahuan metakognitif adalah : pengetahuan tentang cara belajar dengan cara mengulang-ulang informasi, pengetahuan tentang cara memahami buku pelajaran yang lebih sulit dibandingkan memahami buku popular, serta pengetahuan mengenai kemampuan yang dimiliki dalam menyelesaikan tugas.

2.Dimensi Literasi Sains
Literasi sains merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi isu ilmiah, menjelaskan fenomena secara ilmiah, dan menggunakan bukti ilmiah. Ada tiga dimensi literasi sains, yaitu: konten, proses dan konteks.

a)Konten Literasi Sains
Dalam dimensi konsep ilmiah (scientific concepts) siswa perlu menangkap sejumlah konsep esensial untuk dapat memahami fenomena alam tertentu dan perubahan-perubahan yang terjadi akibat kegiatan manusia.

b)Proses Literasi Sains
Kemampuan untuk menggunakan pengetahuan dan pemahaman ilmiah, seperti kemampuan siswa untuk mencari, menafsirkan dan memperlakukan bukti-bukti, seperti : mengenali pertanyaan ilmiah (i), mengidentifikasi bukti (ii), menarik kesimpulan (iii), mengkomunikasikan kesimpulan (iv), dan menunjukkan pemahaman konsep ilmiah (v).

c)Konteks Literasi sains
Konteks literasi sains melibatkan isu-isu yang penting dalam kehidupan secara umum seperti juga terhadap kepedulian pribadi.
Pengetahuan Ilmiah meliputi pengetahuan sains dan pengetahuan mengenai sains. Pengetahuan sains mencakup fisika, kimia, biologi, ilmu pengeta-huan bumi antariksa, dan teknologi berbasis sains. Adapun pengetahuan mengenai sains adalah alat (inkuiri ilmiah) dan tujuan (penjelasan ilmiah). Situasi atau konteks meliputi area aplikasi konsep-konsep sains, sedangkan sikap mengindi-kasikan minat siswa pada sains, menyukai inkuiri ilmiah, motivasi untuk mau bertanggung jawab, misalnya terhadap dirinya, sumber daya alam dan lingkungan.

C.Beberapa Aspek Penting dalam Pengembangan Literasi Sains Berbasis Bahan Ajar
Materi yang terdapat dalam pelajaran sains termasuk ke dalam kurikulum kolateral. Ketuntasan siswa dalam mempelajari suatu konsep dalam mata pelajaran sains ditentukan pula oleh ketuntasan materi-materi yang merupakan kemampuan dasar yang harus dikuasai oleh siswa. Penguasaan konsep-konsep atau materi sains bagi siswa pada dasarnya tergantung pula pada penguasaan teknik dan nonteknik kebahasaan yang terdapat dalam sains (literacy science), yaitu : istilah-istilah sains, membaca bahan bacaan sains, dan mengkomunikasikan sains baik secara lisan maupun tulisan. Selain itu, hal-hal yang berdampak pada keberhasilan siswa dalam menuntaskan pelajaran adalah kebiasaan dan cara siswa belajar serta kemampuan guru dalam mengenali potensi siswa sehingga dapat menyusun, merumuskan, melaksanakan kurikulum serta melakukan evaluasi atau penilaian terhadap siswa maupun kurikulum untuk menilai tingkat pencapaian pembelajaran.

1.Aspek Pemahaman Terhadap Istilah-Istilah dalam Sains
Istilah-istilah ilmiah yang terdapat dalam sains dapat menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam memahami dan menguasai konsep sains. Ada beberapa kata yang mudah dibaca dan mudah diingat namun sulit untuk dimengerti oleh siswa, ada pula proses atau peristiwa sains yang mudah dimengerti oleh siswa namun siswa mengalami kesulitan untuk menyebutkan istilahnya. Oleh sebab itu, guru harus dapat membantu siswa untuk menentukan kata kunci atau istilah penting yang terdapat dalam bacaan.

2.Aspek Membaca dalam Sains
Kegiatan membaca secara umum terbagi menjadi empat kategori, yaitu membaca tanpa henti (continuous reading), membaca perlahan dan mempelajarinya (close reading), membaca sepintas secara cepat (skimming), mencari sebagian informasi yang dibutuhkan (scanning). Membaca dalam sains menuntut beberapa aktifitas yang sebaiknya dilakukan untuk dapat memahami isi bacaan. Seorang guru sebaiknya dapat memberikan rangsangan atau motivasi yang tinggi bagi siswa untuk membaca dan memberikan saran agar siswa dapat dengan mudah memahami apa yang dibacanya, dan bukan hanya terpaku pada kemampuan dia membaca.

3.Aspek Menulis dalam Pembelajaran Sains
Terdapat enam hal yang dapat membantu siswa berfikir secara ilmiah melalui kegiatan menulis dalam sains. Pertama, adalah ketika siswa terlatih untuk memberikan penjelasan bagaimana, yang kedua adalah ketika siswa memberikan penjelasan mengapa, hal ini tentu dapat membantu mereka menggambarkan suatu proses dan menghubungkan beberapa ide secara bersamaan yang memiliki konsep yang saling mendukung. Hal yang ketiga adalah siswa menuliskan argumennya, yang dapat membantunya mengembangkan kemampuan dalam mengemukakan ide atau gagasannya. Keempat, adalah ketika siswa memberikan gambaran kemudian membuat kesimpulan. Kelima, siswa menuliskan hasil analisisnya terhadap suatu keadaan serta keenam, yaitu membuat sebuah perencanaan , maka hal tersebut dapat membantu siswa mengembangkan kemampuannya dalam inkuri sains.

4.Aspek Berkomunikasi Secara Lisan dalam Pembelajaran Sains
Beberapa penelitian membuktikan bahwa siswa lebih banyak mendengarkan penjelasan guru namun sedikit sekali yang menggunakan waktunya untuk berdiskusi dengan teman atau gurunya. Siswa butuh kesempatan untuk dapat mengungkapkan, menjelaskan dan menunjukkan pemahamannya tentang sains dan menggunakan istilah-istilah sains yang diketahuinya secara benar. Siswa harus diberi kesempatan untuk mengembangkan pemikirannya dengan berbicara, berdiskusi, serta berbagi untuk mengungkapkan apa yang diketahuinya dan mengetahui apa yang diketahui orang lain. Peran guru dalam hal ini adalah mengorganisir serta memberikan arahan pada saat siswa melakukan diskusi agar diskusi dapat berjalan efektif.

D.Kriteria Bahan Ajar Berorientasi Literasi Sains
Pada saat menyusun dan menulis bahan ajar untuk mengembangkan literasi sains, guru atau penulis bahan ajar perlu mempertimbangkan beberapa aspek seperti berikut.

1. Sudut Pandang
Bahan ajar yang disusun sebaiknya mempunyai landasan, prinsip atau sudut pandang tertentu yang menjiwai atau melandasinya. Dalam pembelajaran sains, pemahaman seorang penulis bahan ajar mengenai hakikat sains dan literasi sains akan sangat menentukan kualitas bahan ajar yang disusunnya.

2.Tujuan Penyusunan Bahan Ajar
Penyusunan bahan ajar sebaiknya memiliki tujuan yang jelas, apakah untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, ataukah psikomotor. Bahan ajar yang disusun bertujuan untuk membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan berdasarkan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan Indikator yang dirumuskan.

3.Kejelasan dan Kebenaran Konsep
Konsep-konsep yang diuraikan dalam bahan ajar hendaknya jelas. Penjelasan mengenai suatu konsep hendaknya disesuaikan dengan tahap perkembangan siswa, oleh karena itu penulis bahan ajar sebaiknya mampu menyederhanakan suatu konsep kedalam bahasa anak dan pemahaman anak.

4.Sesuai dengan Kurikulum yang berlaku
Kurikulum adalah acuan utama dalam pengembangan bahan ajar. Dalam kurikulum disebutkan tujuan pembelajaran dalam bentuk kompetensi-kompetensi yang diharapkan dicapai oleh siswa sesudah mengalami proses pembelajaran. Dengan demikian, bahan ajar merupakan hasil analisis dan uraian lebih lanjut dari kompetensi dan merupakan kumpulan pengetahuan yang perlu diketahui siswa untuk dapat memperoleh kompetensi yang ditetapkan.

5.Menarik Minat Siswa
Bahan ajar yang disusun sebaiknya dapat menarik minat siswa yang membacanya. Ketertarikan siswa terhadap bahan ajar merupakan sebuah kekuatan yang dapat membantu tercapainya tujuan yang diharapkan.

6.Menumbuhkan Motivasi, Menstimulasi Aktivitas dan Kemampuan Berpikir Siswa
Selain menarik, bahan ajar sebaiknya dapat meningkatkan rasa keingintahuan siswa sehingga terdorong untuk mempelajarinya dan menstimulusnya untuk melakukan aktifitas pembelajaran sesuai dengan apa yang diharapkan dalam tujuan dan indikator pembelajaran.

7.Ilustratif
Ilustrasi adalah penggambaran terhadap sesuatu. Ilustrasi berfungsi untuk lebih memperjelas konsep dan dapat disajikan dalam bentuk deskripsi dan grafis. Fungsi pokok ilustrasi ialah menyederhanakan, meringkas, memperjelas, menarik/memusatkan perhatikan, menghindari kejenuhan, dan menghias ruang kosong.

8.Penggunaan Bahasa yang Komunikatif, Logis dan Sistematis
Penggunaan bahasa dalam bahan ajar hendaknya memperhatikan beberapa aspek untuk dapat membantunya memahami uraian materi, yaitu: sesuai dengan tingkat perkembangan siswa, menggunakan bahasa yang mudah dipahami, menggunakan kalimat efektif dan terhindar dari makna ganda.

9.Kontekstual dan Mutakhir
Materi yang disusun dalam bahan ajar hendaknya mutakhir atau kontekstual serta menunjang penguasaan kemampuan literasi sains siswa, maksudnya adalah bahwa bahan ajar tersebut memiliki kesesuaian dengan kehidupan anak sehari-hari dan dapat membekalinya dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta bagaimana menggunakan pengetahuan tersebut dalam kehidupan nyata yang dihadapinya.

10.Menghargai Perbedaan Individu
Sebuah bahan ajar yang baik tidaklah membesar-besarkan perbedaan individu tertentu. Perbedaan dalam kemampuan , bakat, minat, ekonomi, sosial, budaya setiap individu tidak dipermasalahkan tetapi diterima sebagaimana adanya.

