Laman

Tampilkan postingan dengan label Piaget. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Piaget. Tampilkan semua postingan

08 Februari 2012

Perkembangan Kognitif Bayi

PERKEMBANGAN KOGNITIF PADA MASA BAYI
Disarikan oleh: Sri Hendrawati

Perkembangan Kognitif Bayi Menurut Piaget
a.      
           Skema Proses Kognitif
Istilah skema mengacu kepada unit (atau unit-unit) dasar atas suatu pola pemfungsian sensoris-motorik yang terorganisasi.Piaget meyakini bahwa perkembangan seorang anak melalui serangkaian tahap pemikiran dari masa bayi hingga dewasa. Kemampuan bayi berasal dari tekanan biologis untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan (melalui asimilasi dan akomodasi) dan adanya pengorganisasian struktur politik.

b.      Perpaduan dan Bantuan
Bantuan di artikan sebagai tenaga pengasuh dalam tempat penitipan anak atau tenaga pengasuh yang ada di rumah bersama anak. Penting sekali untuk para pengasuh mempelajari kurikulum dan tahapan dalam mengembangkan perkembangan kognitif anak. Kurikulum ini di lakukan dalam 6 tahap, yaitu reflesks sederhana (lahir-1bulan), kebiasaan pertama dan reaksi sirkuler primer (1-4 bulan), reaksi sirkuler sekunder (4-8 bulan), koordinasi reaksi sirkuler sekunder (8-12 bulan), reaksi sirkuler tersier (kesenangan akan sesuatu yang baru dan keingintahuan, usia 12-18 bulan), dan internalisasi skema (18 – 24 bulan).

Tahap Perkembangan Sensorimotor
a.      Sub Tahap:

1.      REFLEKS SEDERHANA
Ialah tahap sensoris-motorik pertama Piaget, yang terjadi pada bulan setelah kelahiran. pada tahap ini alat dasar koordinasi sensasi dan aksi ialah melalui prilaku refleksif, seperti mencari dan menghisap yang di miliki bayi sejak kelahiran.

2.      KEBIASAAN-KEBIASAAN PERTAMA DAN REAKSI SIRKULER PRIMER
Ialah subtahap sensoris-motorik kedua Piaget, yang berkembangan antara usia 1 dan 4 bulan. Pada subtahap ini, bayi belajar mengkoordinasikan sensasi dan tipe skema atau struktur-yaitu, kebiasaan-kebiasaan reaksi sirkuler primer. 

3.      REAKSI SIRKULER SEKUNDER
Ialah subtahap sensoris-motorik ketiga Piaget yang berkembangan antara 4 dan 8 bulan. Pada subtahap ini bayi semakin berorientasi atau berfokus pada benda di dunia, yang bergerak di dalam keasyikan dengan diri sendiri dalam interaksi sosiomotorik. 

4.      KORDINASI REAKSI SIRKULER SEKUNDER
Ialah sub tahap motorik yang berkembang antara usia 8 dan 12 bulan. Pada subtahap ini beberapa perubahan yang signifikan berlangsung yang meliputi koordinasi dan kesengajaan. 

5.      REAKSI SIRKULER TERSIER
Ialah subtahap sensoris-motorik kelima Piaget, yang berkembang antara usia 12 dan 18 bulan. Pada subtahap ini, bayi semakin tergugah minatnya oleh berbagai hal yang ada pada benda-benda itu dan oleh banyaknya hal yang dapat mereka lakukan pada benda-benda itu.s

6.      INTERNALISASI SKEMA
Ialah subtahap sensoris-motorik keenam dan terakhir Piaget, yang berkembang antara usia 18 dan 24 bulan. Pada subtahap ini, fungsi menyal bayi berubah dari suatu taraf sensoris-motorik murni menjadi suatu taraf simbolis, dan bayi mulai mengembangkan kemampuan untuk menggunakan simbol-simbol primitif. 

      Ketetapan Benda
Adalah suatu pemahaman bahwa objek-objek akan tetap eksis bahkan ketika objek tersebut tidak dapat lagi dilihat, didengar, atau disentuh. Perolehan permanensi obyek merupakan salah satu pencapaian terpenting bagi bayi.
c   
      Evaluasi Tahap Sensorimotor Piaget

1.      Ab Error
Adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan bayi yang melakukan kesalahan memilih tempat persembunyian yang familier(A) ketimbang tempat persembunyian baru (B) saat mereka menuju perkembangan subtahapan 4.
2.      Persepsi dan Dugaan Perkembangan
Piaget meyakini bahwa kemampuan bayi membangun skema sensoris-motorik membangun dunia benda yang koheren dan peristiwa yang cocok untuk membangun isi gagasan, meniru, dan membentuk gambaran atas benda yang ia lihat di capai pada pertengahan tahun kedua. Pemrosesan informasi oleh bayi mengalami kemajuan, dengan adanya kemampuan dalam memberi perhatian, menciptakan, simbolisasi, meniru, dan kemampuan konseptual.
d      
                BELAJAR, MENGINGAT DAN MENGKONSEP

