Keterampilan-Keterampilan Proses Sains
Para ahli pendidikan sains memandang sains tidak hanya terdiri dari fakta, konsep, dan teori yang dapat dihafalkan, tetapi juga terdiri atas kegiatan atau proses aktif menggunakan pikiran dan sikap ilmiah dalam mempelajari gejala alam yang belum diterangkan. Secara garis besar sains dapat didefenisikan atas tiga komponen, yaitu (1) sikap ilmiah, (2) proses ilmiah, dan (3) produk ilmiah. Jadi proses atau keterampilan proses atau metode ilmiah merupakan bagian studi sains, termasuk materi bidang studi yang harus dipelajari siswa. Mengajarkan bidang studi sains (IPA) berupa produk atau fakta, konsep dan teori saja belum lengkap, karena baru mengajarkan salah satu komponennya.
Komponen sikap ilmiah yang perlu ditumbuhkan antara lain adalah tanggung jawab, keinginan hendak tahu, jujur, terbuka, obyektif, kreatif, toleransi, kecermatan bekerja, percaya diri sendiri, konsep diri positif, mengenal hubungan antara masyarakat dan sains,perhatian terhadap sesama mahluk hidup, menyadari bahwa kemajuan ilmiah diperoleh dari sudut usaha bersama, dan menginterpretasikan gejala alam dari sudut prinsip-prinsip ilmiah. Dengan kata lain pendidikan sains juga bertujuan mengembangkan kepribadian siswa.
Proses dapat didefenisikan sebagai perangkat keterampilan kompleks yang digunakan ilmuwan dalam melakukan penyelidikan ilmiah. Proses atau metode ilmiah itu merupakan konsep besar yang dapat dirinci menjadi sejumlah komponen yang harus dikuasai apabila orang itu hendak melakukan penelitian dan pengembangan dalam bidangnya. Sainstis mengembangkan teori antara melalui keterampilan proses.
A. Keterampilan Proses Sains Menurut Abruscato
Abruscato (1992), mengklasifikasikan keterampilan proses sains menjadi dua bagian, yaitu keterampilan proses dasar (Basic Processes) dan keterampilan proses terintegrasi (Integrated Processes). Keterampilan proses dasar terdiri atas:
1. Pengamatan
2. Penggunaan bilangan
3. Pengklasifikasian
4. Pengukuran
5. Pengkomunikasian
6. Peramalan
7. Penginferensial
Sedangkan keterampilan proses terintegrasi terdiri atas:
1. Pengontrolan variabel
2. Penafsiran data
3. Perumusan hipotesis
4. Pendefinisian secara operasional
5. Melakukan eksperimen.
Agar siswa memiliki keterampilan-keterampilan tersebut, maka harus dilatih untuk melakukan kegiatan-kegiatan sehubungan dengan keterampilan itu.
B. Keterampilan Proses Sains Menurut Kurikulum 2006
Pemberian pengalaman belajar secara langsung dalam pembelajaran sains sangat ditekankan melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah dengan tujuan untuk memahami konsep-konsep dan mampu memecahkan masalah.
Keterampilan proses sains yang digunakan di Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) dalam Standar Isi antara lain:
1. Mengamati
2. Mengklasifikasi
3. Mengukur
4. Menggunakan alat
5. Mengkomunikasikan
6. Menafsirkan
7. Memprediksi
8. Melakukan eksperimen
Keterampilan proses sains yang digunakan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) dalam Standar Isi antara lain:
1. Mengamati
2. Menggolongkan atau Mengkelaskan
3. Mengukur
4. Menggunakan alat
5. Mengkomunikasikan hasil
6. Menafsirkan
7. Memprediksi
8. Menganalisis
9. Mensintesis
10. Melakukan percobaan
Keterampilan proses sains yang digunakan di Sekolah Menengah Umum (SMU) dan Madrasah Aliyah (MA) dalam Standar Isi antara lain:
1. Mengamati
2. Mengukur
3. Menggolongkan
4. Mengajuakn Pertanyaan
5. Menyusun Hipotesis
6. Merencanakan percobaan
7. Mengidentifikasi variabel
8. Menentukan langkah kerja
9. Melakukan eksperimen
10. Membuat dan Menafsirkan informasi/grafik
11. Menerapkan konsep
12. Menyimpulkan
13. Mengkomunikasikan baik secara verbal maupun nonverbal.
Keterampilan-keterampilan Proses Sains adalah keterampilan-keterampilan yang dipelajari siswa pada saat mereka melakukan inquiri ilmiah. Pada saat mereka terlibat aktif dalam penyelidikan ilmiah, mereka menggunakan berbagai macam keterampilan proses, bukan hanya satu metode ilmiah tunggal. Keterampilan-keterampilan proses sains dikembangkan bersama-sama dengan fakta-fakta, konsep-konsep, dan prinsip-prinsip sains.
Menurut Nur (2003) keterampilan proses tersebut adalah pengamatan, pengklasifikasian, penginferensian, peramalan, pengkomunikasian, pengukuran, penggunaan bilangan,penginterpretasian data, melakukan eksperimen, pengontrolan variabel, perumusan hipotesis, dan pendefinisian secara operasional.
1. Pengamatan
Pengamatan adalah penggunaan indera-indera seseorang. Seorang mengamati dengan penglihatan, pendengaran, pengecapan, perabaan, dan pembauan. Beberapa perilaku yang dikerjakan siswa pada saat pengamatan adalah: (a) penggunaan indera-indera tidak hanya penglihatan; (b) pengorganisasian obyek-obyek menurut satu sifat tertentu; (c)pengidentifikasian banyak sifat; (d) pengidentifikasian perubahan-perubahan dalam suatu obyek; (e) melakukan pengamatan kuantitatif, contohnya: “5 kilogram” bukan “massa” (f)melakukan pengamatan kualitatif, contohnya: “baunya seperti susu asam” bukan “berbau”.
Pengamatan yang dilakukan hanya dengan menggunakan indera tanpa mengacu kepada satuan pengukuran baku tertentu disebut pengamatan kualitatif, sedangkan pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan alat ukur yang mengacu kepada satuan pengukuran baku tertentu disebut pengamatan kuantitatif. Besaran yang diperoleh dari mencacah termasuk pengamatan kuantitaif.
Pengamatan kualitatif didefenisikan sebagai pengamatan yang dilakukan dengan beberapa atau seluruh indera, yaitu dengan mendeskripsikan apa yang dilihat, apa yang dirasa, apa yang dibau, apa yang didengar, apa yang dicicipi dari obyek yang diamati.
Pengamatan yang hanya menggunakan satu indera tidak dapat memberikan deskripsi yang lengkap tentang obyek yang diamati. Carin (1993) mengemukakan bahwa terdapat tujuh komponen untuk melakukan
pengamatan ilmiah yang baik, yaitu:
1. Rencana (plan). Buatlah rencana untuk penuntun pengamatan supaya tidak terlewati hal-hal yang penting atau supaya tidak terjadi pengulangan yang tidak perlu.
2. Indera (Senses). Pergunakanlah semua indera yang tepat kalau perlu memakai alat untuk membantu indera dalam mengumpulkan informasi yang jelas.
3. Pertanyaan (Question). Tetaplah mepunyai rasa ingin tahu selama mengamati, waspadalah terhadap perbedaan-perbedaan dan pertanyakanlah segala sesuatu untuk mendapatkan informasi baru dan pengamatan baru.
4. Pengukuran (Measurement). Buatlah pengukuran-pengukuran variabel yang penting untuk melengkapi pengamatan kualitatif.
5. Persamaan dan perbedaan (Similarities and Differences). Identifikasikanlah persamaan dan perbedaan antara obyek pengamatan dengan obyek-obyek lain yang dapat dibandingkan.
6. Perubahan (Changes). Amati perubahan-perubahan alami yang terjadi pada obyek atau sistem yang sedang diteliti. Bila perlu buatlah perubahan-perubahan dan amati perubahan yang terjadi sebagai akibat.
7. Komunikasi (Communication). Laporkan hasil pengamatan anda dengan jells mempergunakan uraian, diagram-diagram, gambar-gambar dan metode-metode lain yang tepat.
2. Penggunaan bilangan
Penggunaan bilangan meliputi pengurutan, penghitungan, penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian bilangan. Beberapa perilaku yang dikerjakan siswa pada saat menggunakan bilangan adalah: (a) penghitungan; (b) pengurutan; (c) penyusunan bilangan dalam pola-pola yang benar; (d) pengunaan keterampilan matematika yang sesuai.