11.Memantapkan Nilai-Nilai
Bahan ajar yang disusun hendaknya dapat menyentuh berbagai aspek kehidupan mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat, lingkungan sekitar berangsur angsur meluas ke regional, nasional dan internasional. Bahan ajar juga hendaknya menunjang pemahaman bagi mata pelajaran lainnya, bersifat membangun keteladanan atau contoh yang pantas ditiru, serta dapat menumbuhkan perbendaharaan kata siswa. Menumbuhkan keberanian antara lain menampilkan diri melalui ekspresi buah pikiran, menanggapi, adu argumentasi. Bersifat kultural-edukatif dan memantapkan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat

25 Februari 2010

Keterampilan Proses Sains Bagi Siswa SD Kelas Rendah

Keterampilan Proses Sains Bagi Siswa SD Kelas Rendah
Oleh: Sri Hendrawati, M.Pd

Semiawan (1992) mengatakan bahwa keterampilan proses adalah keterampilan siswa untuk mengelola hasil yang didapat dalam kegiatan belajar mengajar yang memberi kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk mengamati, menggolongkan, menafsirkan, meramalkan, menerapkan, merencanakan penelitian dan mengkomunikasikan hasil perolehannya tersebut.
Keterampilan proses sains adalah keterampilan intelektual yang khas yang digunakan oleh semua ilmuwan serta dapat digunakan untuk memahami fenomena apa saja, dimana keterampilan ini diperlukan untuk memperoleh, mengembangkan dan menerapkan konsep-konsep, prinsip hukum dan teori-teori sains. Melalui keterampilan proses sains ini siswa diharapkan dapat mengalami proses sebagaimana yang dialami para ilmuan dalam memecahkan misteri-misteri alam dan akan menjadi roda penggerak penemuan, pengembangan fakta dan konsep serta penumbuhan dan pengembangan sikap, wawasan dan nilai.
Menurut Gega (1977) untuk membantu menumbuhkan kemampuan berpikir siswa dalam memahami IPA dibutuhkan sedikitnya enam keterampilan proses sains yang perlu dikembangkan dalam proses pembelajaran, yaitu : mengamati (observing), mengelompokkan (classifying), mengukur (measuring), mengkomunikasikan (communicating), membuat kesimpulan sementara (inferring), dan melakukan eksperimen (experimenting).
Senada dengan apa yang dikemukakan oleh Gega (1977), Bergman dan Jacobsons (1980) mengemukakan bahwa keterampilan proses sains perlu dikembangkan untuk mendukung pembelajaran inkuiri dalam IPA. Terdapat beberapa keterampilan proses sains yang sangat penting untuk dikuasai oleh siswa, yaitu: observation, sorting, classification, serial ordering, operational definition, dan communication. Lebih lanjut, dikemukakan pula bahwa pembelajaran inkuiri dalam IPA menuntut siswa untuk memiliki kemampuan Matematika dan kemampuan membaca. Pembelajaran IPA menyediakan wahana belajar bagi siswa untuk melakukan banyak aktivitas konkrit dan langsung yang membutuhkan kemampuan Matematika dan bahasa yang baik demi tercapainya tingkat pemahaman siswa terhadap konsep atau materi IPA yang dipelajari (Bergman dan Jacobsons, 1980).
Menurut Standar Isi Permendiknas No.22 tahun 2006 mengenai kurikulum IPA, dikemukakan bahwa pembelajaran IPA pada jenjang sekolah dasar sebaiknya dilakukan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry). Hal ini menempatkan inkuiri menjadi hal yang fundamental dalam proses pembelajaran IPA. Pembelajaran inkuiri dalam IPA dapat dilaksanakan bersamaan dengan pengembangan aspek keterampilan proses sains. Namun, sangat disayangkan bahwa dalam standar isi tidak mencantumkan kemampuan inkuiri dan keterampilan proses apa yang sebaiknya dikembangkan dalam pembelajaran IPA pada jenjang sekolah dasar.
Hal ini berbeda dengan kondisi di beberapa negara maju yang mencantumkan standar kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa berkenaan dengan kemampuan inkuiri. Misalnya saja, kurikulum National Academy of Science yang memberikan batasan/standar kompetensi kemampuan inkuiri yang harus dimiliki siswa. Disebutkan bahwa kemampuan inkuiri siswa pada jenjang TK sampai SD kelas 4, adalah: (1) kemampuan untuk mengajukan pertanyaan mengenai objek, organisme, dan peristiwa yang terjadi dalam lingkungan, (2) merencanakan dan melakukan penyelidikan sederhana, (3) menggunakan peralatan sederhana untuk mengumpulkan data, (4) menggunakan data untuk memberikan penjelasan yang rasional mengenai hasil temuan, dan yang terakhir, (5) mengkomunikasikan hasil penelitian dengan penjelasannya. Kelima standar ini berimplikasi bahwa pembelajaran inkuiri ini harus pula mengembangkan aspek keterampilan proses IPA dalam proses pembelajaran. Begitu banyak interpretasi mengenai keterampilan proses sains yang sebaiknya dikembangkan dalam pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar. Harlen dan Jelly (1997) mengemukakan bahwa terdapat tujuh aspek fundamental yang harus dimiliki siswa, yaitu observing, questioning, hypothesizing, predicting, investigating, interpreting dan communicating.
Untuk memahami keterampilan proses yang mana yang cocok untuk dikembangkan bagi siswa SD, sebaiknya disesuaikan dengan karakteristiknya terutama usia. Pendekatan Developmentally Appropriate Practice (DAP) dalam pembelajaran IPA menjadi sangat penting untuk dijadikan pertimbangan dalam mendesain sebuah pembelajaran IPA. Menurut Charlesworth & Lind. (1999), pengembangan keterampilan proses sains dapat dilakukan dengan mengacu pada pendekatan DAP. Terdapat tiga tahapan pengembangan keterampilan proses sains, yaitu: pertama, tahap Basic (Dasar) yang diperuntukkan bagi anak usia 5 tahun ke atas yang mengembangkan lima buah keterampilan proses sains tingkat dasar, yaitu mengamati, membandingkan, mengelompokkan, mengukur dan mengkomunikasikan. Kedua, tahap intermediate yang diperuntukkan bagi anak pada rentang usia 9-11 tahun yang mengembangkan 2 aspek keterampilan proses sains, yaitu memprediksi dan melakukan inferring (pengambilan kesimpulan). Tahapan ketiga, adalah tahap advanced yang diperuntukkan bagi anak usia 12 tahun ke atas yang mengembangkan dua aspek keterampilan proses sains, yaitu merumuskan hipotesis dan keterampilan menggunakan dan mengontrol variabel.
Hal ini senada dengan pendapat Semiawan (1992) bahwa penerapan keterampilan proses harus disesuaikan dengan taraf perkembangan anak sejalan dengan hasil penelitian dalam psikologi belajar. Untuk siswa SD kelas rendah (kelas I-kelas III), aspek keterampilan proses yang dapat dikembangkan adalah komunikasi dan observasi, yang didalamnya termasuk pula aspek keterampilan klasifikasi (mengelompokkan dan membandingkan), perhitungan, dan pengukuran.
Mulyani (2001) mengemukakan bahwa implementasi keterampilan proses dalam suatu proses pembelajaran dapat dikembangkan secara terpadu, yakni antara satu keterampilan dengan keterampilan lainnya sekaligus terjawantahkan. Lebih lanjut dikemukakan bahwa seorang guru dapat pula memberikan perhatian terhadap satu jenis keterampilan yang dikembangkan meskipun pada kenyataannya tidak akan pernah lepas dari keterkaitannya dengan keterampilan lainnya. Selain itu, dapat juga untuk jenis-jenis keterampilan tertentu dipandang belum memadai untuk diimplementasikan pada peserta didik yang duduk dikelas rendah (kelas I-III), seperti halnya keterampilan proses yang termasuk kelompok keterampilan terintegrasi.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas, maka dapat ditentukan jenis keterampilan proses sains yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran pada kelas rendah, terutama dalam hal ini kelas II. Berikut ini adalah jenis keterampilan proses yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran beserta indikatornya, yaitu :
1) Mengamati (Observing), menggunakan panca indera untuk mengumpulkan data dan menggunakan fakta yang relevan.
2) Membandingkan (Comparing & Contrasting), menemukan persamaan dan perbedaan dari objek yang diamati.
3) Mengelompokkan (Classifying), menghubungkan hasil pengamatan, mengontraskan ciri-ciri serta mencari dasar pengelompokkan.
4) Mengukur (Measuring), menggunakan alat bantu pengukuran baku (satuan panjang, waktu, berat) untuk mengukur suatu objek pada saat kegiatan pengamatan secara kuantitatif
5) Mengkomunikasikan (Communicating), mengemukakan ide atau gagasan secara lisan maupun tulisan, membaca diagram, gambar, tabel, serta mendiskusikan hasil kegiatan atau pengamatan terhadap suatu peristiwa.
Keterampilan proses sains tidak hanya dikembangkan dalam pembelajaran IPA, keterampilan ini merupakan bagian penting dari berbagai mata pelajaran lainnya seperti Matematika dan Bahasa. Sejumlah penelitian mengindikasikan bahwa keterpaduan antara pembelajaran sains dengan membaca dan Matematika telah menghasilkan dampak positif bagi siswa. Dalam artikel yang berjudul “Science Process Skills, How can teaching science process skills improve student performance in reading, language arts, and mathematics?”, Dr. Karen Ostlund (1998) mengemukakan beberapa hasil penelitian mengenai hubungan antara keterampilan proses sains dengan perkembangan bahasa dan Matematika sebagai berikut:
1) Hubungan antara Kegiatan membaca dan KPS
• Penelitian menunjukkan bahwa pengalaman langsung dalam pembelajaran sains dimana salah satunya siswa berinteraksi secara langsung dengan material/bahan belajar dapat menjadi sarana atau memfasilitasi perkembangan kemampuan berbahasa siswa (Wellman, 1978). Kegiatan membaca dan aktivitas sains menekankan pada kemampuan berpikir dan keduanya melibatkan proses berpikir. Ketika guru membantu siswa mengembangkan keterampilan proses sains, proses membaca secara simultan juga turut dikembangkan (Mechling & Oliver, 1983 and Simon & Zimmerman, 1980).
• Kegiatan hands-on untuk memberikan pengalaman langsung bagi siswa dalam sains adalah kunci bagi hubungan antara keterampilan proses baik dalam sains maupun dalam kegiatan membaca (Lucas & Burlando, 1975).
• Keterampilan proses sains merupakan pendamping kegiatan membaca. Misalnya ketika guru menjelaskan tentang sains, maka siswa belajar untuk menentukan karakteristik yang penting, menyebut satu persatu karakteristik, menggunakan istilah yang sesuai, dan menggunakan sinonim yang tepat yang merupakan keterampilan membaca yang penting (Carter & Simpson, 1978).
• Ketika siswa menggunakan keterampilan proses sains mengamati, mengidentifikasi, dan mengklasifikasikan, mereka dapat membedakan antara vocal dan konsonan dan belajar mengenai bunyi huruf, kata dan kalimat. (Murray & Pikul ski, 1978).
• Keterlibatan siswa dalam keterampilan proses memudahkan siswa untuk mengenali kata kunci secara kontekstual dan terstruktur dan memudahkan siswa menginterpretasikan data dalam paragraf. Keterampilan proses sains penting bagi berpikir logis dan menjadi pondasi untuk kemampuan dasar belajar membaca siswa (Barufaldi & Swift, 1977).
• Pembelajaran sains menyediakan alternatif strategi mengajar yang dapat memotifasi siswa yang mengalami kesulitan dalam membaca (Wellman, 1978).
• Guszak mengemukakan bahwa kesiapan membaca adalah kemampuan yang kompleks. Dari tiga kemampuan kompleks tersebut, dua diantaranya dapat dipengaruhi secara langsung dengan keterampilan proses, yaitu: faktor fisik (kesehatan, pendengaran, penglihatan, berbicara dan motorik); dan faktor pemahaman (konsep, proses). Ketika siswa melihat, mendengar dan berbicara tentang pengalaman sains, pemahaman dan persepsi siswa terhadap konsep dan proses dapat improve (Barufaldi & Swift, 1977 and Bethel, 1974).
• Program sains yang mengembangkan pengalaman hands on dapat meningkatkan perkembangan keterampilan proses anak-anak. Pencapaian keterampilan proses yang dikembangkan dengan pengalaman sains memiliki korelasi yang positif dengan perkembangan kesiapan membaca (Nicodemus, 1968).
• Penelitian tentang hubungan antara menulis kreatif dan pengalaman sains menunjukkan bahwa ketika siswa menulis bahan bacaannya sendiri, maka skor menulis siswa mengalami peningkatan secara signifikan (Jenkins, 1981).
• Data di sebuah sekolah menunjukkan peningkatan kemampuan komunikasi oral siswa yang signifikan ketika mereka berpartisipasi dalam penelitian Peningkatan kurikulum sains dan pendekatan keterampilan proses sains. Peningkatan kemampuan siswa yang menggunakan pendekatan keterampilan proses lebih baik dalam tes bahasa, meliputi kosakata, struktur kalimat, dan kemampuan mengklasifikasi, menyampaikan dan menerima kemampuan komunikasi secara oral (Bethel, 1974).
2) Hubungan antara Matematika dan KPS
• Sains dan Matematika memiliki keterpaduan. Matematika secara luas dapat diartikan sebagai bahasa sains. Perkembangan kemampuan logika Matematika dan pemecahan masalah adalah tujuan pembelajaran sains dan Matematika. (National Council of Teachers of Mathematics, 1980 and National Science Teachers Association, 1964 & 1983).
• Sains dan Matematika saling menguatkan, dengan cara memfasilitasi perkembangan kognitif menjadi lebih baik (Almy, 1966).
• Penelitian menunjukkan bahwa keragaman pengalaman sains dapat memfasilitasi perkembangan kognitif siswa dari satu level ke level selanjutnya. Hubungan antara Matematika dan sains diperkuat dengan fakta bahwa pencapaian dalam Matematika berhubungan dengan tingkatan perkembangan kognitif (Stafford & Renner, 1976).
• Melibatkan siswa dalam kegiatan hands-on dimana siswa menghitung dan memanipulasi objek, menyediakan pengalaman yang berkontribusi bagi pemahaman mereka terhadap angka/bilangan. Dengan demikian, pengalaman sains memberikan manfaat bagi perkembangan dasar Matematika dalam hal operasi Matematika, diantaranya menghitung lebar permukaan, korespondensi satu-satu, mengurutkan dan mengklasifikasikan (Campbell, 1972).
• Kontribusi pengalaman sains bagi perkembangan kemampuan operasi Matematika diperkuat oleh penelitian. Dalam sebuah penelitian tentang hubungan antara kemampuan siswa dalam memahami bilangan dalam pembelajaran Matematika-sains menunjukkan bahwa siswa yang memiliki kemampuan tersebut lebih berhasil menguasai konsep dan proses Matematika dibandingkan siswa yang hanya menerima program pengajaran Matematika saja (Almy, 1966). Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa pengalaman sains tidak hanya meningkatkan kemampuan siswa Taman Kanak-kanak (TK) dan siswa SD kelas 1 saja, melainkan dapat memfasilitasi perpindahan dari tingkatan perkembangan kognitif pada siswa pada jenjang kelas yang lebih tinggi (Froit, 1976 and Tipps, 1982).
• Penelitian menunjukkan bahwa sains dapat digunakan untuk memperluas pendekatan mengajar pemecahan masalah dalam Matematika. Dengan berusaha untuk mengungkapkan masalah sains dalam kehidupan sehari-hari adalah upaya yang potensial untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa, dan memberikan manfaat bagi siswa untuk memecahkan masalah dalam berbagai keadaan.(Coffia, 1971 & Shann, 1977).
• Melalui pengalaman sains, siswa dapat mengaplikasikan Matematika ke dalam masalah kehidupan sehari-hari. Pada tingkatan sekolah dasar, guru dapat menyediakan pengalaman hands-on dan kegiatan sains yang memfasilitasi pembelajaran konsep aritmetika seperti pengurutan, pengelompokkan dan pecahan (Mechling & Oliver, 1983).