1.      Perhatian
Habituation dapat digambarkan sebagai hilangnya perhatian, sedangkan dishabituation dapat digambarkan sebagai hilangnya perhatian. Pentingnya asek-aspek perhatian pada bayi selama bertahun-tahun prasekolah ditegaskan oleh penelitian yang menunjukkan bahwa hilangnya dan pulihnya perhatian, bila diukur pada enam bulan pertama masa bayi, berkaitan dengan tingginya kecerdasan pada tahun-tahun prasekolah. Salah satu kekurangan dalam perhatian selama tahun-tahun prasekolah menyangkut dimensi-dimensi tersebut yang menonjol dibandingkan dengan dimensi yang relevan untuk memecahkan masalah atau mengerjakan tugas dengan baik.
2.      Meniru
Kemampuan imitasi bayi secara biologis telah muncul sjak lahir, karena bayi ternyata dapat meniru ekspresi wajah dalam beberapa hari pertama setelah kelahiran, sebelum mereka memiliki kesempatan untuk mengamati orang-orang dilingkungan mereka untuk menarik perhatian bayi. Ini merupakan peristiwa yang melibatkan fleksibilitas, adaptabilitas, dan persepsi menyeluruh.
3.      Memori
Unsur pusat perkembangan kognitif yang memuat seluruh situasi yang didalamnya individu menyimpan informasi yang ia terima sepanjang waktu. Ingatan ialah suatu proses sentral dalam prkembangan kognitif anak; ingatan meliputi penyimpanan informasi terus-menerus. Ingatan sadar muncul pada usia tujuh bulan, walaupun anak-anak dan orang dewasa memiliki sedikit atau tidak ingat lagi akan peristiwa-peristiwa yang dialami sebelum usia tiga tahun.
Dalam ingatan jangka pendek individu menyimpan informasi selama 15 atau 30 detik dengan asumsi tidak ada latihan atau pengulangan.
4.      Pembentukan Konsep dan Pengkonsepan
Untuk dapat mengetahui apa yang di pikirkan oleh seorang bayi maka di gunakan kegiatan simbolis, seperti menggunakan strategi untuk memperlihatkan kesadaran motorik bayi (motor recognition). Pada usia 6 hingga 7 bulan bayi menggunakan tanda-tanda konvensional.
5.      Perbedaan Individu dan Penilaian
1.      PREDIKSI INTELEGENSI
Untuk memprediksi intelegensi bayi maka dapat digunakan dua skala, yaitu :
§     Developmental quotient, DQ, ialah skor perkembangan keseluruhan yang meliputi subskor pada bidang motorik, bahasa, daya adaptif, dan interaksi personal sosial dalam pengukuran bayi Gessel.
§     Skala perkembangan bayi Bayley, di kembangkan oleh Nancy Bayley (1969), di gunakan secara luas dalam pengukuran perkembangan bayi. Versi terbaru memiliki tiga komponen : skala mental, skala motorik, dan profil perilaku bayi.

 Perkembangan Bahasa Bayi

1.      PENGERTIAN BAHASA DAN PENGATURANNYA.
Bahasa adalah suatu sistem simbol yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Pada manusia ditandai oleh daya cipta yang tidak pernah habis dan adanya sebuah system aturan.
Phonologi ialah studi tentang sistem bunyi-bunyian bahasa.
Morfologi mengacu pada pengkombinasian morfem, morfem ialah rangkaian bunyi-bunyian terkecil yang memberi makna kepada apa yang kita ucapkan dan dengar.
Sintaksis melibatkan bahasa bagaimana kata-kata dikombinasikan untuk membentuk ungkapan dan kalimat yang dapat diterima. Yang berkaitan dengan sintaksis adalah tata bahasa (grammar) yaitu gambaran formal tentang ketentuan sintaksis.
Semantik adalah mengacu pada makna kata dan kalimat.
Pragmatik adalah kemampuan untuk melibatkan diri dalam percakapan yang sesuai dengan maksud dan keinginan.

2.      BAGAIMANA MENGEMBANGKAN BAHASA
Pada usia bayi 3 hingga 6 bulan, bayi mengembangkan kemampuan dalam berbahasa. Bayi membutuhkan pendampingan orang tua dengan adanya kontak mata, suara, dan tindakan-tindakan.Pada usia 6 hingga 9 bulan bayi mulai memahami kata-kata pertama mereka atau yang di sebut perbendaharaan kata yang di terima (receptive vocabulary) yang mengacu pada kata-kata yang di pahami oleh seseorang. Pada usia 9 hingga 12 bulan, bayi mulai memahami pelajaran seperti “daaah” ketika mengucapkan selamat tinggal.Dan pada usia bayi 10 hingga 15 bulan, bayi mulai dapat mengucapkan kata pertamanya dan perkembangan bahasa bayi meningkat pada usia 2 tahun dengan pemahaman mencapai rata-rata 200-275 kata. Pada usia ini anak dapat mengucapkan satu kata, misalnya “mama” atau “papa”. Pada masa ini anak mengembangkan hipotesis holofrase, yaitu suatu konsep bahwa suatu kata tunggal di gunakan untuk mengartikan suatu kalimat sempurna, dan ini merupakan ciri kata pertama seorang anak. Pada usia 18 hingga 24 bulan anak mulai dapat mengucapkan pertanyaan dengan dua kata, misalnya “permen saya”. Anak menyampaikan makna dengan kata, gerak isyarat, tekanan suaram dan konteks yang tepat. Panjang pengucapan rata-rata (mean length of utterance, MLU) yaitu sebuah indeks perkembangan bahasa yang di dasarkan atas jumlah per kalimat yang di hasilkan oleh seorang anak di dalam suatu sampel yang terdiri dari sekitar 50 hingga 100 kalimat, sebagai sebuah indeks kematangan bahasa yang baik. 