3. Pengklasifikasian
Pengklasifikasian adalah pengelompokan obyek-obyek menurut sifat-sifat tertentu. Beberapa perilaku siswa adalah: (a) pengidentifikasian suatu sifat umum, contohnya:mineral menyerupai logam dan mineral yang tidak menyerupai logam; (b) memilah-milahkan dengan menggunakan dua sifat atau lebih, contohnya: yang memiliki celah yang dapat menggores gelas; dan mineral tanpa celah dan mineral yang tidak dapat menggores gelas.
4. Pengukuran
Pengukuran adalah penemuan ukuran dari suatu obyek, berapakah suatu obyek,berapa banyak ruang yang ditempati suatu obyek. Obyek tersebut dibandingkan dengan suatu satuan pengukuran, misalnya sebuah penjepit kertas atau satuan baku sentimeter. Proses ini digunakan untuk melakukan pengamatan kuantitatif. Beberapa perilaku siswa adalah: (a) pengukuran panjang, volume, massa, temperatur, dan waktu dalam satuan yang sesuai; (b) memilih alat dan satuan yang sesuai untuk tugas pengukuran tertentu tersebut.
5. Pengkomunikasian
Pengkomunikasian adalah mengatakan apa yang diketahui seseorang dengan ucapan kata-kata, tulisan, gambar, demonstrasi, atau grafik. Jadi penting menyatakan sesuatu atau menulis data sejelas-jelasnya. Guru dapat membantu siswa dengan jalan memberi kesempatan sebanyak-banyaknya berlatih berkomunikasi dan membantu mereka mengevaluasi apa yang mereka katakan atau tulis. Beberapa perilaku yang dikerjakan siswa pada saat melakukan komunikasi adalah: (a) pemaparan pengamatan atau dengan menggunakan perbendaharaan kata yang sesuai; (b) pengembangan grafik atau gambar untuk menyajikan pengamatan dan peragaan data; (c) perancangan poster atau diagram untuk menyajikan orang lain.
6. Peramalan
Peramalan adalah pengajuan hasil-hasil yang mungkin dihasilkan dari suatu percobaan. Ramalan-ramalan didasarkan pada pengamatan-pengamatan dan inferensi-inferensi sebelumnya. Ramalan merupakan suatu pernyataan tentang pengamatan apa yang mungkin dijumpai di masa yang akan datang, sedangkan inferensi berupaya untuk memberikan alasan tentang mengapa suatu pengamatan terjadi. Beberapa perilaku yang
dikerjakan siswa adalah: (a) penggunaan data dan pengamatan yang sesuai; (b) penafsiran generalisasi tentang pola-pola; (c) pengujian kebenaran dari ramalan-ramalan yang sesuai.
7. Penginferensial
Penginferensial adalah penggunaan seseorang apa yang diamati untuk menjelaskan sesuatu yang telah terjadi. Penginferensial berlangsung, melampaui suatu pengamatan untuk menafsirkan apa yang telah diamati. Sebagai contoh: Seorang melihat suatu petak rumput mati. Suatu inferensi yang mungkin diajukaan adalah bahwa cacing tanah tersebut yang menyebabkan rumput itu mati. Beberapa perilaku siswa adalah: (a) mengkaitkan pengamatan dengan pengalaman atau pengetahuan terdahulu; (b) mengajukan penjelasan-penjelasan untuk pengamatan-pengamatan.
8. Identifikasi dan Pengontrolan Variabel
Variabel adalah suatu besaran yang dapat bervariasi atau berubah pada suatu situasi tertentu. Dalam penelitian ilmiah terdapat 3 (tiga) macam variabel yang penting, yaitu variabel manipulasi, variabel respon, dan variabel kontrol. Variabel yang secara sengaja diubah disebut variabel manipulasi. Variabel yang berubah sebagai akibat pemanipulasian variabel manipulasi disebut variabel respon. Andaikan kamu telah melakukan percobaan yang menghasilkan kesimpulan bahwa “Apabila banyak lampu dihubungkan seri ditambah, maka nyala lampu menjadi semakin redup.” variabel-variabel yang kamu teliti dalam percobaan itu adalah banyak lampu dan nyala lampu. Pada percobaan itu kamu sengaja telah mengubah banyak lampu, yaitu mula-mula hanya ada satu lampu kemudian ditambahkan satu lampu lagi secara seri dengan lampu pertama. Oleh karena itu banyak lampu merupakan variabel manipulasi. Variabel lain, yaitu nyala lampu merupakan variabel respon, karena nyala lampu berubah akibat pemanipulasian variabel manipulasi. Di samping variabel manipulasi, terdapat banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil suatu percobaan atau eksperimen. Dalam suatu eksperimen, kita ingin dapat mengatakan bahwa variabel manipulasi adalah satu-satunya variabel yang berpengaruh terhadap variabel respon. Oleh karena itu, harus yakin bahwa faktor lain yang dapat memiliki suatu pengaruh dicegah untuk memberikan pengaruh. Variabel yang dapat mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi dijaga agar tidak memberikan pengaruh disebut variabel kontrol. Eksperimen yang dilakukan dengan pengontrolan variabel seperti itu dapat disebut prosedur eksperimen yang benar. Jadi mengontrol variabel berarti memastikan bahwa segala sesuatu dalam suatu percobaan adalah tetap sama kecuali satu faktor. Misalkan pada saat melakukan eksperimen untuk menguji hipotesis “Apabila banyak lampu dihubungkan seri ditambah, maka nyala lampu menjadi semakin redup.” Kamu mula-mula membuat rangkaian sederhana satu baterai yang dibebani satu lampu, ternyata menyala terang. Kemudian kamu menambah satu lampu lagi secara seri dengan pertama, ternyata lampu menjadi redup. Pada saat kamu menambah satu lampu tersebut, kamu tidak mengubah empat variabel, yaitu jenis baterai, jenis kabel-kabel penghubung, jenis soket baterai, dan jenis soket lampu. Dalam percobaan ini kamu telah menjaga empat variabel itu agar tidak mempengaruhi hasil percobaan tersebut. Empat variabel kontrol itu disebut variabel kontrol. Dengan demikian kamu dapat mengatakan bahwa satu-satunya variabel yang berpengaruh terhadap redupnya nyala lampu itu (variabel respon) karena ada tambahan satu lampu secar seri (variabel manipulasi). Beberapa perilaku siswa dalam mengontrol variabel adalah: (a) pengidentifikasian variabel yang mempengaruhi hasil; (b) pengidentifikasian variabel yang diubah dalam percobaan; (c) pengidentifikasian variabel yang dikontrol dalam suatu percobaan.
9. Penafsiran Data
Penafsiran data adalah menjelaskan makna informasi yang telah dikumpulkan.Beberapa perilaku siswa adalah: (a) penyusunan data; (b) pengenalan pola-pola atau hubungan-hubungan; (c) merumuskan inferensi yang sesuai dengan menggunakan data; (d) pengikhtisaran secara benar.
10. Perumusan Hipotesis
Perumusan hipotesis adalah perumusan dugaan yang masuk akal yang dapat diuji tentang bagaimana atau mengapa sesuatu terjadi. Hipotesis sering dinyatakan sebagai pernyataan jika dan maka. Contohnya: “Dengan waktu pemanasan 1 menit, apabila volume air PDAM semakin besar, maka suhu air PDAM akan semakin kecil.” Dari rumusan ini dapat dikatakan bahwa hipotesis adalah dugaan tentang pengaruh apa yang akan diberikan variabel manipulasi terhadap variabel respon. Oleh karena itu, di dalam rumusan hipotesis lazim terdapat variabel manipulasi dan variabel respon. Hipotesis dirumuskan dalam bentuk pernyataan, bukan pertanyaan. Hipotesis dapat dirumuskan dengan penalaran induktif berdasarkan data hasil pengamatan atau dirumuskan dengan penalaran deduktif berdasarkan teori. Penalaran induktif adalah penalaran yang dilakukan berdasarkan data atau kasus menuju ke suatu pernyataan kesimpulan umum yang dapat berbentuk hipotesis atau teori sementara. Penalaran deduktif adalah penalaran yang dilakukan berdasarkan teori menuju pernyataan kesimpulan sementara yang bersifat spesifik. Beberapa perilaku siswa yang dikerjakan siswa saat merumuskan hipotesis adalah: (a) perumusan hipotesis berdasarkan pengamatan dan inferensi, (b) merancang cara-cara untuk menguji hipotesis, (c) merevisi hipotesis apabila data tidak mendukung hipotesis tersebut.