17 Oktober 2009

Pembelajaran Sains

KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PEMBELAJARAN SAINS TINGKAT SEKOLAH DASAR

Oleh :

Sri Hendrawati, S.Pd, M.Pd



PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pada hakikatnya IPA dapat dipandang dari segi produk, proses dan dari segi pengembangan sikap. Artinya, belajar IPA memiliki dimensi proses, dimensi hasil (produk) dan dimensi pengembangan sikap ilmiah. Ketiga dimensi tersebut bersifat saling terkait. Hal ini berarti bahwa proses belajar mengajar IPA seharusnya mengandung ketiga dimensi tersebut.

IPA dipandang sebagai salah satu mata pelajaran yang dianggap penting dalam dunia pendidikan, hal ini diibuktikan dengan diberlakukannya IPA sebagai mata pelajaran wajib di sekolah dengan jumlah porsi jam pelajaran yang cukup banyak dibandingkan pelajaran lainnya. Namun, sangat disayangkan bahwa pada kenyataannya kegiatan pembelajaran IPA di persekolahan seringkali tidak sejalan dengan hakikat IPA yang sebenarnya. Pembelajaran IPA di persekolahan menitik beratkan pada penguasaan konsep semata dengan target agar mendapatkan rata-rata nilai UASBN untuk SD atau nilai UAN untuk SMP dan SMU yang baik. Hal ini menyebabkan pembelajaran IPA di sekolah menjadi monoton, pembelajaran IPA berubah menjadi pembelajaran sastra IPA dimana siswa dijejali oleh hapalan konsep-konsep yang miskin pengalaman dan pembentukan sikap ilmiah yang sebenarnya sangat dibutuhkan siswa dalam kehidupannya. Pendekatan dalam pembelajaran masih terlalu didominasi peran guru (teacher centered). Guru lebih banyak menempatkan peserta didik sebagai objek dan bukan sebagai subjek didik. Pendidikan kita kurang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir holistik (menyeluruh), kreatif, objektif, dan logis, serta kurang memperhatikan ketuntasan belajar secara individual. Hal ini pun diungkapkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Blazelly, dkk (dalam Suderajat, 2004:2) bahwa: Pembelajaran di Indonesia cenderung sangat teoritik dan tidak terkait dengan lingkungan dimana siswa berada. Akibatnya peserta didik tidak mampu menerapkan apa yang dipelajarinya di sekolah, guna memecahkan masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan telah mencabut peserta didik dari lingkungannya sehingga mereka menjadi asing di dalam masyarakatnya sendiri.

Pendidikan IPA bukan hanya transfer ilmu pengetahuan dari guru kepada siswa sebagai peserta didik. Kalau hanya transfer pengetahuan yang terjadi, pendidikan tidak akan menghasilkan generasi terdidik dan berkualitas. Rohandi (1998: 113) menyatakan bahwa, “Pembelajaran sains tidak lain merupakan proses konstruksi pengetahuan (sains) melalui aktivitas berpikir anak. Dalam keadaan ini, anak diberi kesempatan untuk mengembangkan pengetahuannya secara mandiri melalui proses komunikasi yang menghubungkan pengetahuan awal yang dimiliki dengan pengetahuan yang akan/harus mereka temukan. Dengan demikian, kondisi seperti ini akan mampu menjadikan anak berdaya, yang sangat berperan penting dalam kehidupan mereka sehari-hari.”

Dalam pembelajaran IPA, proses memerankan peranan yang sangat penting dalam pemerolehan IPA sebagai produk dan pemupukan sikap. Yang dimaksud proses dalam hal ini adalah proses mendapatkan IPA. Sebagaimana kita ketahui bahwa IPA sebagai ilmu diperoleh melalui metode ilmiah. Dengan demikian pembelajaran IPA sebaiknya menerapkan metode ilmiah ini. Untuk jenjang SD, metode ilmiah dikembangkan secara bertahap dan berkesinambungan sampai pada tahap siswa dapat melakukan penelitian secara sederhana. Disamping itu, pentahapan pengembangannya disesuaikan dengan tahapan dari suatu proses penelitian atau eksperimen yang terdapat dalam urutan metode ilmiah secara sederhana yang disesuaikan dengan tahapan peserta didik secara psikologis agar pembelajaran lebih bermakna bagi siswa.

Untuk memahami suatu konsep, siswa hendaknya diberi peluang untuk memperoleh dan menemukan konsep melalui serangkaian kegiatan pembelajaran yang menunjang untuk tercapainya hal tersebut. Mengapa penemuan ini begitu penting ? Menurut J.Bruner (1961) terdapat empat alas an yang mendasarinya, yaitu : (1) dapat mengembangkan kemampuan intelektual siswa, (2) menambah motivasi intrinsic, (3) menghayati bagaimana ilmu itu diperoleh, dan (4) memperoleh daya ingat yang lebih lama retensinya.