3.   PENGARUH BIOLOGIS DAN LINGKUNGAN
Faktor biologis dan lingkungan menjadi faktor yang turut mempengaruhi kemampuan berbahasa anak. Menurut Chomsky bahwa manusia terikat secara biologis untuk mempelajari bahasa dan memiliki suatu alat penguasaan bahasa. Sedangkan pada aspek lingkungan, anak di perkenalkan bahasa sejak awal perkembangan mereka. Beberapa cara orang dewasa mengajarkan bahasa kepada bayi ialah
·         Motherese adalah cara ibu dan orang dewasa sering berbicara kepada bayi dengan frekuensi dan hubungan yang lebih luas daripada normal, dan dengan kalimat-kalimat yang sederhana.
·         Recasting (menyusun ulang) adalah pengucapan makna suatu kalimat yang sama atau yang mirip dengan cara yang berbeda, barangkali dengan mengucah menjadi satu pertanyaan.
·         Echoing (menggemakan) adalah mengulangi apa yang anak katakana kepada anda, khususnya apabila perkataan itu adalah suatu ungkapan atau kalimat yang tidak sempurna.
·         Expanding (memperluas) adalah menyatakan ulang apa yang anak telah katakan dalam bahasa yang secara linguistik “canggih”
·         Labeling (memberi nama) adalah mengidentifikasi nama-nama benda.

Orang tua sebaiknya berbicara kepada anak secara ekstensif, khususnya tentang apa yang di pelajari oleh bayi pada saat itu. Pembicaraan sebaiknya mengutamakan pembicaraan langsung bukan pembicaraan mekanis
 
 
Anak mengalami perkembangan yang pesat pada masa bayi, perkembangan dalam bahasa dan kognitif juga mengalami perkembangan. Anak mengalami beberapa fase untuk mencapai keberhasilan dalam berbahasa, penggunaan bahasa yang baik oleh anak di tentukan juga oleh faktor lingkungan selain dari faktor biologis.
Pengasuhan orang tua dalam membimbing dan mendampingi anak menjadi faktor utama yang menentukan perkembangan anak. Dan sebagai tenaga pendidik sebaiknya masing-masing kita terlebih dahulu membentuk dan mengupayakan bagaimana anak dapat mengembangkan kemampuannya sejak anak itu di lahirkan. Dalam keluarga peran ayah dan ibu sebagai pasangan yang saling membutuhkan dan melengkapi.
Melalui alat-alat permainan yang di berikan oleh orang tua anak mengembangkan kemampuannya dalam menyerap informasi, orang tua seharusnya memahami betul apa yang di butuhkan anak buka memaksakan apa yang di anggap baik oleh orang tua itu sendiri. pendidikan kognitif dan berbahasa yang baik bukan hanya tanggung jawab guru di sekolah tetapi pendidikan kognitif dan kemampuan dalam berbahasa adalah tanggung jawab bersama guru, orang tua dan lingkungan tempat anak hidup.
Sebagai seorang pendidik ada baiknya ketika seorang guru pun menekankan pada pendidikan anak pada setiap tahap dengan lebih jeli dan teliti, ketika terjadi permasalahan dengan anak maka guru dapat mengenali berbagai macam karakter anak sehingga ke depannya dapat memperlakukan anak dengan baik dan sesuai dengan kebutuhan anak.






07 Februari 2012

TEORI PIAGET


Proses Memperoleh Pengetahuan Menurut Piaget
Oleh: Sri Hendrawati, M.Pd


           Banyak sekali teori belajar yang menggambarkan bagaimana siswa belajar dan memperoleh pengetahuannya, salah satunya adalah teori kognitif Piaget.  Piaget erupakan salah satu tokoh pendidikan yang sangat berjasa yang membantu pemahaman kita mengenai perkembangan kognitif terutama pada anak dan remaja.  Piaget memang tidak mengkhususkan penelitiannya untuk perkembangan dunia pendidikan, namun hasil dari penelitiannya sangat relevan dan membantu kita dalam memahami perkembangan individu dalam aspek kognitif, bagaimana siswa memperoleh pengetahuan dan bagaimana siswa belajar.

Istilah kognitif berasal dari bahasa latin “cognoscre” yang berarti mengetahui (to know). Dalam Peterson(1996,685), cognition berarti a general term for thought or intellectual function. Cognition involves mental processes such as perseptioning,reasoning,language,judgement and imagination.
Istilah kognitif ini erat kaitannya dengan konsep intelektual atau intelegensia. Claparede dan Stern mendefinisikan intelegensia sebagai suatu adaptasi mental pada lingkungan baru (Piaget,1981,halm.9 dalam Suparno,2001). Gardner (2003,hal.83) mengemukakan bahwa intelegensia adalah potensi biopsikologis yang ditentukan oleh faktor genetik dan sifat-sifat psikologinya, mulai dari kekuatan kognitifnya sampai dengan kecenderungan kepribadiannya.

Untuk memahami teori perkembangan kognitif dari Jean Piaget, ada beberapa konsep yang harus dipahami terlebih dahulu, yaitu :
a.         Inteligensi
Piaget mengartikan intelegensia secara lebih luas dan tidak mendefinisikannya secara ketat. Ia memberikan beberapa definisi yang umum yang lebih mengungkapkan orientasi biologis, seperti yang terdapat dalam Suparno (2001,hal.19) :
  • Intelegensi adalah suatu contoh khusus adaptasi biologis …(Origin of Intelligence,hal.3-4)
  •  Intelegensi adalah suatu bentuk ekuilibrium kearah mana semua struktur yang menghasilkan persepsi, kebiasaan, dan mekanisme sensori diarahkan… (Piaget,1981,halm.6)
Secara progressif, dapat dikatakan bahwa :
  • Inteligensi membentuk keadaan ekuilibrium kearah mana semua adaptasi sifat-sifat sensorimotor dan kognitif dan juga interaksi-interaksi asimilasi dan akomodasi antara organisme dan lingkungan mengacu (Piaget,1981).
b.            Organisasi
Menunjuk pada tendensi semua spesies untuk mengadakan sistematisasi dan mengorganisasi proses-proses mereka dalam sustu sistem yang koheren, baik secara fisis maupun psikologis (Suparno,2003,hal.19). Contoh : bayi menggabungkan kemampuan melihat dan menjamah. 