11. Pendefinisian Variabel Secara Operasional (PVSO)
PVSO adalah perumusan suatu definisi yang berdasarkan pada apa yang mereka lakukan atau apa yang mereka amati. Suatu definisi operasional mengatakan bagaimana sesuatu tindakan atau kejadian berlangsung, bukan apakah tindakan atau kejadian itu. Mendefenisikan secara operasional suatu variabel berarti menetapkan tindakan apa yang dilakukan dan pengamatan apa yang akan dicatat. Contohnya, dari hipotesis “Dengan waktu pemanasan 1 menit, apabila volume air PDAM semakin besar, maka suhu air PDAM akan semakin kecil.” Untuk variabel manipulasi, tindakan yang dilakukan adalah menuangkan air ke dalam gelas kimia sampai 20 ml, 40 ml, 60 ml; sedangkan pengamatan yang dicatat adalah volume air PDAM, yaitu 20 ml, 40 ml, dan 60 ml. Untuk variabel respon, tindakan yang dilakukan adalah menyalakan lilin, sedangkan pengamatan yang dicatat adalah suhu air PDAM. Penting dicatat bahwa tiap peneliti dapat membuat definisi operasional veriabel sendiri-sendiri, artinya variabel yang sama definisi operasionalnya dapat berbeda-beda bergantung pada yang ditetapkan masing-masing peneliti. Oleh karena itu, sebagian besar rancangan eksperimen sebagai persiapan pengumpulan data telah terselesaikan. Yang tersisa tinggal menetapkan variabel kontrol. Beberapa perilaku siswa saat mendefinisikan variabel secara operasional adalah; (a) memaparkan pengalaman-pengalaman dengan menggunakan obyek-obyek kongkrit, (b) mengatakan apa yang diperbuat obyek-obyek tersebut, (c) memaparkan perubahan-perubahan atau pengukuran-pengukuran selama suatu kejadian.
12. Melakukan eksperimen
Melakukan eksperimen adalah pengujian hipotesis atau prediksi. Dalam suatu eksperimen, seluruh variabel harus dijaga tetap sama kecuali satu, yaitu variabel manipulasi. Dengan kata lain, eksperimen atau percobaan dapat didefenisikan sebagai usaha sistematik yang direncanakan untuk menghasilkan data untuk menjawab suatu rumusan masalah atau menguji hipotesis. Apabila suatu variabel akan dimanipulasi dan jenis respon yang diharapkan dinyatakan secara jelas dalam bentuk definisi operasional. Beberapa perilaku yang dikerjakan siswa saat melakukan eksperimen adalah: (a) merumuskan dan menguji prediksi tentang kejadian-kejadian, (b) mengajukan dan menguji hipotesis, (c) mengidentifikasi dan mengontrol variabel, (d) mengevalusai prediksi dan hipotesis berdasarkan pada hasil-hasil percobaan.
Sejatinya hidup ini adalah perjalanan menuju keabadian, bekalnya adalah dengan menjadi insan yang bermanfaat bagi orang banyak... khairun naas anfauhum linnaas... Bismillah...
Tampilkan postingan dengan label literasi sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label literasi sains. Tampilkan semua postingan
06 Februari 2012
INKUIRI
Model INKUIRI dalam Pembelajaran IPA
Model mengajar inkuiri merupakan salah satu model kognitif yang diunggulkan untuk pembelajaran IPA di sekolah. Perlunya guru IPA merancang pembelajaran IPA yang berbasis inkuiri telah ditekankan sejak lama oleh para pakar pendidikan dan pakar pendidikan IPA. Dalam NRC (2000) disebutkan bahwa inkuiri sebagai suatu proses penyelidikan masalah, formulasi hipotesis, merencanakan eksperimen, mengumpulkan data dan membuat kesimpulan. Jadi dalam pembelajaran berbasis inkuiri, siswa terlibat secara mental dan secara fisik untuk memecahkan masalah yang diberikan guru.
Salah satu tujuan utama guru dalam pembelajaran berbasis inkuiri di kelas adalah membantu siswa memecahkan masalah dan berfikir kritis, sehingga dalam hal ini guru dan siswa mempunyai tanggung jawab yang baru dalam pembelajaran. Dengan demikian jelas bahwa pembelajaran yang berbasis inkuiri ini sangat cocok digunakan pada pembelajaran IPA, karena dalam proses belajar mengajar IPA guru dituntut untuk membuat rencana pelajaran yang cocok untuk pembelajaran inkuiri dan tentu saja disesuaikan dengan konsep yang akan diajarkan. Pendekatan dan metode apapun yang dipakai dalam kegiatan belajar mengajar IPA, sudah semestinya menempatkan siswa sebagai pusat perhatian utama. Peranan guru dalam menentukan pola kegiatan belajar mengajar ditekankan pada bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar siswa. Metode yang mampu menggiring peserta didik untuk menyadari apa yang telah didapatkan selama belajar. Inkuiri menempatkan peserta didik sebagai subyek belajar yang aktif (Mulyasa, 2003). Lebih lanjut Esler (1993) mengatakan bahwa ada 4 hal penting mengapa mengajar dengan inkuiri perlu diberikan kepada siswa, yaitu; Pertama, memelihara rasa ingin tahu siswa; Kedua, melibatkan siswa dalam aktivitas pembelajaran yang memerlukan keterampilan kognitif lebih tinggi; Ketiga, mengembangkan sikap positif siswa terhadap sains dan keempat, memberikan pengalaman konkrit bagi siswa yang belum mencapai tahap operasional.
Menurut Wainwright (2003) pembelajaran berbasis inkuiri adalah seni penciptaan situasi dimana siswa mengambil peran sebagai ilmuwan. Dalam situasi ini, siswa mengambil inisiatif untuk mengamati dan menanyakan fenomena, memperagakan penjelasan apa yang mereka lihat, merencanakan dan menentukan tes yang mungkin mendukung dan menentang teori mereka, menganalisis data dan menyimpulkan dari data percobaan. Pembelajaran IPA berbasis inkuiri akan bersifat aktif melibatkan siswa, belajar secara “hands on” dan eksperimen, belajar berdasarkan aktivitas, menggabungkan inkuiri dengan pendekatan discoveri, mengembangkan keterampilan proses melalui metode ilmiah. Dengan demikian jelas bahwa pembelajaran IPA berbasis inkuiri akan melibatkan siswa dalam mencari pengetahuan secara aktif. Dengan kata lain pembelajaran berbasis inkuiri akan mengajak siswa untuk memuaskan keingintahuannya. Keingintahuan tersebut akan terpuaskan bila siswa sudah mampu membangun kerangka mental yang dapat menjelaskan pengalamannya dengan tepat.
Esensi pembelajaran IPA berbasis inkuiri adalah melibatkan siswa dalam masalah yang sesungguhnya dengan cara mengkonfrontasikan mereka ke dalam suatu hal penyelidikan, membantu mereka mengidentifikasi suatu masalah secara konseptual atau metodologis dan mengundang mereka untuk merancang cara penyelesaian masalah tersebut (Indrawati,2000). Sedangkan esensi lain dari pembelajaran IPA berbasis inkuiri adalah keterlibatan dalam pembelajaran yang membawa pada pemahaman. Keterlibatan dalam pembelajaran mengandung makna proses skill dan attitude yang memberi kesempatan untuk mencari pemecahan-pemecahan pada pertanyaan-pertanyaan dan isu-isu ketika membangun pengetahuan baru (Exline,2004).
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas diketahui bahwa proses pembelajaran inkuiri melibatkan siswa dalam pembelajaran aktif untuk membangun pengertian dan pengetahuan yang baru. Pengetahuan tersebut bagi siswa dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan dan mengembangkan solusi atau mendukung pandangan tertentu terhadap suatu masalah. Penggunaan pembelajaran IPA berbasis inkuiri ini membantu siswa untuk lebih kreatif dan berpikiran luas. “Kesadaran dari perpaduan afektif dan kognitif merupakan bentuk perwujudan dari inkuiri ”(Alberta,2004).