Pada hakikatnya, dalam proses mendapatkan IPA diperlukan beberapa keterampilan yang disebut keterampilan proses. Sumantri (2001;95) mengungkapkan bahwa suatu pengajaran yang menggunakan pendekatan keterampilan proses berarti pengajaran itu berusaha menempatkan siswa dalam posisi yang amat penting. Siswa dipandang sebagai seorang ilmuwan yang harus menyadari dirinya bagaimana mereka belajar (to learn how to learn). Dengan kata lain pembelajaran yang menggunakan pendekatan keterampilan proses merupakan wahana pengembangan keterampilan intelektual, social, emosional, dan fisik peserta didik yang pada prinsipnya keterampilan-keterampilan tersebut telah ada pada diri mereka sendiri.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dikembangkan beberapa pertanyaan mengenai pendekatan keterampilan proses dan penerapannya dalam pembelajaran pada jenjang SD yang merupakan topik yang akan dibahas dalam makalah ini sebagai berikut :

1. Apakah yang dimaksud dengan Keterampilan Proses Sains?

2. Apakah jenis-jenis Keterampilan Proses Sains ?

3. Bagaimana penerapan pendekatan Keterampilan Proses Sains dalam pembelajaran di SD ?

KETERAMPILAN PROSES SAINSDALAM PEMBELAJARAN SAINS TINGKAT SEKOLAH DASAR

A. PENGERTIAN DAN HAKEKAT SAINS

Istilah IPA sebagai sebagai nama suatu mata pelajaran digunakan pada kurikulum sebelum KBK, hingga masa diberlakukaannya KBK, mata pelajaran IPA diubah menjadi mata pelajaran Sains. NAmun hal ini tidak berlangsung lama, dalam kurikulum selanjutnya yaitu KTSP, mata pelajaran Sains diubah kembali menjadi IPA. Dalam makalah ini istilah Sains dan IPA dianggap sama.

Sains merupakan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis untuk menguasai pengetahuan, fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, proses penemuan, dan memiliki sikap ilmiah. Pendidikan sains di SD bermanfaat bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar.

Pendidikan sains menekankan pada pemberian secara langsung dan kegiatan praktis untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan sains diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.

Secara implisit pembelajaran sains pada kurikulum 1994 mulai disampaikan pada siswa kelas tiga sekolah dasar, tetapi pada kurikulum 2004 (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pembelajaran sains di berikan kepada siswa SD sejak kelas satu, namun bahan kajian sains untuk kelas satu,dua dan tiga, tidak diajarkan secara terpisah melainkan diberikan dengan cara tematis. Kegiatan pembelajaran sains lebih diarahkan pada pengalaman belajar langsung daripada pengajaran (mengajar). Guru berperan sebagai fasilitator sehingga siswa lebih aktif berperan dalam proses belajar. Guru membiasakan memberi peluang seluas-luasnya agar siswa dapat belajar lebih bermakna dengan memberi respon yang mengaktifkan semua siswa secara positif dan edukatif. Penilaian tentang kemajuan belajar sains dilakukan selama proses pembelajaran, penilaian tidak hanya dilakukan pada akhir periode tetapi dilakukan secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran dalam arti kemajuan belajar dinilai dari proses bukan hanya hasil.

Sains dan pembelajaran sains tidak hanya sekedar pengetahuan yang bersifat ilmiah saja, melainkan terdapat dimensi-dimensi ilmiah penting yang menjadi bagian sains. Pertama, adalah muatan sains (content of science) yang berisi berbagai fakta, konsep, hukum, dan teori-teori. Dimensi inilah yang menjadi obyek kajian ilmiah manusia.

Dimensi kedua sains adalah proses dalam melakukan aktivitas ilmiah dan sikap ilmiah dari aktivis sains. Proses dalam melakukan aktivitas-aktivitas yang terkait dengan sains biasa disebut dengan keterampilan proses sains (science proccess skills). Keterampilan proses inilah yang digunakan setiap ilmuwan ketika mengerjakan aktivitas-aktivitas sains. Karena sains adalah tentang mengajukan pertanyaan dan mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, maka keterampilan ini dapat juga diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari ketika kita menemukan persoalan-persoalan keseharian dan kita harus mencari jawabannya. Jadi, mengajarkan keterampilan proses sains pada siswa sama artinya dengan mengajarkan keterampilan yang nantinya akan mereka gunakan dalam kehidupan keseharian mereka.

Dimensi ketiga dari sains merupakan dimensi yang terfokus pada karakteristik sikap dan watak ilmiah. Dimensi ini meliputi keingintahuan seseorang dan besarnya daya imajinasi seseorang, juga antusiasme yang tinggi untuk mengajukan pertanyaan dan memecahkan permasalahan. Sikap lain yang juga harus dimiliki seorang ilmuwan adalah sikap menghargai terhadap metode-metode dan nilai-nilai di dalam sains. Metode-metode sains yang dimaksud di sini meliputi usaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan menggunakan bukti-bukti, kemauan untuk mengakui pentingnya mengecek ulang data yang diperoleh, dan memahami bahwa pengetahuan ilmiah dan teori-teori berubah sepanjang waktu selama informasi-informasi yang lebih banyak dan lebih baik diperoleh.

Sains merupakan sekelompok pengetahuan tentang objek dan fenomena alam yang diperoleh dari hasil pemikiran dan penelitian para ilmuan yang dilakukan dengan keterampilan bereksperimen dengan menggunakan metode ilmiah, Poedjiati (Oktian, 2005:27). Berkenaan dengan cara kerja untuk menghasilkan produk IPA, Ticker (Oktian, 2005:28) mengemukakan Science is interconnected series of concepts and conceptual schemes that have developed as a result of experimentation and observation and are fruitful of further experimentations and observations’.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sains menghendaki adanya eksperimen dan observasi untuk menguji teori atau hukum yang telah ada. Jika eksperimen yang dilakukan tidak sesuai dengan teori maka teori tersebut tidak berlaku lagi sehingga dari sinilah timbul teori atau hukum baru. Selanjutnya Suriaty (Solihat, 2006:13-14) mengemukakan bahwa untuk memahami hakekat IPA haruslah dilandasi dengan pengertian tentang IPA yang dikemukakan oleh para ahli:

1. Kemeny menyatakan bahwa ”IPA merupakan aktifitas dalam menemukan hukum-hukum alam dalam bentuk teori-teori berdasarkan fakta-fakta”. Keadaan ini menyebabkan hubungan timbal balik antara teori dan fakta. Fakta-fakta dapat menimbulkan teori baru atau membatalkan teori lama. Teori juga dapat mendorong ilmuwan untuk mencari fakta baru.

2. Fishei menyatakan bahwa IPA sebagaibody of knowledge obtained by method based upon observation”, yaitu IPA merupakan suatu batang tubuh pengetahuan yang diperoleh melalui metode yang berdasarkan observasi.

3. Chalmers menyatakan hahwa “IPA didasari oleh hal-hal yang kita lihat, dengar, raba, dan lain-lain”. Dapat dikatakan batasan ini lebih menekankan kepada cara memperoleh IPA, yaitu melalui observasi. IPA sebagai kumpulan konsep atau prinsip tidak secara jelas dikemukakan.

4. Sund menyatakan bahwa ”Science is both a body of knowledge and process” dilihat dari kalimat ini maka jelaslah bahwa yang dimaksud dengan sains (IPA) adalah kumpulan dari pengetahuan (fakta, konsep, prinsip. dan lain-lain), dan bagaimana proses untuk mendapatkan pengetahuan itu. Sund mengemukakan batasan IPA yang lebih lengkap. Sund menyatakan ”IPA sebagai bidang pengetahuan (body of knowledge) yang dibentuk melalui proses inkuiri yang terus menerus, yang diarahkan oleh masyarakat yang bergerak dalam bidang IPA”. IPA lebih dari sekedar ilmu pengetahuan. IPA merupakan suatu upaya manusia yang meliputi operasi mental, keterampilan dan strategi, memanipulasi, menghitung, keingintahuan, ketekunan yang dilakukan oleh individu untuk menyingkap rahasia alam semesta. IPA juga dapat dikatakan sebagai hal-hal yang dilakukan ahli IPA ketika melakukan kegiatan penyelidikan ilmiah.

Dari pendapat beberapa ahli di atas maka jelaslah pada hakekatnya IPA adalah ilmu pengetahuan tentang fenomena alam berupa kumpulan fakta, konsep. prinsip, hukum, dan teori, kemudian dapat diuji kebenarannya. Pembelajaran IPA pada hakekatnya adalah membelajarkan siswa untuk memahami hakekat IPA (proses dan produk) dan sadar akan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat serta terjadi pengembangan ke arah sikap positif. Pemberian pengalaman secara langsung sangat ditekankan melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses serta sikap ilmiah dengan tujuan memahami konsep-konsep dan mampu memecahkan masalah.

B. PENGERTIAN KETERAMPILAN PROSES SAINS

Pendekatan keterampilan proses dapat diartikan sebagai wawasan atau anutan pengembangan keterampilan–keterampilan intelektual, sosial dan fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan mendasar yang prinsipnya telah ada dalam diri siswa. Pendekatan keterampilan proses pada pembelajaran sains lebih menekankan pembentukan keterampilan untuk memperoleh pengetahuan dan mengkomunikaskan hasilnya.

Pendekatan keterampilan proses dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh individu siswa. Dimyati dan Mudjiono (2002:138) memuat ulasan pendekatan keterampilan proses yang diambil dari pendapat Funk (1985) sebagai berikut:

(1) Pendekatan keterampilan proses dapat mengembangkan hakikat ilmu pengetahuan siswa. Siswa terdorong untuk memperoleh ilmu pengetahuan dengan baik karena lebih memahami fakta dan konsep ilmu pengetahuan;

(2) Pembelajaran melalui keterampilan proses akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja dengan ilmu pengetahuan, tidak hanya menceritakan, dan atau mendengarkan sejarah ilmu pengetahuan;

(3) Keterampilan proses dapat digunakan oleh siswa untuk belajar proses dan sekaligus produk ilmu pengetahuan.

(4) Pendekatan Keterampilan Proses sains memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara nyata bertindak sebagai seorang ilmuwan (Dimyati dan Mudjino, 2002:139).

Semiawan, (1992:16-33) mengatakan bahwa keterampilan proses adalah keterampilan siswa untuk mengelola hasil yang didapat dalam kegiatan belajar mengajar yang memberi kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk mengamati, menggolongkan, menafsirkan, meramalkan, menerapkan, merencanakan penelitian dan mengkomunikasikan hasil perolehannya tersebut.

Di dukung lagi oleh Haryani, (2006:13), bahwa:

Pendekatan Keterampilan proses sains adalah proses yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan fakta-fakta, membangun konsep-konsep dan teori-teori dengan keterampilan proses dan sikap ilmiah siswa sendiri.

Sementara itu menurut Padila (Rosadi, 2006:25)

Keterampilan proses sains adalah seluruh keterampilan ilmiah yang dapat digunakan untuk menemukan suatu konsep atau prinsip atau teori untuk mengembangkan konsep yang telah ada ataupun untuk melakukan penyangkalan terhadap suatu penemuan.