c.             Skema
Schema is Piaget’s term for cognitive unit that coordinates related actions and perceptions (Peterson,1996,hal.699). Skema adalah struktur mental seseorang dimana ia secara intelektual beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Skema itu akan beradaptasi dan berubah selama perkembangan kognitif seseorang. Skema bukanlah benda yang nyata yang dapat dilihat, melainkan suatu rangkaian proses dalam sistem kesadaran seseorang. Skema tidak mempunyai bentuk fisik dan tidak dapat dilihat. (Wadsworth,1989 dalam Suparno)

d.            Asimilasi
Assimilation is Piaget’term for the incorporation of new information into an existing mental category or schema(Peterson,1996,hal.684). asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi,konsep atau pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada di dalam fikirannya. Menurut Wadsworth dalam Suparno, asimilasi tidak menyebabkan perubahan skemata, tetapi memperkembangkan skemata.

e.             Akomodasi
Accomodation is Piaget’term for alteration of a thought process, or schema, to incorporate new information (Peterson,1996,hal.683). Akomodasi adalah pembentukan skema baru atau mengubah skema yang lama, hal ini terjadi karena dalam menghadapi rangsangan/pengalaman baru, seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru itu dengan skema yang telah ia miliki, hal ini terjadi karena pengalaman baru itu tidak cocok dengan skema yang telah ada.

f.             Ekuilibrasi
Equilibration is the act of achieving equilibrium.
Equilibrium is a state of harmony or stability. In Piaget’s theory, relative (or temporary) equilibrium occurs whenever assimilation and accommodation are in balance with one another (Peterson,1996;hal.689).

g.            Adaptasi
Adaptation in Piaget’s theory consist of an interplay between the processes of assimilation and accommodation (Peterson,1996;hal.683).

Istilah kognitif berasal dari bahasa latin “cognoscre” yang berarti mengetahui (to know). Dalam Peterson(1996,685), cognition berarti a general term for thought or intellectual function. Cognition involves mental processes such as perseptioning,reasoning,language,judgement and imagination.

Istilah kognitif ini erat kaitannya dengan konsep intelektual atau intelegensia. Claparede dan Stern mendefinisikan intelegensia sebagai suatu adaptasi mental pada lingkungan baru (Piaget,1981,halm.9 dalam Suparno,2001). Gardner (2003,hal.83) mengemukakan bahwa intelegensia adalah potensi biopsikologis yang ditentukan oleh faktor genetik dan sifat-sifat psikologinya, mulai dari kekuatan kognitifnya sampai dengan kecenderungan kepribadiannya

Secara garis besar, Piaget mengelompokkan tahap-tahap perkembangan kognitif  menjadi empat tahap, yaitu : tahap sensorimotor, tahap praoperasi, tahap operasional konkret, dan tahap operasional formal.

Tahap sensorimotor lebih ditandai dengan pemikiran berdasarkan tindakan inderawinya. Tahap praoperasional diwarnai dengan mulai digiunakannya symbol-simbol untuk menghadirkan suatu benda atau pemikiran, khususnya penggunaan bahasa. Tahap operasional konkret ditandai dengan penggunaan aturan logis yang jelas. Tahap operasional formal dicirikan dengan pemikiran abstrak, hipotesis, deduktif, serta induktif. Secara skematis, keempat tahap itu dapat digambarkan sebagai berikut :

Skema Empat Tahap Perkembangan Kognitif Piaget
Tahap
Umur
Ciri Pokok Perkembangan
Sensorimotor
0-2 tahun
* Berdasarkan tindakan
* Langkah demi langkah
Praoperasional
2-7 tahun
* Penggunaan symbol/bahasa tanda
* Konsep intuitif
Operasional Konkret
8-11 tahun
* Pakai aturan jelas/logis
* Reversibel dan kekekalan
Operasi Formal
11 tahun ke atas
* Hipotesis
* Abstrak
* Deduktif dan induktif
* Logis dan probabilitas
                                                                                        Sumber : Suparno,2003;hal.25     

Tahap-tahap di atas saling berkaitan. Urutan tahap-tahap tidak dapat ditukar atau dibalik, karena tahap sesudahnya mengandalkan terbentuknya tahap sebelumnya. Tetapi, tahun terbentuknya tahap tersebut dapat berubah sesuai dengan situasi seseorang. Misalnya seseorang dapat mulai tahap operasional formal pada usia 11 tahun, sedangkan ada juga orang yang baru memasukinya pada usia 15 tahun.

Perbedaan pada tiap tahap sangatlah besar karena ada perbedaan kualitas pemikiran yang lain. Meskipun demikian, unsur dari perkembangan sebelumnya tetapi tidak dibuang. Jadi, ada kesinambungan dari tahap ke tahap, walaupun ada juga perbedaan yang sangat mencolok.