Menurut Depdiknas (2003: 69) Proses-proses dalam pembelajaran berbasis inkuiri adalah menemukan masalah, menyusun hipotesis, merencanakan eksperimen, melaksanakan eksperimen untuk menguji hipotesis, mensintesis pengetahuan, mengembangkan beberapa sikap yaitu sikap obyektif, ingin tahu, terbuka dan bertanggung jawab. National Science Education Standard Amerika Serikat (NRC, 2000) juga menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran IPA yang didasari oleh inkuiri untuk grade K-4 ada lima aspek yang harus dimunculkan dalam upaya untuk menanamkan kemampuan inkuiri kepada siswa. Aspek-aspek tersebut meliputi; merumuskan masalah, merencanakan penelitian, melaksanakan penelitian dan pengumpulan data, membuat penjelasan berdasarkan data hasil observasi serta mengkomunikasikan hasil penelitian. Sedangkan untuk grade 5 sampai dengan grade 8 ada delapan aspek yaitu; aspek merumuskan masalah; aspek merencanakan dan melaksanakan suatu penyelidikan sederhana; aspek menggunakan peralatan dan teknik yang tepat untuk mengumpulkan, menganalisis dan menafsirkan data; aspek memberikan deskripsi, penjelasan, prediksi dan model berdasarkan bukti yang ada; aspek berfikir kritis dan logis untuk mengaitkan antara penjelasan dan bukti yang ada; aspek mengenali dan menganalisis penjelasan-penjelasan lain yang akan dibuat; aspek mengkomunikasikan prosedur dan hasil penyelidikan dan aspek menggunakan matematika pada semua aspek dalam Inkuiri.
Lebih lanjut National Science Education Standard (dalam Dyasi) menyatakan bahwa komponen utama dalam proses belajar mengajar sains berbasis inkuiri ”siswa-siswa pada semua kelas harus mempunyai kesempatan untuk menggunakan scientific Inquiry dan mengembangkan kemampuan berfikir dan melakukan sesuatu sesuai dengan inkuiri termasuk di dalamnya merumuskan masalah, merencanakan penelitian, melaksanakan penelitian dan pengumpulan data, membuat penjelasan berdasarkan data hasil observasi serta mengkomunikasikan hasil penelitian.
Secara umum dalam pembelajaran IPA berbasis inkuiri diperlukan beberapa tahapan, yaitu: Pertama, penyajian masalah; kedua, pengumpulan dan verifikasi data (merumuskan hipotesis); Ketiga, pengumpulan data dan melaksanakan eksperimen; keempat, meneruskan penjelasan dan kelima, mengadakan analisa tentang proses inkuiri atau mengkomunikasikan hasil penyelidikan.
Pembelajaran IPA berbasis inkuiri yang dikehendaki adalah pembelajaran yang didasarkan pada prinsip-prinsip ilmiah, baik sikap ilmiah, proses ilmiah maupun produk ilmiah. Menjadi seorang guru yang berhasil khususnya dalam pembelajaran berbasis inkuiri, memerlukan sikap dan keterampilan yang mendorong siswa untuk berfikir reflektif dan mampu memecahkan masalah. Untuk itu seorang guru harus mampu bagaimana mengajarkan IPA dengan baik.
Mengajar IPA melalui inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Siswa berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri. Sedangkan guru IPA bertindak sebagai agen perubahan, membantu pengembangan perubahan dalam mengajarkan IPA, menyiapkan peralatan dan bahan, dukungan moral dan memberi motivasi. Sedangkan implikasi dari inkuiri dalam pembelajaran IPA menuntut guru untuk menyiapkan kegiatan yang memungkinkan siswa mengidentifikasi dan mereview informasi secara kritis. Menurut Sanjaya (2007), kriteria keberhasilan dari proses pembelajaran inkuiri bukan ditentukan oleh sejauhmana siswa dapat menguasai materi pelajaran, akan tetapi sejauh mana siswa beraktifitas mencari dan menemukan sesuatu.
Model mengajar inkuiri merupakan salah satu model kognitif yang diunggulkan untuk pembelajaran IPA di sekolah. Perlunya guru IPA merancang pembelajaran IPA yang berbasis inkuiri telah ditekankan sejak lama oleh para pakar pendidikan dan pakar pendidikan IPA. Dalam NRC (2000) disebutkan bahwa inkuiri sebagai suatu proses penyelidikan masalah, formulasi hipotesis, merencanakan eksperimen, mengumpulkan data dan membuat kesimpulan. Jadi dalam pembelajaran berbasis inkuiri, siswa terlibat secara mental dan secara fisik untuk memecahkan masalah yang diberikan guru.
Salah satu tujuan utama guru dalam pembelajaran berbasis inkuiri di kelas adalah membantu siswa memecahkan masalah dan berfikir kritis, sehingga dalam hal ini guru dan siswa mempunyai tanggung jawab yang baru dalam pembelajaran. Dengan demikian jelas bahwa pembelajaran yang berbasis inkuiri ini sangat cocok digunakan pada pembelajaran IPA, karena dalam proses belajar mengajar IPA guru dituntut untuk membuat rencana pelajaran yang cocok untuk pembelajaran inkuiri dan tentu saja disesuaikan dengan konsep yang akan diajarkan. Pendekatan dan metode apapun yang dipakai dalam kegiatan belajar mengajar IPA, sudah semestinya menempatkan siswa sebagai pusat perhatian utama. Peranan guru dalam menentukan pola kegiatan belajar mengajar ditekankan pada bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar siswa. Metode yang mampu menggiring peserta didik untuk menyadari apa yang telah didapatkan selama belajar. Inkuiri menempatkan peserta didik sebagai subyek belajar yang aktif (Mulyasa, 2003). Lebih lanjut Esler (1993) mengatakan bahwa ada 4 hal penting mengapa mengajar dengan inkuiri perlu diberikan kepada siswa, yaitu; Pertama, memelihara rasa ingin tahu siswa; Kedua, melibatkan siswa dalam aktivitas pembelajaran yang memerlukan keterampilan kognitif lebih tinggi; Ketiga, mengembangkan sikap positif siswa terhadap sains dan keempat, memberikan pengalaman konkrit bagi siswa yang belum mencapai tahap operasional.
Menurut Wainwright (2003) pembelajaran berbasis inkuiri adalah seni penciptaan situasi dimana siswa mengambil peran sebagai ilmuwan. Dalam situasi ini, siswa mengambil inisiatif untuk mengamati dan menanyakan fenomena, memperagakan penjelasan apa yang mereka lihat, merencanakan dan menentukan tes yang mungkin mendukung dan menentang teori mereka, menganalisis data dan menyimpulkan dari data percobaan. Pembelajaran IPA berbasis inkuiri akan bersifat aktif melibatkan siswa, belajar secara “hands on” dan eksperimen, belajar berdasarkan aktivitas, menggabungkan inkuiri dengan pendekatan discoveri, mengembangkan keterampilan proses melalui metode ilmiah. Dengan demikian jelas bahwa pembelajaran IPA berbasis inkuiri akan melibatkan siswa dalam mencari pengetahuan secara aktif. Dengan kata lain pembelajaran berbasis inkuiri akan mengajak siswa untuk memuaskan keingintahuannya. Keingintahuan tersebut akan terpuaskan bila siswa sudah mampu membangun kerangka mental yang dapat menjelaskan pengalamannya dengan tepat.
Esensi pembelajaran IPA berbasis inkuiri adalah melibatkan siswa dalam masalah yang sesungguhnya dengan cara mengkonfrontasikan mereka ke dalam suatu hal penyelidikan, membantu mereka mengidentifikasi suatu masalah secara konseptual atau metodologis dan mengundang mereka untuk merancang cara penyelesaian masalah tersebut (Indrawati,2000). Sedangkan esensi lain dari pembelajaran IPA berbasis inkuiri adalah keterlibatan dalam pembelajaran yang membawa pada pemahaman. Keterlibatan dalam pembelajaran mengandung makna proses skill dan attitude yang memberi kesempatan untuk mencari pemecahan-pemecahan pada pertanyaan-pertanyaan dan isu-isu ketika membangun pengetahuan baru (Exline,2004).
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas diketahui bahwa proses pembelajaran inkuiri melibatkan siswa dalam pembelajaran aktif untuk membangun pengertian dan pengetahuan yang baru. Pengetahuan tersebut bagi siswa dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan dan mengembangkan solusi atau mendukung pandangan tertentu terhadap suatu masalah. Penggunaan pembelajaran IPA berbasis inkuiri ini membantu siswa untuk lebih kreatif dan berpikiran luas. “Kesadaran dari perpaduan afektif dan kognitif merupakan bentuk perwujudan dari inkuiri ”(Alberta,2004).