Indrawati (2000:3) menyatakan bahwa:

Keterampilan proses merupakan keseluruhan keterampilan ilmiah yang terarah (baik kognitif maupun psikomotor) yang dapat digunakan untuk menemukan suatu konsep atau prinsip atau teori, untuk mengembangkan konsep yang telah ada sebelumnya, ataupun untuk melakukan penyangkalan terhadap suatu penemuan (falsifikasi).

Sejalan dengan itu, Rustaman N.Y & Rustaman A (1997:29) mengemukakan bahwa:

Keterampilan proses IPA adalah semua keterampilan yang diperlukan untuk memperoleh, mengembangkan dan menerapkan konsep-konsep, prinsip-prinsip, hukum-hukum, dan teori-teori IPA, baik berupa keterampilan mental, keterampilan fisik (manual) maupun keterampilan sosial.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa keterampilan proses sains itu adalah keterampilan intelektual yang khas yang digunakan oleh semua ilmuwan serta dapat digunakan untuk memahami fenomena apa saja, dimana keterampilan ini diperlukan untuk memperoleh, mengembangkan dan menerapkan konsep-konsep, prinsip hukum dan teori-teori sains. Melalui keterampilan proses sains ini siswa diharapkan dapat mengalami proses sebagaimana yang dialami para ilmuan dalam memecahkan misteri-misteri alam dan akan menjadi roda penggerak penemuan, pengembangan fakta dan konsep serta penumbuhan dan pengembangan sikap, wawasan dan nilai.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa pendekatan keterampilan proses menekankan usaha-usaha membelajarkan peserta didik bagaimana belajar (to learn how to learn). Usaha ini jelas menuntut keterlibatan peserta didik dalam kadar keterlibatan belajar yang kuat, tinggi, dan maksimal.

Prosedur yang dilakukan para ilmuan untuk melakukan penyelidikan dalam usaha mendapatkan pengetahuan tentang alam biasa dikenal dengan istilah metode ilmiah. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh para ilmuan untuk mendapatkan atau menemukan suatu ilmu pengetahuan membutuhkan kecakapan dan keterampilan dasar untuk melakukan kegiatan ilmiah tersebut. Kemampuan dasar tersebut dikenal dengan istilah keterampilan proses IPA. Untuk mengenalkan alam pada siswa, perlu diajarkan bagaimana pengetahuan alam tersebut didapat dengan melatihkan keterampilan proses IPA pada siswa. Keterampilan proses dapat berkembang pada diri siswa bila diberi kesempatan untuk berlatih menggunakan keterampilan berpikirnya. Dengan keterampilan proses siswa dapat rnempelajari IPA sesuai dengan keinginannva. Keterampilan proses sains mempunyai cakupan yang sangat luas sehingga aspek-aspek keterampilan proses sains sering digunakan dalam beberapa pendekatan dan metode.

C. PEMBELAJARAN BERBASIS KETERAMPILAN PROSES SAINS

Belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dua konsep tersebut akan menjadi bermakna apabila ada interaksi antara guru – siswa, atau siswa – siswa, pada saat pelajaran itu berlangsung. Interaksi guru – siswa merupakan bagian utama dalam proses pengajaran yang memegang peranan penting untuk mencapai tujuan pengajaran yang efektif.

Banyak pandangan tentang mengajar yang membawa implikasi terhadap pelaksanaan pengajaran. Sanjaya, (2006: 94) mengungkapkan mengajar adalah suatu proses mengatur, menstransfer, mengorganisasi yang ada di sekitar siswa sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar. Rumusan di atas menekankan peranan siswa dalam proses belajar mengajar dengan memandang hakekat belajar mengajar sebagai suatu proses untuk menumbuhkan motivasi siswa untuk belajar.

Mengajar suatu proses yang kompleks tidak hanya menyampaikan imformasi dari guru kepada siswa, tetapi banyak kegiatan maupun tindakan yang harus dilakukan, terutama bila diinginkan hasil belajar yang lebih baik pada seluruh siswa.

Menurut William H. Barton (Sagala, 2006) mengajar merupakan upaya dalam memberi motivasi, bimbingan, pengarahan dan dorongan kepada seluruh siswa agar terjadi proses belajar. Berdasarkan pengertian di atas maka dapat dipahamai bahwa aktivitas yang menonjol dalam pembelajaran ada pada diri siswa dibawah bimbingan dan arahan dari guru, dimana guru hanya bertindak sebagai fasilitator dalam proses belajar mengajar. Dengan demikian mengajar merupakan upaya dalam memberi kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar mengajar siswa secara optimal.

Teori konstruktivisme dianggap sebagai pandangan baru dalam pendidikan meskipun sebenarnya kosntruktivisme merupakan pandangan dalam filsafat. Pandangan ini dikemukakan oleh Giambattista Vico pada tahun 1710 (dalam Poedjiadi, 2001), yang intinya bahwa pengetahuan seorang itu merupakan hasil konstruksi individu melalui interaksinya dengan obyek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Pandangan ini memberikan pengertian pada pendidik dalam mengajarkan ilmu pengetahuan yang perlu dikaitkan dengan pengetahuan sebelumnya dan kejadian lain yang telah diketahuinya sehingga setiap individu dapat membangun pengetahuannya dengan lebih bermakna. Sesuai dengan pendapat Ausubel (dalam Dahar, 1989) proses yang mengkaitkan informasi baru dalam membangun pengetahuannya pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif siswa.

Sebagai sebuah teori tentang bagaimana pengetahuan terbentuk, kontruktivisme mempunyai pandangan tertentu tentang pengetahuan. Secara garis besar ada tiga prinsip dasar yang menyatakan inti pandangan kontruktivisme tentang pengetahuan (Widodo, 2007: 97)

1. Pengetahuan merupakan hasil kontruksi manusia dan bukan sepenuhnya representasi suatu fenomena atau benda.

Fenomena atau obyek memang bersifat obyektif, namun observasi dan interpretasi terhadap suatu fenomena atau obyek berpengaruh oleh subyektivitas pengamat.

2. Pengetahuan merupakan hasil konstruksi sosial

Pengetahuan terbentuk dalam suatu bentuk konteks sosial tertentu. Oleh karena itu pengetahuan terpengaruh kekuatan sosial dimana pengetahuan itu terbentuk.

3. Pengetahuan bersifat tentatif

Sebagai konstruksi manusia, kebenaran pengetahuan tidaklah mutlak tetapi bersifat tentatif dan senantiasa berubah. Sejarah telah membuktikan bahwa sesuatu yang diyakinai ”benar” pada suatu masa ternyata ”salah” di masa selanjutnya

Pengembangan pendekatan keterampilan proses merupakan salah satu upaya yang penting untuk memperoleh keberhasilan belajar yang optimal. Materi pelajaran akan lebih mudah dikuasai dan dihayati oleh siswa bila siswa sendiri mengalami peristiwa belajar tersebut. Selain itu, tujuan pendekatan proses ini adalah :

a) Memberikan motivasi belajar kepada siswa karena dalam keterampilan proses ini siswa dipacu untuk senantiasa berpartisipasi secara aktif dalam belajar.

b) Untuk lebih memperdalam konsep, pengertian, dan fakta yang dipelajari siswa karena hakikatnya siswa sendirilah yang mencari fakta dan menemukan konsep tersebut

c) Untuk mengembangkan pengetahuan teori dengan kenyataan hidup dimasyarakat sehingga antara teori dengan kenyataan hidup akan serasi.

d) Sebagai persiapan dan latihan dalam menghadapi kenyataan hidup di dalam masyarakat sebab siswa telah dilatih untuk berpikir logis dalam memecahkan masalah

e) Mengembangkan sikap percaya diri, bertanggung jawab dan rasa kesetiakawanan sosial dalam menghadapi berbagai problem kehidupan. (Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati, 2000 : 78).

Dengan demikian, Pembelajaran berbasis ketrampilan proses sains dapat didefinisikan sebagai penerjemahan ketrampilan proses sains (Science process skill) yaitu perangkat kemampuan kompleks yang biasa digunakan oleh para ilmuwan dalam melakukan penyelidikan ilmiah kedalam rangkaian proses pembelajaran. Pembelajaran dirancang untuk lebih memberikan kesempatan kepada siswa dalam penemuan fakta, membangun konsep dan nilai-nilai baru melalui proses peniruan terhadap apa yang biasa dilakukan oleh para ilmuwan (Haryono; 2005).

Pendekatan keterampilan proses adalah pembelajaran yang dianjurkan didalam mengajar IPA, selain menggunakan pendekatan konsep, guru diminta untuk menggunakan pendekatan keterampilan proses. Keterampilan-keterampilan proses IPA dikembangkan bersama-sama dengan fakta-fakta, konsep-konsep, dan prinsip-prinsip IPA. Inti pengembangan pendekatan keterampilan proses adalah aspek pengetahuan (kognitif), sikap (affektif), dan keterampilan (psikomotor), selain itu pengembangan keterampilan proses dituntut pengembangan kreatifitas siswa.

Kelebihan dari pendekatan keterampilan proses adalah anak akan mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Keterampilan proses IPA yang dikembangkan pada siswa setingkat SD khususnya kelas rendah merupakan modifikasi dari keterampilan proses IPA yang dimiliki para ilmuwan yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak dan materi yang diajarkan. Perlunya pengembangan pendekatan belajar mengajar keterampilan proses dalam pengajaran IPA ini diarahkan pada pertumbuhan dan pengembangan sejumlah keterampilan tertentu pada diri peserta didik atau siswa agar mereka mampu memproses informasi sehingga ditemukan hal-hal yang baru yang bermanfaat baik berupa fakta, konsep maupun pengembangan sikap dan nilai. Sebagai konsekuensi dari pendekatan keterampilan proses ini, maka siswa berperan selaku subyek dalam belajar. Ia bukan hanya menerima informasi, tetapii sebaliknya pencari informasi. Maka dari itu siswa harus aktif , terampil dan mampu mengelola perolehannya serta hasil belajar dan pengalamannya.

Keterampilan proses adalah keterampilan yang diperoleh dari latihan kemampuan-kemampuan mental, fisik dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi. Kemampuan-kemampuan mendasar yang telah dikembangkan dan telah terlatih lama-kelamaan akan menjadi suatu keterampilan, sedangkan pendekatan keterampilan proses adalah cara memandang anak didik sebagai manusia seutuhnya. Cara memandang ini dijabarkan dalam kegiatan belajar mengajar memperhatikan pengembangan pengetahuan, sikap, nilai serta keterampilan. Ketiga unsur itu menyatu dalam satu individu dan terampil dalam bentuk kreativitas. Tujuan pengajaran sains sebagai proses adalah untuk meningkatkan keterampilan berpikir siswa, sehingga siswa bukan hanya mampu dan terampil dalam bidang psikomotorik, melainkan juga bukan sekedar ahli menghafal. Berdasarkan penjelasan di atas pada keterampilan proses, guru tidak mengharapkan setiap siswa akan menjadi ilmuan, melainkan dapat mengemukakan ide bahwa memahami sains sebagian bergantung pada kemampuan memandang dan bergaul dengan alam menurut cara-cara seperti yang diperbuatoleh ilmuan.