Proses Perkembangan Kognitif

1.        Fase sensorimotor (usia 0 – 2 tahun)
Berlangsung dari kelahiran hingga usia 2 tahun. Dalam tahap ini pola kognitif anak masih bersifat biologis yang berpusat pada fungsi-fungsi alat indra dan gerak, kemudian secara bertahap berkembang menjadi kemampuan berinteraksi dengan lingkungan secara lebih tepat.
Pada masa 2 tahun kehidupannya, anak berinteraksi dengan dunia di sekitarnya, terutama melalui aktivitas sensoris (melihat, meraba, merasa, mencium dan mendengar) dan persepsinya terhadap gerakan fisik, dan aktivitas yang berkaitan dengan sensoris tersebut. Koordinasi aktivitas ini disebut dengan istilah sensorimotor.
Fase sensorimotor dimulai dengan gerakan-gerakan refleks yang dimiliki anak sejak dilahirkan. Pada masa ini, anak mulai membangun pemahamannya tentang lingkungan melalui kegiatan sensorimotor, seperti menggenggam, mengisap, melihat, melempar dan secara perlahan ia menyadari bahwa suatu benda tidak menyatu dengan lingkungannya, atau dapat dipisahkan dari lingkungan di mana ia berada. Selanjutnya, ia mulai belajar bahwa benda-benda memiliki sifat-sifat khusus. Anak telah mulai membangun pemahamannya terhadap aspek-aspek kausalitas, bentuk, dan ukuran, sebagai pemahamannya terhadap aktivitas sensorimotor yang dilakukannya.
Pada akhir usia dua tahun, anak sudah menguasai pola-pola sensorimotor yang bersifat kompleks, seperti bagaimana cara mendapatkan benda yang diinginkannya, menggunakan suatu benda dengan tujuan yang berbeda.kemampuan ini merupakan awal kemampuan berpikir simbolis, yaitu kemampuan untuk memikirkan suatu objek tanpa kehadiran objek tersbut secara empiris. 

2.         Fase praoperasional (usia 2 – 7 tahun)
Dalam tahapan ini pola berpikir anak sudah mulai berkembang kepada pola-pola berpikir tertentu. Anak sudah mampu membuat logikanya sendiri meskipun masih bersifat primitif dan kurang rasional. Pada tahap ini, anak-anak mulai melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar.
Anak mulai menyadari bahwa pemahamannya tentang benda-benda di sekitarnya tidak hanya dapat dilakukan melalui kegiatan sensorimotor, akan tetapi juga dapat dilakukan melalui kegiatan bersifat simbolis. Kegiatan ini dapat berupa percakapan dan kegiatan simbolis lainnya. Sabagaimana yang dikemukan oleh Santrock (2005) pemikiran operasional juga mencakup transisi dari penggunaan simbol-simbol primitif kepada yang lebih maju. Fase ini memberikan andil yang besar bagi perkembangan intelektual anak.
Fase ini merupakan masa permulaan bagi anak untuk membangun kemampuannya dalam menyusun pikirannya. Oleh sebab itu, cara berpikir anak pada masa ini belum stabil dan tidak terorganisasi secara baik. Fase ini dibagi ke dalam tiga subfase, yaitu subfase fungsi simbolis, subfase berpikir secara egosentris, dan subfase berpikir secara intuitif.
· Subfase fungsi simbolis (usia 2 – 4 tahun). Kemampuan unutk berpikir tentang objek dan peristiwa walaupun objek tersbeut tidak hadir secara nyata di hadapan anak.
· Subfase berpikir secara egosentris (usia 2 – 4 tahun). Ditandai oleh oleh ketidakmampuan anak untuk memahami perspektif atau cara berpikir orang lain.
· Subfase berpikr secara intuitif (usia 4 – 7 tahun). Kemampuan unutk menciptakan sesuatu, seperti menggambar atau menyusun balok, akan tetapi tidak mengetahui alasan melakukannya. Artinya, anak belum memiki kemampuan berpikir kritis tentang apa yang ada di balik suatu kejadian.

3.         Fase operasional konkret (usia 7 – 12 tahun)
Ditandai dengan anak mulai berpikir secara logis, dengan syarat, objek yang menjadi sumber berpikir logis tersebut hadir secara konkret. Kemampuan berpikir logis ini terwujud dalam kemampuan mengklasifikasikan objek sesuai dengan klasifikasinya, mengurutkan benda sesuai dengan tata urutannya, kemampuan untk memahami cara pandang orang lain, dan kemampuan berpikir secara deduktif. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Peterson (1996: 223) ”...This is the acquisition to concrete operational thought, leading to the organisation of the child’s ideas about physical, logical and social problems into paterned grouping of mental operations”. Menurut Piaget dalam Peterson (1996: 223) fase ini terbagi empat yaitu closure, reversibility, associativity, and identity.

4.         Fase operasional formal (usia 12 tahun sampai usia dewasa)
Fase ini ditandai oleh perpindahan dari cara berpikir konkret ke abstrak. Kemampuan berpikir abstrak dapat dilihat dari kemampuan mengemukakan ide-ide, memprediksi kejadian yang akan terjadi, dan melakukan proses berpikir ilmiah, yaitu mengemukakan hipotesis dan menentukan cara untuk membuktikan kebenaran hipotesis tersebut.
Pada tahap ini anak juga sudah mampu berpikir secara sistematik, mampu memikirkan semua kemungkinan secara sistematik untuk memecahkan permasalahan. Menurut Adams dan Gullota (1983) dalam Desmita (2006 : 196), kemampuan untuk mengapresiasikan hubungan antara kenyataan dan kemungkinan, kombinasi penalaran dan hipotesis deduktif, dimaksudkan sebagai aspek-aspek struktural dari pemikiran yang muncul bersamaan dengan pemikiran formal pada semua tugas.
Menurut Piaget perkembangan pemikiran operasional formal berlangsung pada usia 11 sampai 15 tahun. Pemikiran operasional formal lebih abstrak daripada pemikiran seorang anak, remaja tidak terbatas pada pengalaman konkret actual sebagai dasar pemikiran. Sebaliknya mereka sudah membangkitkan situasi-situasi khayalan-khayalan, kemungkinan-kemungkinan hipotesis atau dalil-dalil dan penalaran yang benar-benar abstrak (Santrock, 2002: 10).      
Berpikir operasional formal  mempunyai dua sifat yang penting yaitu: sifat deduktif-induktif hipotesis dan sifatberpikir operasional juga kombinatoris. Jadi dengan berpikir operasional formal memungkinkan orang lain mempunyai tingkah laku problem solving yang betul-betul ilmiah serta memungkinkan untuk mengadakan hipotesis dengan variable-variabel yang mungkin ada. Berpikir abstrak atau formal operation merupakan cara berpikir yang bertalian dengan hal-hal yang tidak dilihat dan kejadian-kejadian yang tidak langsung dihayati.    