Menurut Depdiknas (2003: 69) Proses-proses dalam pembelajaran berbasis inkuiri adalah menemukan masalah, menyusun hipotesis, merencanakan eksperimen, melaksanakan eksperimen untuk menguji hipotesis, mensintesis pengetahuan, mengembangkan beberapa sikap yaitu sikap obyektif, ingin tahu, terbuka dan bertanggung jawab. National Science Education Standard Amerika Serikat (NRC, 2000) juga menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran IPA yang didasari oleh inkuiri untuk grade K-4 ada lima aspek yang harus dimunculkan dalam upaya untuk menanamkan kemampuan inkuiri kepada siswa. Aspek-aspek tersebut meliputi; merumuskan masalah, merencanakan penelitian, melaksanakan penelitian dan pengumpulan data, membuat penjelasan berdasarkan data hasil observasi serta mengkomunikasikan hasil penelitian. Sedangkan untuk grade 5 sampai dengan grade 8 ada delapan aspek yaitu; aspek merumuskan masalah; aspek merencanakan dan melaksanakan suatu penyelidikan sederhana; aspek menggunakan peralatan dan teknik yang tepat untuk mengumpulkan, menganalisis dan menafsirkan data; aspek memberikan deskripsi, penjelasan, prediksi dan model berdasarkan bukti yang ada; aspek berfikir kritis dan logis untuk mengaitkan antara penjelasan dan bukti yang ada; aspek mengenali dan menganalisis penjelasan-penjelasan lain yang akan dibuat; aspek mengkomunikasikan prosedur dan hasil penyelidikan dan aspek menggunakan matematika pada semua aspek dalam Inkuiri.
Lebih lanjut National Science Education Standard (dalam Dyasi) menyatakan bahwa komponen utama dalam proses belajar mengajar sains berbasis inkuiri ”siswa-siswa pada semua kelas harus mempunyai kesempatan untuk menggunakan scientific Inquiry dan mengembangkan kemampuan berfikir dan melakukan sesuatu sesuai dengan inkuiri termasuk di dalamnya merumuskan masalah, merencanakan penelitian, melaksanakan penelitian dan pengumpulan data, membuat penjelasan berdasarkan data hasil observasi serta mengkomunikasikan hasil penelitian.
Secara umum dalam pembelajaran IPA berbasis inkuiri diperlukan beberapa tahapan, yaitu: Pertama, penyajian masalah; kedua, pengumpulan dan verifikasi data (merumuskan hipotesis); Ketiga, pengumpulan data dan melaksanakan eksperimen; keempat, meneruskan penjelasan dan kelima, mengadakan analisa tentang proses inkuiri atau mengkomunikasikan hasil penyelidikan.
Pembelajaran IPA berbasis inkuiri yang dikehendaki adalah pembelajaran yang didasarkan pada prinsip-prinsip ilmiah, baik sikap ilmiah, proses ilmiah maupun produk ilmiah. Menjadi seorang guru yang berhasil khususnya dalam pembelajaran berbasis inkuiri, memerlukan sikap dan keterampilan yang mendorong siswa untuk berfikir reflektif dan mampu memecahkan masalah. Untuk itu seorang guru harus mampu bagaimana mengajarkan IPA dengan baik.
Mengajar IPA melalui inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Siswa berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri. Sedangkan guru IPA bertindak sebagai agen perubahan, membantu pengembangan perubahan dalam mengajarkan IPA, menyiapkan peralatan dan bahan, dukungan moral dan memberi motivasi. Sedangkan implikasi dari inkuiri dalam pembelajaran IPA menuntut guru untuk menyiapkan kegiatan yang memungkinkan siswa mengidentifikasi dan mereview informasi secara kritis. Menurut Sanjaya (2007), kriteria keberhasilan dari proses pembelajaran inkuiri bukan ditentukan oleh sejauhmana siswa dapat menguasai materi pelajaran, akan tetapi sejauh mana siswa beraktifitas mencari dan menemukan sesuatu.
07 Desember 2011
Artikel Sains
BAHAN AJAR BERORIENTASI LITERASI SAINS
Sumber: Membangun Literasi Sains Peserta Didik
(Uus Toharudin, dkk. 2011)
A.Bahan Ajar Berorientasi Literasi Sains
Terdapat dua pengertian mendasar yang harus dipahami mengenai Bahan Ajar Berorientasi Literasi sains, pertama literasi sains, dan yang kedua adalah adalah bahan ajar. Keduanya saling berhubungan, dalam pembelajaran di sekolah pada umumnya literasi sains berkaitan dengan penggunaan bahan ajar yang digunakan, keadaan bahan ajar menjadi sangat penting untuk dicermati (Toharuddin, et.al:2011).
Secara harfiah literasi sains berasal dari dua padanan kata yaitu literasi dan sains. Literasi berasal dari kata literacy yang berarti melek huruf atau gerakan pemberantasan buta huruf (Echols dan Shadilly, 1990). Sains berarti ilmu pengetahuan. Sains merupakan sekelompok pengetahuan tentang objek dan fenomena alam yang diperoleh dari pemikiran dan penelitian para ilmuwan yang dilakukan dengan keterampilan bereksperimen menggunakan metode ilmiah (Pudjiadi,1987). C.E de Boer (1991) menyatakan bahwa orang yang pertama menggunakan istilah literasi sains adalah Paul de Hart Hurt dari Stanford University yang menyatakan Scientific Literacy berarti memahami sains dan aplikasinya bagi kebutuhan masyarakat. Poedjiadi (2005) menyatakan literasi sains dan teknologi adalah suatu kebutuhan dan tantangan, karena keduanya memainkan peranan penting dalam kehidupan, terutama untuk meningkatkan kualitas kehidupan.
Bahan ajar atau materi pembelajaran secara garis besar terdiri atas pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Secara terperinci, jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap atau nilai. Bahan ajar atau materi pelajaran sains tidak hanya merupakan sekumpulan fakta, konsep, prosedur serta pengetahuan yang bersifat metakognitif semata. Bahan ajar sains yang diperlukan oleh siswa adalah bahan ajar yang dapat memenuhi kebutuhannya dalam usaha menguasai materi pelajaran dan kompetensi yang berkaitan dengan literasi sains harus dimilikinya.
Tujuan pendidikan sains adalah meningkatkan kompetensi siswa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam berbagai situasi, yaitu untuk belajar lebih lanjut dan hidup di masyarakat yang dipengaruhi oleh perkembangan sains dan teknologi, sehingga siswa dapat berguna bagi dirinya sendiri dan masyarakat. Menurut Suhendra Yusuf (2003), literasi sains penting untuk dikuasai siswa dalam kaitannya dengan bagaimana siswa dapat memahami lingkungan hidup, kesehatan, ekonomi, dan masalah-masalah lain yang dihadapi oleh masyarakat modern yang sangat tergantung pada teknologi dan kemajuan serta perkembangan ilmu pengetahuan.
Ciri-ciri yang menunjukkan bahwa seseorang memiliki literasi sains menurut Poedjiadi (2005: 102-103). Pertama, ia menggunakan konsep sains-konsep sains, keterampilan proses dan nilai apabila mengambil keputusan yang bertanggungjawab dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, ia mengetahui bagaimana masyarakat mempengaruhi sains dan teknologi serta bagaimana sains dan teknologi mempengaruhi masyarakat. Ketiga, ia mengetahui bahwa masyarakat mengontrol sains dan teknologi melalui pengelolaan sumber daya alam. Keempat, ia menyadari keterbatasan dan kegunaan sains dan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Kelima, ia memahami sebagian besar konsep-konsep sains, hipotesis dan teori sains dan mampu menggunakannya. Keenam, ia menghargai sains dan teknologi sebagai stimulus intelektual yang dimilikinya. Ketujuh, ia mengetahui bahwa pengetahuan ilmiah tergantung pada proses-proses inkuari dan teori-teori. Kedelapan, ia membedakan antara fakta-fakta ilmiah dan opini pribadi. Kesembilan, ia mengakui asal usul sains dan mengetahui bahwa pengetahuan ilmiah adalah tentatif. Kesepuluh, ia mengetahui aplikasi teknologi dan pengambilan keputusan menggunakan teknolog. Kesebelas, ia memiliki pengetahuan dan pengalaman cukup untuk memberi penghargaan pada penelitian dan pengembangan teknologi. Keduabelas, ia mengetahui sumber-sumber informasi dari sains dan teknologi yang dipercaya dan menggunakan sumber-sumber tersebut dalam pengambilan keputusan.