Selain itu melalui proses belajar mengajar dengan pendekatan keterampilan proses dilakukan dengan keyakinan bahwa sains adalah alat yang potensial untuk membantu mengembangkan kepribadian siswa, dimana kepribadian siswa yang berkembang ini merupakan prasyarat untuk melanjutkan kejalur profesi apapun yang diminatinya. Untuk itu siswa perlu dibekali dengan keterampilan untuk mencari dan mengolah informasi dari berbagai sumber, dan tidak semata-mata dari guru.

D. JENIS-JENIS KETERAMPILAN PROSES SAINS

Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati mengemukakan kemampuan yang dikembangkan dalam keterampilan proses yang antara lain :

a) Pengamatan, yaitu keterampilan mengumpulkan data atau informasi melalui penerapan indera

b) Menggolongkan (mengklasifikasikan), yaitu keterampilan menggolongkan benda, kenyataan, konsep, nilai atau kepentingan tertentu. Untuk membuat penggolongan perlu ditinjau persamaan dan perbedaan antara benda, kenyataan, konsep sebagai dasar penggolongan

c) Menafsirkan (menginterpretasikan), yaitu keterampilan menafsirkan sesuatu berupa benda, kenyataan, peristiwa, konsep dan informasi yang telah dikumpulkan melalui pengamatan, penghitungan, penelitian atau eksperimen.

d) Meramalkan, yaitu mengantisipasi atau menyimpulkan suatu hal yang akan terjadi pada waktu yang akan datang berdasarkan perkiraan atas kecenderungan, pola tertentu, hubungan antar data, atau informasi. Misalnya, berdasarkan pengalaman tentang keadaan cuaca sebelumnya, siswa dapat meramalkan keadaan cuaca yang akan terjadi.

e) Menerapkan (aplikasi) yaitu menggunakan hasil belajar berupa informasi, kesimpulan, konsep, hukum, teori dan keterampilan. Melalui penerapan hasil belajar dapat dimanfaatkan, diperkuat, dikembangkan atau dihayati.

f) Merencanakan penelitian, yaitu keterampilan yang amat penting karena menentukan berhasil tidaknya melakukan penelitian. Keterampilan ini perlu dilatih karena selama ini pada umumnya kurang diperhatikan dan kurang terbina.

g) Mengkomunikasikan, yaitu keterampilan menyampaikan perolehan atau hasil belajar kepada orang lain dalam bentuk tulisan, gambar, gerak, tindakan, atau penampilan. (Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati, 2000 : 79).

Sementara itu Hendro Darmodjo dan Jenny RE. Kaligis merinci keterampilan-keterampilan proses dalam pendidikan IPA itu meliputi :

1) Keterampilan mengobservasi, yang meliputi kemampuan untuk dapat “membedakan”, “menghitung” dan “mengukur” termasuk mengukur suhu, panjang, luas, berat dan waktu.

2) Keterampilan mengklasifikasi, yang meliputi menggolong-golongkan atas dasar aspek-aspek tertentu, serta kombinasi antara menggolongkan dengan mengurutkan.

3) Keterampilan menginterpretasi, termasuk menginterpretasi data, grafik, maupun mencari pola hubungan yang terdapat dalam pengolahan data.

4) Keterampilan memprediksi, termasuk membuat ramalan atas kecenderungan yang terdapat dalam pengolahan data

5) Keterampilan membuat hipotesis, meliputi kemampuan berpikir deduktif dengan menggunakan konsep-konsep, teori-teori maupun hukum-hukum IPA yang telah dikenal.

6) Keterampilan mengendalikan variabel, yaitu upaya mengisolasi variabel yang tidak diteliti sehingga adanya perbedaan pada hasil eksperimen adalah dari variabel yang diteliti.

7) Keterampilan merencanakan dan melakukan penelitian, eksperimen yang meliputi penetapan masalah, membuat hipotesis, menguji hipotesis

8) Keterampilan menyimpulkan atau inferensi, yaitu kemampuan menarik kesimpulan dari pengolahan data

9) Keterampilan menerapkan atau aplikasi, atau menggunakan konsep atau hasil penelitian ke dalam perikehidupan dalam masyarakat

10) Keterampilan mengkomunikasikan, yaitu kemampuan siswa untuk dapat mengkomunikasikan pengetahuannya, hasil pengamatan, maupun penelitiannya kepada orang lain baik secara lisan maupun secara tertulis. (Hendro Darmodjo dan Jenny R.E. Kaligis, 1992:52).

Cain dan Evan (1990) mengemukakan bahwa agar sukses dalam pembelajaran sains maka proses sains yang harus dikembangkan adalah : mengobservasi, mengklasifikasi,mengukur, menggunakan hubungan defenisi operasional, memformulasi hipotesis, menginterpertasi data, mengontrol variable, melakukan eksperimen.

Secara terperinci, Hadiat; 1988:30 (Patta Bundu;31) mengemukakan sejumlah ketrampilan proses dengan ciri-cirinya yang perlu dilatihkan pada siswa disekolah. Ketrampilan proses tersebut seperti pada table dibawah ini:

Ketrampilan Proses dan ciri-cirinya

Ketrampilan Proses

Ciri Aktivitas

Observasi (mengamati)

Menggunakan alat indra sebanyak mungkin, menumpulkan fakta yang relevan dan memadai

Klasifikasi (menggolongkan)

Mencari perbedaan, mengontraskan, mencari kesamaan, membandingkan, mencari dasar penggolongan

Aplikasi konsep (menerapkan konsep)

Menghitung, menjelaskan peristiwa, menerapkan konsep yang dipelajari pada situasi baru

Interpretasi (menafsirkan)

Mencatat hasil pengamatan, menghubungkan hasil pengamatan, dan membuat kesimpulan

Menggunakan alat

Berlatih menggunakan alat/bahan, menjelaskan, mengapa dan bagaimana alat digunakan

Eksperimen (merencanakan dan melakukan percobbaan)

Menetukan alat dan bahan yang digunakan, menentukan variable, menentukan apa yang diamati, diukur, menentukan langkah kegiatan, menetukan bagaimana data diolah, dan disimpulkan

Mengkomunikasikan

Membaca grafik, table atau diagram, menjelaskan hasil percobaan, mendiskusikan hasil percobaandan menyampaikan laporan secara sistematis

Mengajukan pertanyaan

Bertanya, meminta penjelasan, bertanya tentang latar belakang hipótesis

Sumber: Modifikasi dari Hadiat,” Ketrampilan proses SAINS”, Beberapa topik Penataran Guru Sains (Jakarta: P4TK Depdikbud. 1988). H. 29-30

Sementara itu, Abruscato (1992:7) membuat penggolongan ketrampilan proses sains yaitu:

PENGELOMPOKAN KETRAMPILAN PROSES SAINS

Basic Skills (Ketrampilan Dasar)

Integrated Skills (Ketrampilan Terintegrasi)

- Mengamati (Observing)

- Menggunakan hubungan ruang (Using space relationship)

- Menggunakan angka (Using number)

- Mengelompokan (Classifying)

- Mengukur (measuring)

- Mengkomunikasikan (Communicating)

- Meramalkan (predicting)

- Menyimpulkan (Inferring)

- Mengontrol variable (controlling variable)

- Menafsirkan data (Interpreting data)

- Menyususn hipotesis (formulating hypothesis)

- Menyusun defenisi operasional (defining operationally)

- Melakukan percobaan (Experimenting)

Brotherton dan Preece (1995;6) mengelompokkan keterampilan proses sains kedalam dua kelompok yaitu keterampilan dasar dan keterampilan terintegrasi. Keterampilan dasar terdiri atas : observation, classification, inferring, communication, recording, using numbers, predicting,using space/time relation, controlling variabel, collecting data, measuring, dan scientific thinking. Sedangkan keterampilan terintegrasinya meliputi : graphing, hypothezing, interpreting data, formulating models, experimenting dan defining operationally.

Berikut ini adalah keterampilan proses dasar dan keterampilan terintegrasi yang diungkapkan oleh Funk ;

KETERAMPILAN PROSES DASAR

Keterampilan-keterampilan proses adalah bagian-bagian yang membentuk landasan metode-metode ilmiah. Keenam keterampilan tersebut adalah,

1. Pengamatan (observation)

Kemampuan mengamati merupakan keterampilan paling dasar dalam proses dan memperoleh ilmu serta hal terpenting untuk mengembangkan keterampilan proses yang lain. Mengamati merupakan tanggapan terhadap berbagai objek dan peristiwa alam dengan pancaindra. Dengan obsevasi, siswa mengumpulkan data tentang tanggapan-tanggapan terhadap objek yang diamati. Kegiatan mengamati terdiri dari dua jenis yaitu secara kualitatif menggunakan panca indera dan pengamatan secara kuantitatif yaitu dengan menggunakan alat bantu yang sudah dibakukan seperti thermometer untuk mengetahui suhu, penggaris untuk mengetahui panjang suatu objek, dan lain-lain.

2. Pengomunikasian (communication)

Sejumlah besar objek, peristiwa, dan segala yang ada dalam kehidupan di sekitar, lebih mudah dipelajari apabila dilakukan dengan cara menentukan berbagai jenis golongan. Menggolongkan dan mengamati persamaan, perbedaan dan hubungan serta pengelompokan objek berdasarkan kesesuaian dengan berbagai tujuan. Keterampilan mengidentifikasi persamaan dan perbedaan berbagai objek peristiwa berdasarkan sifat-sifat khususnya sehingga didapatkan golongan atau kelompok sejenis dari objek peristiwa yang dimaksud.

3. Pengklasifikasian(classification)

Manusia mulai belajar pada awal-awal kehidupan bahwa komunikasi merupakan dasar untuk memecahkan masalah. Keterampilan menyapaikan sesuatu secara lisan maupun tulisan termasuk komunikasi. Mengkomunikasikan dapat diartikan sebagai penyampaikan dan memperoleh fakta, konsep, dan prinsip ilmu pengetahuan dalam bentuk suara, visual, atau suara dan visual (Dimyati dan Mudjiono, 2002: 143). Contoh membaca peta, tabel, garfik, bagan, lambang-lambang, diagaram, demontrasi visual.

4. Pengukuran (measurement)

Mengukur dapat diartikan sebagai membandingkan yang diukur dengan satuan ukuran tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Keterampilan dalam menggunakan alat dalam memperoleh data dapat disebut pengukuran.