a.    Sifat Deduktif Hipotesis
     Dalam menyelesaikan suatu masalah seorang akan mengawalinya dengan pemikiran teoritik. Ia menganalisis masalah dan mengajukan cara-cara penyelesaian hipotesis yang mungkin. Pada dasarnya pengajuan hipotesis itu menggunakan cara berpikir induktif di samping deduktif, oleh sebab itu dari sifat analisis yang ia lakukan, ia dapat membuat suatu strategi penyelesaian. Analisis teoritik ini dapat dilakukan secara verbal. Anak lalu mengajukan pendapat-pendapat atau prediksi tertentu, yang juga disebut proporsi-proporsi, kemudian mencari hubungan antara proporsi yang berbeda-beda tadi. Berhubungan dengan itu maka berpikir operasional juga disebut proposisional.

b.    Berpikir Operasional juga berpikir Kombinatoris
     Sifat ini merupakan kelengkapan sifat yang pertama dan berhubungan dengan cara bagaimana melakukan analisis. Misalnya anak diberi lima buah gelas berisi cairan tertentu. Suatu kombinasi cairan ini membuat cairan tadi berubah warna. Anak diminta untuk mencari kombinasi ini.
     Anak yang berpikir operasional formal, lebih dahulu secara teoritik membuat matriknya mengenai segala macam kombinasi yang mungkin, kemudian secara sistematik mencoba mengisi setiap sel matriks tersebut secara empiris. Bila ia mencapai penyelesaian yang betul, maka ia juga akan segera mereproduksi.
     Jadi, dengan berpikir operasional formal memungkinkan orang untuk mempunyai tingkah laku  problem solving yang betul-betul ilmiah, serta memungkinkan untuk mengadakan pengujian hipotesis dengan variable-variabel tergantung yang mungkin ada. Berpikir abstrak atau formal operation ini merupakan cara berpikir yang bertalian dengan hal-hal yang tidak dilihat dan kejadian-kejadian yang tidak langsung dihayati.
     Cara berpikir terlepas dari tempat dan waktu, dengan cara hipotesis, deduktif yang sistematis, tidak selalu dicapai oleh semua remaja. Tercapai atau tidak tercapainya cara berpikir ini tergantung juga pada tingkat intelegensi dan kebudayaan sekitarnya. Seorang remaja yang dengan kemampuan intelegensi terletak di bawah normal  atau nilai IQnya kurang dari 90 % tidak akan mencapai taraf berpikir abstrak. Seorang dengan kemampuan berpikir normal tetapi hidup dalam lingkungan atau kebudayaan yang tidak merangsang cara berpikir, misalnya tidak adanya kesempatan untuk menambah pengetahuan, pergi ke sekolah tetapi tidak adanya fasilitas yang dibutuhkan, maka ia sampai dewasa pun tidak akan sampai pada taraf berpikir abstrak. (Sunarto, 2002 : 104-105)
            Pemikiran opersional formal lebih abstrak, idealistis dan logis daripada pemikiran operasional kongkret. Piaget yakin bahwa remaja semakin mampu menggunakan pemikiran deduktif hipotesis. Secara umum karakteristik pemikiran operasional formal yang penting adala
  1. Kesadaran bahwa realitas adalah hanya kasus tertentu yang mungkin terjadi.
  2. Kemampuan  untuk menghasilkan secara sistematis dan menguji hipotesis, termasuk dalalm mengkombinasikan beberapa variable yang mungkin dapat dikombinasikan.
  3.  Menggunakan metode ilmiah untuk memisahkan dan mengendalikan variable.
  4.  Pemahaman secara logis terhadap sesuatu yang tidak dapat diraba (tidak nyata) dan konsep yang multi dimensi.
  5.  Koordinasi operasional logika matematika tentang negasi dan hubungan timbal balik.
  6.  Pemahaman tentang proporsionalitas, sekaligus menghubungkan pikiran dengan pecahan, persamaan, probabilitas (kemungkinan) dan korelasi. (Candida Peterson, 1996: 387)