Setelah memahami karakteristik orang yang memiliki literasi sains, maka para praktisi dapat menentukan arah pendidikan sains dan bagaimana menciptakan sebuah kondisi agar penguasaan literasi sains oleh siswa tersebut dapat terwujud.
B.Dimensi Pokok Bahan Ajar untuk Mengembangkan Literasi Sains
Bahan ajar berbasis literasi sains merupakan perpaduan dari dua dimensi pokok, yaitu dimensi pengetahuan dan dimensi literasi sains.
1. Dimensi Pengetahuan sebagai Bahan Ajar Sains
Terdapat empat macam dimensi pengetahuan yang merupakan materi pembelajaran, yaitu pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan metakognitif. Jenis-jenis pengetahuan tersebut pada dasarnya menunjukkan penjenjangan dari yang sifatnya konkrit hingga yang sifatnya abstrak (metakognitif).
a.Pengetahuan Faktual (Factual Knowledge) adalah pengetahuan yang merupakan potongan-potongan informasi yang masih terpisah atau disebut juga unsur dasar dalam suatu disiplin ilmu tertentu, yang terdiri dari pengetahuan tentang terminologi dan pengetahuan tentang bagian detail dan unsur-unsur. Contoh pengetahuan faktual antara lain adalah nama tempat, tanggal kejadian, nama tokoh, peristiwa penting.
b.Pengetahuan Konseptual (Conceptual Knowledge) adalah pengetahuan yang menunjukkan saling keterkaitan antara unsur-unsur dasar dalam struktur yang lebih besar dan semuanya memiliki fungsi yang bekerja secara bersama-sama. Ada tiga macam pengetahuan konseptual, yaitu pengetahuan tentang klasifikasi dan kategori, pengetahuan tentang prinsip dan generalisasi, serta pengetahuan tentang teori, model, dan struktur.
c.Pengetahuan Prosedural (Prosedural Knowledge) adalah pengetahuan tentang bagaimana mengerjakan sesuatu, baik yang bersifat rutin maupun yang baru. Biasanya pengetahuan prosedural berisi langkah-langkah atau tahapan yang harus diikuti dalam mengerjakan suatu hal tertentu. Ada tiga jenis pengetahuan prosedural, yaitu pengetahuan tentang keterampilan khusus yang berhubungan dengan bidang tertentu dan algoritma untuk menyelesaikan suatu masalah, pengetahuan tentang teknik dan metode yang berhubungan dengan suatu bidang tertentu serta pengetahuan mengenai suatu kriteria untuk menentukan kapan suatu prosedur tepat untuk digunakan.
d.Pengetahuan metakognitif (Metakognitif knowledge) adalah pengetahuan tentang kognisi secara umum dan pengetahuan tentang diri sendiri, yang terdiri dari tiga jenis. Pertama, pengetahuan strategik mencakup pengetahuan tentang strategi umum untuk belajar, berpikir dan memecahkan masalah. Kedua, pengetahuan tentang tugas kognitif, termasuk di dalamnya pengetahuan tentang konteks dan kondisi yang sesuai. Ketiga, pengetahuan tentang diri sendiri. Contoh pengetahuan metakognitif adalah : pengetahuan tentang cara belajar dengan cara mengulang-ulang informasi, pengetahuan tentang cara memahami buku pelajaran yang lebih sulit dibandingkan memahami buku popular, serta pengetahuan mengenai kemampuan yang dimiliki dalam menyelesaikan tugas.
2.Dimensi Literasi Sains
Literasi sains merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi isu ilmiah, menjelaskan fenomena secara ilmiah, dan menggunakan bukti ilmiah. Ada tiga dimensi literasi sains, yaitu: konten, proses dan konteks.
a)Konten Literasi Sains
Dalam dimensi konsep ilmiah (scientific concepts) siswa perlu menangkap sejumlah konsep esensial untuk dapat memahami fenomena alam tertentu dan perubahan-perubahan yang terjadi akibat kegiatan manusia.
b)Proses Literasi Sains
Kemampuan untuk menggunakan pengetahuan dan pemahaman ilmiah, seperti kemampuan siswa untuk mencari, menafsirkan dan memperlakukan bukti-bukti, seperti : mengenali pertanyaan ilmiah (i), mengidentifikasi bukti (ii), menarik kesimpulan (iii), mengkomunikasikan kesimpulan (iv), dan menunjukkan pemahaman konsep ilmiah (v).
c)Konteks Literasi sains
Konteks literasi sains melibatkan isu-isu yang penting dalam kehidupan secara umum seperti juga terhadap kepedulian pribadi.
Pengetahuan Ilmiah meliputi pengetahuan sains dan pengetahuan mengenai sains. Pengetahuan sains mencakup fisika, kimia, biologi, ilmu pengeta-huan bumi antariksa, dan teknologi berbasis sains. Adapun pengetahuan mengenai sains adalah alat (inkuiri ilmiah) dan tujuan (penjelasan ilmiah). Situasi atau konteks meliputi area aplikasi konsep-konsep sains, sedangkan sikap mengindi-kasikan minat siswa pada sains, menyukai inkuiri ilmiah, motivasi untuk mau bertanggung jawab, misalnya terhadap dirinya, sumber daya alam dan lingkungan.
C.Beberapa Aspek Penting dalam Pengembangan Literasi Sains Berbasis Bahan Ajar
Materi yang terdapat dalam pelajaran sains termasuk ke dalam kurikulum kolateral. Ketuntasan siswa dalam mempelajari suatu konsep dalam mata pelajaran sains ditentukan pula oleh ketuntasan materi-materi yang merupakan kemampuan dasar yang harus dikuasai oleh siswa. Penguasaan konsep-konsep atau materi sains bagi siswa pada dasarnya tergantung pula pada penguasaan teknik dan nonteknik kebahasaan yang terdapat dalam sains (literacy science), yaitu : istilah-istilah sains, membaca bahan bacaan sains, dan mengkomunikasikan sains baik secara lisan maupun tulisan. Selain itu, hal-hal yang berdampak pada keberhasilan siswa dalam menuntaskan pelajaran adalah kebiasaan dan cara siswa belajar serta kemampuan guru dalam mengenali potensi siswa sehingga dapat menyusun, merumuskan, melaksanakan kurikulum serta melakukan evaluasi atau penilaian terhadap siswa maupun kurikulum untuk menilai tingkat pencapaian pembelajaran.
1.Aspek Pemahaman Terhadap Istilah-Istilah dalam Sains
Istilah-istilah ilmiah yang terdapat dalam sains dapat menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam memahami dan menguasai konsep sains. Ada beberapa kata yang mudah dibaca dan mudah diingat namun sulit untuk dimengerti oleh siswa, ada pula proses atau peristiwa sains yang mudah dimengerti oleh siswa namun siswa mengalami kesulitan untuk menyebutkan istilahnya. Oleh sebab itu, guru harus dapat membantu siswa untuk menentukan kata kunci atau istilah penting yang terdapat dalam bacaan.
2.Aspek Membaca dalam Sains
Kegiatan membaca secara umum terbagi menjadi empat kategori, yaitu membaca tanpa henti (continuous reading), membaca perlahan dan mempelajarinya (close reading), membaca sepintas secara cepat (skimming), mencari sebagian informasi yang dibutuhkan (scanning). Membaca dalam sains menuntut beberapa aktifitas yang sebaiknya dilakukan untuk dapat memahami isi bacaan. Seorang guru sebaiknya dapat memberikan rangsangan atau motivasi yang tinggi bagi siswa untuk membaca dan memberikan saran agar siswa dapat dengan mudah memahami apa yang dibacanya, dan bukan hanya terpaku pada kemampuan dia membaca.
3.Aspek Menulis dalam Pembelajaran Sains
Terdapat enam hal yang dapat membantu siswa berfikir secara ilmiah melalui kegiatan menulis dalam sains. Pertama, adalah ketika siswa terlatih untuk memberikan penjelasan bagaimana, yang kedua adalah ketika siswa memberikan penjelasan mengapa, hal ini tentu dapat membantu mereka menggambarkan suatu proses dan menghubungkan beberapa ide secara bersamaan yang memiliki konsep yang saling mendukung. Hal yang ketiga adalah siswa menuliskan argumennya, yang dapat membantunya mengembangkan kemampuan dalam mengemukakan ide atau gagasannya. Keempat, adalah ketika siswa memberikan gambaran kemudian membuat kesimpulan. Kelima, siswa menuliskan hasil analisisnya terhadap suatu keadaan serta keenam, yaitu membuat sebuah perencanaan , maka hal tersebut dapat membantu siswa mengembangkan kemampuannya dalam inkuri sains.