5. Penyimpulan (inference)

Melakukan inferensi adalah menyimpulkan. Ini dapat diartikan sebagai suatu keterampilan untuk memutuskan keadaan suatu objek atau peristiwa berdasarkan fakta, konsep dan prinsip yang diketahui.

6. Peramalan (prediction)

Prediksi merupakan keterampilan meramal yang akan terjadi, berdasarkan gejala yang ada. Keteraturan dalam lingkungan kita mengizinkan kita untuk mengenal pola dan untuk memprediksi terhadap pola-pola apa yang mungkin dapat diamati. Dimyati dan Mudjiono (2002: 144) menyatakan bahwa memprediksi dapat diartikan sebagai mengantisipasi atau membuat ramalan tentang segala hal yang akan terjadi pada waktu mendatang, berdasarkan perkiraan pada pola atau kecenderungan tertentu, atau hubungan antara fakta, konsep, dan prinsip dalam pengetahuan.

Keenam keterampilan di atas terintegrasi ketika seorang ilmuwan merancang dan mengadakan sebuah eksperimen. Enam keterampilan dasar di atas sangat penting dalam kedudukannya sebagai keterampilan mandiri sebagaimana pentingnya ketika berkedudukan sebagai keterampilan terintegrasi.

Pada tingkat atau kelas (grades) yang paling awal, siswa akan menghabiskan banyak waktunya untuk menggunakan keterampilan pengamatan dan pengomunikasian. Pada tingkat di atasnya, siswa akan mulai menggunakan keterampilan untuk menarik simpulan dan peramalan. Pengklasifikasian dan pengukuran cenderung digunakan oleh siswa pada berbagai tingkatan. Hal ini dikarenakan terdapatnya berbagai cara untuk mengklasifikasi dan karena metode-metode dan sistem pengukuran harus juga dikenalkan pada anak secara gradual (berangsur-angsur) sepanjang waktu siswa berinteraksi dengan sains.

KETERAMPILAN TERINTEGRASI

Keterampilan terintegrasi merupakan perpaduan dua kemampuan keterampilan proses dasar atau lebih. Keterampilan terintegrasi terdiri atas: mengidentifikasi variabel, tabulasi, grafik, diskripsi hubungan variabel, perolehan dan proses data, analisis penyelidikan, hipotesis ekperimen.

1. Identifikasi variable

Keterampilan mengenal ciri khas dari faktor yang ikut menentukan perubahan

2. Tabulasi

Keterampilan penyajian data dalam bentuk tabel, untuk mempermudah pembacaan hubungan antarkomponen (penyusunan data menurut lajur-lajur yang tersedia)

3. Grafik

Keterampilan penyajian dengan garis tentang turun naiknya sesuatu keadaan.

4. Diskripsi hubungan variable

Keterampilan membuat sinopsis/pernyataan hubungan faktor-faktor yang menentukan perubahan.

5. Perolehan dan proses data

Keterampilan melakukan langkah secara urut untuk meperoleh data.

6. Analisis penyelidikan

Keterampilan menguraikan pokok persoalan atas bagian-bagian dan terpecahkannya permasalahan berdasarkan metode yang konsisten untuk mencapai pengertian tentang prinsip -prinsip dasar.

7. Hipotesis

Keterampilan merumuskan dugaan sementara.

8. Ekperimen

Keterampilan melakukan percobaan untuk membuktikan suatu teori/penjelasan berdasarkan pengamatan dan penalaran.

Keterampian proses seperti yang diutarakan oleh Funk merupakan keterampilan proses yang harus diaplikasikan pada pendidikan di sekolah oleh guru. Pembelajaran sains menekankan pada pembentukan keterampilan memperoleh pengetahuan dan mengembangkan sikap ilmiah. Hal ini bisa tercapai apabila dalam pembelajaran menggunakan pendekatan keterampilan proses baik keterampilan proses dasar maupun keterampilan proses terintegrasi (terpadu) seperti terungkap di atas.

Keterampilan memperoleh pengetahuan yang ingin dibentuk adalah daya pikir dan kreasi. Daya pikir dan daya kreasi merupakan indikator perkembangan kognitif. Para ahli psikologi pendidikan menemukan bahwa pekembangan kognitif bukan merupakan akumulasi kepingan informasi atau kepingan perubahan informasi yang terpisah, tetapi merupakan pembentukan oleh anak suatu kerangka atau jaringan mental untuk memahami lingkungan.

E. KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN INKUIRI

Pendekatan keterampilan proses merupakan pendekatan belajar mengajar yang mengarah kepada pengembangan kemampuan mental, fisik, dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan yang lebih tinggi dalam diri individu siswa. Pendekatan keterampilan proses sebagai pendekatan yang menekankan pada pertumbuhan dan pengembangan sejumlah keterampilan tertentu pada diri peserta didik agar mereka mampu memproses informasi sehingga ditemukan hal-hal yang baru yang bermanfaat baik berupa fakta, konsep, maupun pengembangan sikap dan nilai. (Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati, 2000 : 77-78).

Sejalan dengan asumsi di atas, maka belajar-mengajar dipandang sebagai suatu proses yang harus dialami oleh setiap peserta didik atau siswa. Belajar mengajar tidak hanya menekankan kepada apa yang dipelajari, tetapi juga menekankan bagaimana ia harus belajar. Para guru dapat menumbuhkan dan mengembangkan potensi, kemampuan dan keterampilan-keterampilan peserta didik sesuai dengan taraf perkembangan pemikirannya. Pendekatan Proses (pendekatan keterampilan proses) ini senada dengan pendekatan inkuiri, karena memiliki ciri-ciri yang sama, yaitu :

1) Mendambakan aktivitas siswa untuk memperoleh informasi dari berbagai sumber (misalnya dari observasi, eksperimen dan sebagainya);

2) Guru tidak dominan melainkan selaku organisator dan fasilitator. Pendekatan ini disebut pendekatan proses karena memiliki ciri-ciri khusus yang berkenaan dengan proses pengolahan informasi yaitu:

a) Ilmu pengetahuan tidak dipandang sebagai produk semata, tetapi dan terutama seagai proses;

b) Anak didik dilatih untuk terampil dalam memperoleh dan memproses informasi dalam pikirannya sesuai dengan langkah-langkah metode ilmiah. Misalnya terampil dalam observasi termasuk pengukuran (panjang, lebar, waktu, ruang, berat) keterampilan mengklasifikasi termasuk membedakannya berdasarkan berbagai aspek (bentuk, warna, berat dan sebagainya). Siswa juga dilatih untuk membuat hipotesis dan mengujinya melalui eksperimen. (Hendro Darmodjo dan Jenny R.E. Kaligis, 1992:38). Dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan memproseskan perolehan, anak akan mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Dengan demikian, keterampilan-keterampilan itu menjadi roda penggerak penemuan dan pengembangan sikap dan nilai. Seluruh irama gerak atau tindakan dalam proses belajar mengajar seperti ini akan menciptakan kondisi cara belajar siswa aktif. Inilah sebenarnya yang dimaksud dengan pendekatan proses. (Conny Semiawan dkk, 1985 :18). Berdasarkan uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa yang dimaksud dengan pendekatan keterampilan proses adalah kegiatan belajar mengajar dengan penekanan pengembangan keterampilan peserta didik dalam memproses informasi sehingga ditemukan hal-hal yang baru dan bermanfaat baik berupa fakta, konsep, sikap dan nilai. Sehubungan dengan kerangka berpikir dalam pendekatan keterampilan proses bahwa pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran IPA adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran IPA (Fisika, biologi) itu terbentuk dan berkembang melalui suatu proses ilmiah yang juga harus dikembangkan oleh peserta didik sebagai pengalaman yang bermakna yang menjadi bekal perkembangan diri selanjutnya. Tujuan belajar dari pendekatan keterampilan proses adalah memperoleh pengetahuan suatu cara untuk melatih kemampuan-kemampuan intelektualnya dan merangsanag keingintahuan serta dapat memotivasi kemampuan untuk meningkatkan pengetahuan yang baru diperolehnya. (Lambang Subagiyo, 2002:1). Conny Semiawan dkk, merinci alasan yang melandasi perlunya diterapkan pendekatan keterampilan proses dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari:

3) Perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung semakin cepat sehingga tak mungkin lagi para guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada siswa. Untuk mengatasi hal tersebut, siswa diberi bekal keterampilan proses yang dapat mereka gunakan untuk memperoleh ilmu pengetahuan tanpa tergantung dari guru.

4) Para ahli psikologi umumnya sependapat bahwa anak-anak mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai dengan contoh-contoh konkrit, contoh-contoh yang wajar sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, dengan mempraktekkan sendiri upaya penemuan konsep melalui perlakuan terhadap kenyataan fisik, melalui penanganan benda-benda yang benar-benar nyata. Tugas guru bukanlah memberikan pengetahuan, melainkan menyiapkan situasi menggiring anak untuk bertanya, mengamati, mengadakan eksperimen, serta menemukan fakta dan konsep sendiri.

5) Penemuan ilmu pengetahuan tidak bersifat mutlak benar seratus persen, penemuannya bersifat relatif. Suatu teori mungkin terbantah dan ditolak setelah orang mendapatkan data baru yang mampu membuktikan kekeliruan teori yang dianut. Muncul lagi, teori baru yang prinsipnya mengandung kebenaran yang relatif. Jika kita hendak menanamkan sikap ilmiah pada diri anak, maka anak perlu dilatih untuk selalu bertanya, berpikir kritis, dan mengusahakan kemungkinan-kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah. Dengan perkataan lain anak perlu dibina berpikir dan bertindak kreatif.

6) Dalam proses belajar mengajar seyogyanya pengembangan konsep tidak dilepaskan dari pengembangan sikap dan nilai dalam diri anak anak didik. Konsep disatu pihak serta sikap dan nilai di lain pihak harus disatu kaitkan. (Conny Semiawan dkk, 1985 : 15-16)

F. KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN DAP

DAP (Developmentally Appropiate Practice) adalah suatu kerangka acuan, suatu filosofis atau pendekatan bagaimana berinteraksi dan bekerja sama dengan anak (peserta didik). Menurut pendekatan ini, pengejawantahan pengetahuan tentang perkembangan peserta didik atau hal-hal yang berkenaan bagi anak sekolah dasra ke dalam setiap implikasi praktis pengembangan pengajaran, tidaklah bisa diabaikan. Bredekamp dalam Sumantri (2001) mengemukakan bahwa konsep DAP menunjukkan bahwa pendekatan pengajaran yang berorientasi pada perkembangan anak itu mempunyai dua pemahaman. Pertama dimensi umur (age appropriate) dan yang kedua adalah dimensi individual (individual approppriate). Pemahaman atas perkembangan peserta didik sekaligus keunikannya, akan sangat dibutuhkan oleh guru dalam mengidentifikasikan rentang perilaku yang cocok (perilaku pada diri anak) sebagai tujuan yang dapat dicapai dalam pengajaran, kegiatan dan pengalaman belajar yang tepat diciptakan, dan bahan pengajaran yang sepadan bagi kelompok usia tertentu serta sistem evaluasi yang hendak digunakan. Untuk memahami keterampilan proses yang mana yang cocok untuk dikembangkan bagi siswa disesuaikan dengan karakteristiknya terutama usianya, maka berikut ini disajikan tabel mengenai hubungan DAP dan Keterampilan Proses Sains seperti yang diungkapkan oleh J. Longfield, Jan. 2002 from Charlesworth & Lind. (1999).