Setelah pendapat ini berkembang beberapa tahun, muncul beberapa gagasan yang mulai meragukan pendapat Piaget tentang pemikiran operasional formal ini. Menurut mereka yang menentang, tidak semua anak dapat mencapai tahap pemikiran operasional formal ketika mereka mencapai usia remaja, bahkan sampai dewasa pun mereka belum mampu mencapai tahap pemikiran ini.
Kemudian Piaget merevisi teorinya dengan menyatakan bahwa seorang anak dapat mencapai tahapan berpikir operasional formal ketika mereka hidup di dalam lingkungan dan kebudayaan yang dapat merangsang kemampuan berpikir mereka. (Candida Peterson, 1996: 388)
Sehubungan dengan tahap-tahap perkembangan kognitif yang diuraikan di atas, Piaget dalam (Nasution, 1992:57) menjelaskan bahwa, urutan tahapan perkembangan kognitif anak tidak pernah berubah, hanya saja ada beberapa anak yang mampu melewati tahapan itu lebih cepat daripada anak-anak yang lain.
Piaget menjelaskan bahwa ada berbagai macam hal yang mempengaruhi perkembangan kognitif seseorang. Kematangan organis, sistem saraf, dan fisik seseorang mempunyai pengaruh dalam perkembangan intelektualnya. Pengalaman dan berbagai macam latihan juga menunjang perkembangan pemikiran seorang anak, demikian pula halnya dengan interaksi social yang tidak kalah pentingnya dalam membantu pemahaman siswa terhadap suatu konsep atau bahan belajar.
            Piaget menekankan hal terpenting dalam perkembangan kognitif , yaitu bagaimana seseorang dapat mengembangkan self-regulasinya untuk mencapai suatu ekuilibrasi dalam proses pemikirannya. Self-regulasi ini didapatkan melalui proses asimilasi dan akomodasi yang terus menerus, berkesinambungan, terhadap lingkungan dan masalah yang dihadapi oleh seorang anak. Dalam proses itulah, seseorang senantiasa ditantang untuk selalu mengembangkan pemikirannya, dan dengan demikian, berkembang pulalah pengetahuannya.
Sehubungan dengan proses asimilasi dan akomodasi ini, Nasution (1992: 55) berpendapat bahwa: “Apabila pada anak hanya dihadapkan informasi dan pengalaman yang dapat diasimilasikan dengan mudah, tidak akan terjadi akomodasi dan perkembangan anak pun akan terhambat. Dilain pihak akomodasi pun tidak akan terjadi apabila pengalaman yang terlalu asing bagi anak, sehingga anak pun tidak dapat memahaminya”.
Terkait dengan asimilasi dan akomodasi, itu Like Kagan, Jean Piaget dalam Peterson (1996: 131) menyatakan bahwa “conceptualised infant mental development as a process of building up mental constructs, image and schemata through assimilation, or altering existing ideas to make them concistent with new information trhought acomodation”.
Piaget membedakan dua pengertian tentang belajar, yaitu belajar dalam arti sempit dan belajar dalam arti luas (Ginsburg & Opper,1988). Belajar dalam arti sempit adalah belajar yang hanya menekankan perolehan informasi baru dan pertambahan. Belajar itu disebut belajar figurative, suatu bentuk belajar yang pasif. Contohnya, seorang anak menghafalkan perkalian bilangan. Belajar dalam arti luas adalah belajar untuk memperoleh dan menemukan struktur pemikiran yang lebih umum yang daopat digunakan pada berbagai situasi. Belajar ini disebut juga belajar operative. Contohnya anak mengerti tentang kekekalan massa suatu benda. Dalam hal ini anak mengetahui suatu struktur yang lebih luas yang tidak terbatas pada situasi tertentu, sehingga pengertian ini dapat digunakan dalam situasi yang lain.
            Menurut Wadsworth (dalam Suparno,2003,141) mengingat dan menghafal tidak dianggap sebagai belajar yang sesungguhnya karena kegiatan tersebut tidak memasukkan proses asimilasi dan pemahaman. 
      Piaget berpendapat, bahwa pengetahuan itu dibentuk sendiri oleh murid dalam berhadapan dengan lingkungan atau objek yang sedang dipelajarinya. Oleh karena itu, kegiatan murid dalam membentuk pengetahuannya sendiri menjadi hal yang sangat penting dalam sistem piaget. Proses balajar harus membantu dan memungkinkan murid aktif mengkonstruksi pengetahuannya. Dalam hal ini, penekanan pembelajaran aktif terletak pada kebutuhan dan kemampuan siswa atau student centre bukan teacher centre.
      Piaget membedakan tiga macam pengetahuan, yaitu pengetahuan fisis, matematis-logis, dan sosial. Ketiga pengetahuan itu dibentuk oleh tindakan murid terhadap pengalaman fisik dan sosial. Pengetahuan fisik dikonstruksi melalui tindakan murid kepada objek fisik secara langsung. Pengetahuan matematis-logis dibentuk dengan tindakan murid terhadap objek secara tidak langsung, yaitu dengan pemikiran operatif. Pengetahuan social dibentuk oleh pengalaman murid berinteraksi dengan lingkungan social dan orang banyak. Pengetahuan-pengetahuan itu tidak bisa ditransfer melalui kata atau symbol, melainkan hanya dapat diperoleh melalui tindakan dan pengalaman. Oleh sebab itu, dalam pembelajaran IPA, IPS dan Matematika di SD perlu menggunakan media pembelajaran yang bervariasi yang mendorong siswa berinteraksi langsung dengan objek yang dipelajarinya.
      Menurut Piaget, seorang anak mempunyai cara berfikir yang berbeda secara kualitatif dengan ornag dewasa dalam melihat dan mempelajari realitas. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran, guru seyogyanyalah memahami cara berfikir murid dalam memandang suatu objek yang dipelajarinya. Guru hendaknya menyediakan bahan belajar yang sesuai dengan taraf perkembangan  kognitif anak agar dapat memudahkan mereka menuntaskan materi pelajaran yang diberikan dan lebih berhasil dalam membentuk konstruksi pengetahuan dalam fikiran anak tersebut.
      Anak dapat mengkonstruksi pengetahuannya dengan baik, jika ia diberi peluang untuk dapat aktif berinteraksi dalam pembelajaran, baik dengan guru, media pengajaran, lingkungan sosial, dan sebagainya. Dengan belajar secara aktif, anak dapat mengolah bahan belajar, bertanya secara aktif, dan mencerna bahan dengan kritis, sehingga mampu memecahkan permasalahan, membuat kesimpulan dan bahkan merumuskan suatu rumusan menggunakan kata-kata sendiri. Peran guru sebagai fasilitator, dan motivator sangat penting bagi keberhasilan anak dalam mengkonstruksi pengetahuannya (Jacob,1981), dan guru bukanlah sebagai pentransfer ilmu pengetahuan semata..
      Dalam rangka menemukan dan membangun pengetahuannya, murid hendaknya diberi keleluasaan untuk mengungkapkan gagasannya, pemikirannya, dan rasa keingintahuannya akan objek belajar yang dipelajarinya, baik secara lisan dan tulisan. Guru hendaknya menjadi jembatan antara anak dengan pengetahuan untuk meminimalkan terjadinya miskonsepsi anak terhadap suatu konsep atau materi pelajaran.
      Piaget mengemukakan bahwa ada dua hal yang dapat menjadi motivasi intrinsik dalam diri seseorang, yaitu : adanya proses asimilasi dan adanya situasi konflik yang merangsang seseorang melakukan akomodasi. Tindakan asimilasi ini akan menghubungkan pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang dengan hal baru yang sedang dipelajari atau ditemukannya. Agar proses adaptasi dan asimilasi ini berjalan baik, diperlukan kegiatan pengulangan dalam suatu latihan atau praktik. Pengetahuan baru yang telah dikonstruksikan perlu dilatih dengan pengulangan agar semakin bermakna bagi dirinya.
      Sementara itu, keadaan konflik diperlukan untuk merangsang sseseorang mengadakan akomodasi atau perubahan pengetahuan. Guru dalam hal ini memerlukan tanda-tanda konflik dan tahu bagaimana menciptakan konflik agar murid tertantang secara kognitif untuk mengubah dan mengembangkan pengetahuannya (Jacob,1981). Contohnya adalah peristiwa anomaly air, siswa dapat mengalami kebingungan dihadapkan dengan peristiwa yang bertentangan dengan apa yang telah dibangun di dalam fikirannya bahwa air mendidih pada suhu 1000 C.
      Piaget juga mengemukakan bahwa perkembangan kognitif anak juga tergantung pada interaksi unsure-unsur lain, seperti kematangan diri dan transmisis social. Oleh karena itu dalam lingkungan sekolah, perlu diperhatikan tingkat kematangan murid untuk menangkap pelajaran dan bagaimana mereka berinteraksi dalam lingkungan social mereka, seperti pertemanan. Tidak ada salahnya guru mendatangkan nara sumber lain yang merupakan ahli di bidangnya untuk memperkuat konsep yang dimiliki oleh siswa.
      Secara agak khusus, Piaget banyak berbicara tentang pengajaran matematika. Piaget menyarankan agar dalam pengajaran matematika untuk murid, terlebih sebelum tahap operasional formal, lebih ditekankan pada aktifitas, pengalaman, dan penggunaan metode aktif (Piaget,1972 dalam Suparno). Pengajaran matematika hendaknya dimulai dengan memperkenalkan konsep yang konkret menuju ke yang abstrak. Bagi orang dewasa, pengajaran matematika dengan metode ceramah, masih mungkin dilakukan, namun untuk anak-anak, sebaiknya pengajaran matematika tidak boleh mengabaikan aktivitas pengamatan dan interaksi langsung antara siswa dengan objek yang diamatinya.
      Terkadang dapat dijumpai ada anak yang belum paham benar tentang suatu konsep matematika namun dapat menggunakan rumusnya untuk menyelesaikan masalah, menurut Piaget, hal ini kurang baik, mengingat konsep  tersebut seharusnya tetap dikuasai anak secara menyeluruh dan anak memahami benar tentang konsep tersebut. Di sinilah peran latihan menjadi sangat penting.
Seorang pendidik harus mengetahui dan memahami perkembangan intelektual individu pada masing-masing tahapan perkembangan. Anak berbeda dengan orang dewasa dalam memperoleh pengetahuan. Oleh karena itu, dalam proses pendidikan dan pengajaran seorang pendidik harus memusatkan pengajaran pada anak, dengan mempertimbangkan tahapan perkembangan kognitif anak. 