4.Aspek Berkomunikasi Secara Lisan dalam Pembelajaran Sains
Beberapa penelitian membuktikan bahwa siswa lebih banyak mendengarkan penjelasan guru namun sedikit sekali yang menggunakan waktunya untuk berdiskusi dengan teman atau gurunya. Siswa butuh kesempatan untuk dapat mengungkapkan, menjelaskan dan menunjukkan pemahamannya tentang sains dan menggunakan istilah-istilah sains yang diketahuinya secara benar. Siswa harus diberi kesempatan untuk mengembangkan pemikirannya dengan berbicara, berdiskusi, serta berbagi untuk mengungkapkan apa yang diketahuinya dan mengetahui apa yang diketahui orang lain. Peran guru dalam hal ini adalah mengorganisir serta memberikan arahan pada saat siswa melakukan diskusi agar diskusi dapat berjalan efektif.
D.Kriteria Bahan Ajar Berorientasi Literasi Sains
Pada saat menyusun dan menulis bahan ajar untuk mengembangkan literasi sains, guru atau penulis bahan ajar perlu mempertimbangkan beberapa aspek seperti berikut.
1. Sudut Pandang
Bahan ajar yang disusun sebaiknya mempunyai landasan, prinsip atau sudut pandang tertentu yang menjiwai atau melandasinya. Dalam pembelajaran sains, pemahaman seorang penulis bahan ajar mengenai hakikat sains dan literasi sains akan sangat menentukan kualitas bahan ajar yang disusunnya.
2.Tujuan Penyusunan Bahan Ajar
Penyusunan bahan ajar sebaiknya memiliki tujuan yang jelas, apakah untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, ataukah psikomotor. Bahan ajar yang disusun bertujuan untuk membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan berdasarkan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan Indikator yang dirumuskan.
3.Kejelasan dan Kebenaran Konsep
Konsep-konsep yang diuraikan dalam bahan ajar hendaknya jelas. Penjelasan mengenai suatu konsep hendaknya disesuaikan dengan tahap perkembangan siswa, oleh karena itu penulis bahan ajar sebaiknya mampu menyederhanakan suatu konsep kedalam bahasa anak dan pemahaman anak.
4.Sesuai dengan Kurikulum yang berlaku
Kurikulum adalah acuan utama dalam pengembangan bahan ajar. Dalam kurikulum disebutkan tujuan pembelajaran dalam bentuk kompetensi-kompetensi yang diharapkan dicapai oleh siswa sesudah mengalami proses pembelajaran. Dengan demikian, bahan ajar merupakan hasil analisis dan uraian lebih lanjut dari kompetensi dan merupakan kumpulan pengetahuan yang perlu diketahui siswa untuk dapat memperoleh kompetensi yang ditetapkan.
5.Menarik Minat Siswa
Bahan ajar yang disusun sebaiknya dapat menarik minat siswa yang membacanya. Ketertarikan siswa terhadap bahan ajar merupakan sebuah kekuatan yang dapat membantu tercapainya tujuan yang diharapkan.
6.Menumbuhkan Motivasi, Menstimulasi Aktivitas dan Kemampuan Berpikir Siswa
Selain menarik, bahan ajar sebaiknya dapat meningkatkan rasa keingintahuan siswa sehingga terdorong untuk mempelajarinya dan menstimulusnya untuk melakukan aktifitas pembelajaran sesuai dengan apa yang diharapkan dalam tujuan dan indikator pembelajaran.
7.Ilustratif
Ilustrasi adalah penggambaran terhadap sesuatu. Ilustrasi berfungsi untuk lebih memperjelas konsep dan dapat disajikan dalam bentuk deskripsi dan grafis. Fungsi pokok ilustrasi ialah menyederhanakan, meringkas, memperjelas, menarik/memusatkan perhatikan, menghindari kejenuhan, dan menghias ruang kosong.
8.Penggunaan Bahasa yang Komunikatif, Logis dan Sistematis
Penggunaan bahasa dalam bahan ajar hendaknya memperhatikan beberapa aspek untuk dapat membantunya memahami uraian materi, yaitu: sesuai dengan tingkat perkembangan siswa, menggunakan bahasa yang mudah dipahami, menggunakan kalimat efektif dan terhindar dari makna ganda.
9.Kontekstual dan Mutakhir
Materi yang disusun dalam bahan ajar hendaknya mutakhir atau kontekstual serta menunjang penguasaan kemampuan literasi sains siswa, maksudnya adalah bahwa bahan ajar tersebut memiliki kesesuaian dengan kehidupan anak sehari-hari dan dapat membekalinya dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta bagaimana menggunakan pengetahuan tersebut dalam kehidupan nyata yang dihadapinya.
10.Menghargai Perbedaan Individu
Sebuah bahan ajar yang baik tidaklah membesar-besarkan perbedaan individu tertentu. Perbedaan dalam kemampuan , bakat, minat, ekonomi, sosial, budaya setiap individu tidak dipermasalahkan tetapi diterima sebagaimana adanya.
11.Memantapkan Nilai-Nilai
Bahan ajar yang disusun hendaknya dapat menyentuh berbagai aspek kehidupan mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat, lingkungan sekitar berangsur angsur meluas ke regional, nasional dan internasional. Bahan ajar juga hendaknya menunjang pemahaman bagi mata pelajaran lainnya, bersifat membangun keteladanan atau contoh yang pantas ditiru, serta dapat menumbuhkan perbendaharaan kata siswa. Menumbuhkan keberanian antara lain menampilkan diri melalui ekspresi buah pikiran, menanggapi, adu argumentasi. Bersifat kultural-edukatif dan memantapkan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat
Sumber: Membangun Literasi Sains Peserta Didik
(Uus Toharudin, dkk. 2011)
A.Bahan Ajar Berorientasi Literasi Sains
Terdapat dua pengertian mendasar yang harus dipahami mengenai Bahan Ajar Berorientasi Literasi sains, pertama literasi sains, dan yang kedua adalah adalah bahan ajar. Keduanya saling berhubungan, dalam pembelajaran di sekolah pada umumnya literasi sains berkaitan dengan penggunaan bahan ajar yang digunakan, keadaan bahan ajar menjadi sangat penting untuk dicermati (Toharuddin, et.al:2011).
Secara harfiah literasi sains berasal dari dua padanan kata yaitu literasi dan sains. Literasi berasal dari kata literacy yang berarti melek huruf atau gerakan pemberantasan buta huruf (Echols dan Shadilly, 1990). Sains berarti ilmu pengetahuan. Sains merupakan sekelompok pengetahuan tentang objek dan fenomena alam yang diperoleh dari pemikiran dan penelitian para ilmuwan yang dilakukan dengan keterampilan bereksperimen menggunakan metode ilmiah (Pudjiadi,1987). C.E de Boer (1991) menyatakan bahwa orang yang pertama menggunakan istilah literasi sains adalah Paul de Hart Hurt dari Stanford University yang menyatakan Scientific Literacy berarti memahami sains dan aplikasinya bagi kebutuhan masyarakat. Poedjiadi (2005) menyatakan literasi sains dan teknologi adalah suatu kebutuhan dan tantangan, karena keduanya memainkan peranan penting dalam kehidupan, terutama untuk meningkatkan kualitas kehidupan.
Bahan ajar atau materi pembelajaran secara garis besar terdiri atas pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Secara terperinci, jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap atau nilai. Bahan ajar atau materi pelajaran sains tidak hanya merupakan sekumpulan fakta, konsep, prosedur serta pengetahuan yang bersifat metakognitif semata. Bahan ajar sains yang diperlukan oleh siswa adalah bahan ajar yang dapat memenuhi kebutuhannya dalam usaha menguasai materi pelajaran dan kompetensi yang berkaitan dengan literasi sains harus dimilikinya.
Tujuan pendidikan sains adalah meningkatkan kompetensi siswa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam berbagai situasi, yaitu untuk belajar lebih lanjut dan hidup di masyarakat yang dipengaruhi oleh perkembangan sains dan teknologi, sehingga siswa dapat berguna bagi dirinya sendiri dan masyarakat. Menurut Suhendra Yusuf (2003), literasi sains penting untuk dikuasai siswa dalam kaitannya dengan bagaimana siswa dapat memahami lingkungan hidup, kesehatan, ekonomi, dan masalah-masalah lain yang dihadapi oleh masyarakat modern yang sangat tergantung pada teknologi dan kemajuan serta perkembangan ilmu pengetahuan.