DAP and Science Process Skills

Skill

Explanation

Connected Ideas

Basicdevelopmentally appropriate for age 5 and above

Observing

Using the senses (sight, smell, sound, touch, and taste) to gather information about the world around us.

- most fundamental scientific process

- first step in gathering information to solve a problem

- reinforce skill by requiring carefully observation, noting specific phenomena that can be overlooked

Comparing & Contrasting

Looking at similarities and differences in real objects.

- as children develop observation skills, they naturally begin to compare and contrast, and to identify similarities and differences

- sharpens observation skills & is first step towards classifying

- primary children begin to compare & contrast objects, ideas, concepts

Classifying

Grouping & sorting according to properties like size, shape, color, use, etc.

- begins when children group & sort real objects

- to group, children need to compare objects & develop subsets—a group that shares a common characteristic unique to that group

- children initially group by one property

- as children advance, objects or ideas are put together using two or more characteristics

Measuring

Quantitative description made through direct observation or indirectly with unit of measure.

- can involve numbers, distances, time, volumes, temperature, etc.

- placing objects in order by sequence (seriation), length, shade, etc.

Communicating

Communicating ideas, directions, & descriptions orally or in written form so others can understand what you mean.

- refers to skill of describing a phenomenon

- can be oral or written, also pictures, dioramas, maps, graphs, journals, reports

- information must be collected, arranged, & presented in a way that helps others understand

- encouraged when teachers ask children to keep logs, draw diagrams, graphs, or otherwise record an experiment they have conducted & observed

Intermediatedevelopmentally appropriate for ages 9-11 and above

Predicting

Making reasonable guesses or estimations based on observations and prior knowledge or experiences.

- a statement about what you expect to happen

- children need prior knowledge to make a reasonable prediction

- prediction is important in developing understanding of cause & effect—appropriately introduced in primary grades as a “best guess”

Inferring

Based on observation but suggests more meaning about a situation than can be directly observed.

- when children infer, they make observations, categorize them, try to give them meaning

- unlike an observation, an inference is indirect

- requires a reasonable assumption of prior knowledge

- requires children to infer something unseen—–has not happened or cannot be observed—most appropriate for middle‑level grades

Advanceddevelopmentally appropriate for age 12 and above

Hypothesizing

Devising a statement, based on observations, to be tested by experiment.

- statement of relationship that might exist between two variables—— If . . . then

- more formal application than investigative questions children explore in pre-K-3

- formal scientific experiments contain a hypothesis & control variable(s)

Defining & Controlling Variables

Deciding which variables to study or control to conduct a controlled experiment.

- in a formal experiment, variables are defined & controlled

- Example: when investigating plant growth in the dark, must also grow a plant in the light





G. PENERAPAN KPS DALAM SILABUS DAN RPP SAINS SD

Berikut ini disajikan contoh penerapan pendekatan Keterampilan Proses dan pembelajaran Sain di Sekolah Dasar dilengkapi Silabus, RPP dan soal evaluasi.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran : IPA

Satuan Pendidikan : SD

Kelas/Semester : IV/ II

Alokasi Waktu : 3 X Pertemuan

Standar Kompetensi :

10. Memahami perubahan lingkungan fisik dan pengaruhnya terhadap daratan.

Kompetensi Dasar :

10.1 Mendeskripsikan berbagai penyebab perubahan lingkungan fisik (angin, hujan, cahaya, waktu dan gelombang air laut).

Indikator :

10.1.1. Menjelaskan perubahan lingkungan yang ditimbulkan oleh angin dan matahari terhadap daratan dan lautan

10.1.2. Menjelaskan perubahan lingkungan fisik yang ditimbulkan oleh erosi tanah dan penanggulangannya

10.1.3. Menjelaskan perubahan lingkungan fisik yang ditimbulkan oleh erosi angin

10.1.4. Menjelaskan perubahan fisik yang ditimbulkan oleh abrasi dan penggulangnnya

A. Tujuan Pembelajaran

- Menyebutkan dan menjelaskan perubahan lingkungan

- Menyebutkan dan menjelaskan perubahan lingkungan yang ditimbulkan oleh gempa bumi dan gunung meletus

- Menyebutkan dan menjelaskan perubahan lingkungan yang ditimbulkan oleh sinar matahari dan hujan

- Menyebutkan dan menjelaskan perubahan lingkungan yang ditimbulkan oleh angin dan gelombang laut

- Menyebutkan dan menjelaskan perubahan lingkungan yang ditimbulkan oleh longsor tanah dan aktifitas manusia

- Menjelaskan dan menunjukkan terjadinya abrasi dan cara pencegahannya

- Menjelaskan dan menunjukkan peristiwa erosi dan cara pencegahannya

B. Materi Pokok/Materi pembelajaran

Perubahan Penampakan Bumi

a. Perubahan lingkungan :

- Daratan

- Lautan

b. Penyebab perubahan lingkungan :

- Gempa bumi

- Gunung meletus

- Sinar matahari

- Hujan

- Angin dan gelombang laut

- Longsor tanah dan aktifitas manusia

- Erosi

- Abrasi

C. Metode Pembelajaran

- Pendekatan : Keterampilan Proses Sains

D. Langkah-langkah kegiatan

1. Kegiatan Awal

- Siswa dikondisikan ke dalam situasi belajar yang kondusif.

- Sebagai apersepsi, guru meminta siswa mengamati dan membandingkan beberapa gambar kenampakan alam yang terdapat di papan tulis. (basic skills : pengamatan dan pengelompokkan).

- Guru memberikan kesempatan kepada dua atau tiga orang siswa untuk mengemukakan pendapatnya mengenai hasil pengamatannya. (basic skills : communication)

- Guru menghubungkan hasil pengamatan siswa dengan materi kenampakan alam yang pernah diperolehnya di kelas 3 yang lalu.

2. Kegiatan Inti

Pertemuan pertama

( KPS yang dikembangkan adalah basic skills ; observation, classification , communication, prediction dan inferring )

- Guru mendemonstrasikan kegiatan yang menunjukkan proses terjadinya angin darat atau angin laut.

- Siswa menyimak dan membuat catatan penting tentang kegiatan.

- Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan dan berdiskusi secara klasikal di bawah bimbingannya.

- Siswa menyimak penjelasan guru tentang materi tersebut kemudian menyimpulkan hasil kegiatan dengan bantuan guru.

Pertemuan kedua

(Keterampilan proses yang dikembangkan adalah keterampilan proses terintegrasi yaitu eksperimen mulai dari tahap persiapan alat, pelaksanaan, pembuatan kesimpulan serta kemampuan menulis laporan dan mengkomunikasikannya)

- Siswa dibagi kedalam beberapa kelompok yang terdiri dari 4-6 orang

- Siswa melakukan kegiatan eksperimen tentang proses terjadinya erosi.

- Siswa membuat laporan dari hasil kegiatan tersebut dan melaporkannya di depan kelas secara bergantian.

- Siswa mendiskusikan hasil kegiatan dengan bantuan/bimbingan guru.

- Siswa menyimak penjelasan guru untuk memperdalam materi yang didiskusikan tersebut.

Pertemuan ketiga

(Keterampilan proses yang dikembangkan adalah kemampuan siswa dalam mengolah data, membuat tabel/bagan , membuat kliping dan mengkomunikasikan hasilnya)

- Siswa sebelumnya ditugaskan untuk mengumpulkan informasi dari berbagai media mengenai perubahan lingkungan baik yang disebabkan oleh alam maupun oleh manusia.

- Siswa mengelompokkan perubahan lingkungan tersebut dengan membuat bagan atau tabel.

- Siswa membuat kliping dari berbagai informasi yang diperolehnya secara berkelompok.

- Siswa mengkomunikasikan hasil kegiatan secara bergantian di depan kelas dengan bantuan guru.

3. Kegiatan Akhir

- Siswa membuat catatan/resume untuk setiap pertemuan

- Guru mengarahkan siswa untuk membuat kesimpulan dari setiap kegiatan pembelajaran yang dilakukan di kelas.

- Guru memberikan tugas untuk dikerjakan oleh siswa di rumah, seperti : mengumpulkan informasi dari berbagai media mengenai perubahan alam, serta latihan soal untuk meningkatkan penguasaan konsep sains.

E. Sumber Belajar

- KTSP

- Buku-buku pelajaran IPA SD yang relevan

- Berbagai media seperti koran, internet, dsb.

F.Penilaian Hasil Belajar

1. Teknik Penilaian

a.Tes lisan

b.Tes tulisan

c. Tes unjuk kerja

2. Format penilaian

Format 1

Penilaian untuk Proses : Penanaman Konsep

No

Nama Siswa

Pengetahuan

Keterampilan

Sikap

Ketepatan jawaban dalam tanya jawab

Mengajukan jawaban, pertanyaan dan pendapat

Kelancaran membaca

Jumlah skor

Rata-rata

Keberanian

Keaktifan

Menghargai orang lain

Jumlah skor

Rata-rata

Format 2

Penilaian untuk Proses : Kegiatan

No

Nama Siswa

Keterampilan

Sikap

Menyiapkan alat dan bahan

Melakukan kegiatan

Laporan hasil kegiatan

Kemampuan berdiskusi

Jumlah skor

Rata-rata

Kerjasama

Keaktifan

Menghargai orang lain

Memecahkan masalah

Keberanian berpresentasi

Jumlah skor

Rata-rata

Format 3

Penilaian untuk Proses : Proyek

No

Nama Siswa

Keterampilan

Sikap

Ketepatan

Keterampilan menggali informasi

Menyususn Laporan

Produk hasil proyek

Keterampilan berpresentasi

Jumlah skor

Rata-rata

Kerjasama

Keaktifan

Menghargai orang lain

Memecahkan masalah

Keberanian berpresentasi

Jumlah skor

Rata-rata

Mengetahui, Bandung, ......

Kepala Sekolah Guru Kelas

(..........................) (.......................)