1.       Aktivitas di dalam proses belajar mengajar hendaknya ditekankan pada pengembangan struktur kognitif, melalui pemberian kesempatan pada anak untuk memperoleh pembelajaran yang sesuai dengan pembelajaran terpadu dan mengandung makna yang dikaitkan dengan pengembangan dasar-dasar pengetahuan.
2.        Memulai kegiatan dengan membuat konflik dalam pikiran anak.
3.        Memberikan kesempatan pada anak untuk melakukan berbagai kegiatan yang dapat mengembangkan kemampuan kognitifnya
4.        Melakukan tanya jawab yang dapat mendorong anak untuk berpikir dan mengemukakan pikirannya.
5.        Informasi dan pengalaman yang baru diberikan hendaknya dikaitkan dengan informasi dan pengalaman yang telah mereka miliki agar tidak menghambat proses asimilasi dan akomodasi anak.

Menurut Gage dan Berliner dalam Nurihsan (2007: 140-141), implikasi perkembangan kognitif sangat penting bagi pengembangan sistem dan praktek pendidikan, sehinggga pendidik seyogyanya mampu untuk melaksanakan hal-hal berikut yaitu intellectual empathy, using concrete objects, using inductive approach, sequency instruction, taking amount of fit of new experience, applying student self-regulation principles, and developing cognitive values of interaction.