Ciri-ciri yang menunjukkan bahwa seseorang memiliki literasi sains menurut Poedjiadi (2005: 102-103). Pertama, ia menggunakan konsep sains-konsep sains, keterampilan proses dan nilai apabila mengambil keputusan yang bertanggungjawab dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, ia mengetahui bagaimana masyarakat mempengaruhi sains dan teknologi serta bagaimana sains dan teknologi mempengaruhi masyarakat. Ketiga, ia mengetahui bahwa masyarakat mengontrol sains dan teknologi melalui pengelolaan sumber daya alam. Keempat, ia menyadari keterbatasan dan kegunaan sains dan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Kelima, ia memahami sebagian besar konsep-konsep sains, hipotesis dan teori sains dan mampu menggunakannya. Keenam, ia menghargai sains dan teknologi sebagai stimulus intelektual yang dimilikinya. Ketujuh, ia mengetahui bahwa pengetahuan ilmiah tergantung pada proses-proses inkuari dan teori-teori. Kedelapan, ia membedakan antara fakta-fakta ilmiah dan opini pribadi. Kesembilan, ia mengakui asal usul sains dan mengetahui bahwa pengetahuan ilmiah adalah tentatif. Kesepuluh, ia mengetahui aplikasi teknologi dan pengambilan keputusan menggunakan teknolog. Kesebelas, ia memiliki pengetahuan dan pengalaman cukup untuk memberi penghargaan pada penelitian dan pengembangan teknologi. Keduabelas, ia mengetahui sumber-sumber informasi dari sains dan teknologi yang dipercaya dan menggunakan sumber-sumber tersebut dalam pengambilan keputusan.
Setelah memahami karakteristik orang yang memiliki literasi sains, maka para praktisi dapat menentukan arah pendidikan sains dan bagaimana menciptakan sebuah kondisi agar penguasaan literasi sains oleh siswa tersebut dapat terwujud.
B.Dimensi Pokok Bahan Ajar untuk Mengembangkan Literasi Sains
Bahan ajar berbasis literasi sains merupakan perpaduan dari dua dimensi pokok, yaitu dimensi pengetahuan dan dimensi literasi sains.
1. Dimensi Pengetahuan sebagai Bahan Ajar Sains
Terdapat empat macam dimensi pengetahuan yang merupakan materi pembelajaran, yaitu pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan metakognitif. Jenis-jenis pengetahuan tersebut pada dasarnya menunjukkan penjenjangan dari yang sifatnya konkrit hingga yang sifatnya abstrak (metakognitif).
a.Pengetahuan Faktual (Factual Knowledge) adalah pengetahuan yang merupakan potongan-potongan informasi yang masih terpisah atau disebut juga unsur dasar dalam suatu disiplin ilmu tertentu, yang terdiri dari pengetahuan tentang terminologi dan pengetahuan tentang bagian detail dan unsur-unsur. Contoh pengetahuan faktual antara lain adalah nama tempat, tanggal kejadian, nama tokoh, peristiwa penting.
b.Pengetahuan Konseptual (Conceptual Knowledge) adalah pengetahuan yang menunjukkan saling keterkaitan antara unsur-unsur dasar dalam struktur yang lebih besar dan semuanya memiliki fungsi yang bekerja secara bersama-sama. Ada tiga macam pengetahuan konseptual, yaitu pengetahuan tentang klasifikasi dan kategori, pengetahuan tentang prinsip dan generalisasi, serta pengetahuan tentang teori, model, dan struktur.
c.Pengetahuan Prosedural (Prosedural Knowledge) adalah pengetahuan tentang bagaimana mengerjakan sesuatu, baik yang bersifat rutin maupun yang baru. Biasanya pengetahuan prosedural berisi langkah-langkah atau tahapan yang harus diikuti dalam mengerjakan suatu hal tertentu. Ada tiga jenis pengetahuan prosedural, yaitu pengetahuan tentang keterampilan khusus yang berhubungan dengan bidang tertentu dan algoritma untuk menyelesaikan suatu masalah, pengetahuan tentang teknik dan metode yang berhubungan dengan suatu bidang tertentu serta pengetahuan mengenai suatu kriteria untuk menentukan kapan suatu prosedur tepat untuk digunakan.
d.Pengetahuan metakognitif (Metakognitif knowledge) adalah pengetahuan tentang kognisi secara umum dan pengetahuan tentang diri sendiri, yang terdiri dari tiga jenis. Pertama, pengetahuan strategik mencakup pengetahuan tentang strategi umum untuk belajar, berpikir dan memecahkan masalah. Kedua, pengetahuan tentang tugas kognitif, termasuk di dalamnya pengetahuan tentang konteks dan kondisi yang sesuai. Ketiga, pengetahuan tentang diri sendiri. Contoh pengetahuan metakognitif adalah : pengetahuan tentang cara belajar dengan cara mengulang-ulang informasi, pengetahuan tentang cara memahami buku pelajaran yang lebih sulit dibandingkan memahami buku popular, serta pengetahuan mengenai kemampuan yang dimiliki dalam menyelesaikan tugas.
2.Dimensi Literasi Sains
Literasi sains merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi isu ilmiah, menjelaskan fenomena secara ilmiah, dan menggunakan bukti ilmiah. Ada tiga dimensi literasi sains, yaitu: konten, proses dan konteks.
a)Konten Literasi Sains
Dalam dimensi konsep ilmiah (scientific concepts) siswa perlu menangkap sejumlah konsep esensial untuk dapat memahami fenomena alam tertentu dan perubahan-perubahan yang terjadi akibat kegiatan manusia.
b)Proses Literasi Sains
Kemampuan untuk menggunakan pengetahuan dan pemahaman ilmiah, seperti kemampuan siswa untuk mencari, menafsirkan dan memperlakukan bukti-bukti, seperti : mengenali pertanyaan ilmiah (i), mengidentifikasi bukti (ii), menarik kesimpulan (iii), mengkomunikasikan kesimpulan (iv), dan menunjukkan pemahaman konsep ilmiah (v).
c)Konteks Literasi sains
Konteks literasi sains melibatkan isu-isu yang penting dalam kehidupan secara umum seperti juga terhadap kepedulian pribadi.
Pengetahuan Ilmiah meliputi pengetahuan sains dan pengetahuan mengenai sains. Pengetahuan sains mencakup fisika, kimia, biologi, ilmu pengeta-huan bumi antariksa, dan teknologi berbasis sains. Adapun pengetahuan mengenai sains adalah alat (inkuiri ilmiah) dan tujuan (penjelasan ilmiah). Situasi atau konteks meliputi area aplikasi konsep-konsep sains, sedangkan sikap mengindi-kasikan minat siswa pada sains, menyukai inkuiri ilmiah, motivasi untuk mau bertanggung jawab, misalnya terhadap dirinya, sumber daya alam dan lingkungan.
C.Beberapa Aspek Penting dalam Pengembangan Literasi Sains Berbasis Bahan Ajar
Materi yang terdapat dalam pelajaran sains termasuk ke dalam kurikulum kolateral. Ketuntasan siswa dalam mempelajari suatu konsep dalam mata pelajaran sains ditentukan pula oleh ketuntasan materi-materi yang merupakan kemampuan dasar yang harus dikuasai oleh siswa. Penguasaan konsep-konsep atau materi sains bagi siswa pada dasarnya tergantung pula pada penguasaan teknik dan nonteknik kebahasaan yang terdapat dalam sains (literacy science), yaitu : istilah-istilah sains, membaca bahan bacaan sains, dan mengkomunikasikan sains baik secara lisan maupun tulisan. Selain itu, hal-hal yang berdampak pada keberhasilan siswa dalam menuntaskan pelajaran adalah kebiasaan dan cara siswa belajar serta kemampuan guru dalam mengenali potensi siswa sehingga dapat menyusun, merumuskan, melaksanakan kurikulum serta melakukan evaluasi atau penilaian terhadap siswa maupun kurikulum untuk menilai tingkat pencapaian pembelajaran.
1.Aspek Pemahaman Terhadap Istilah-Istilah dalam Sains
Istilah-istilah ilmiah yang terdapat dalam sains dapat menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam memahami dan menguasai konsep sains. Ada beberapa kata yang mudah dibaca dan mudah diingat namun sulit untuk dimengerti oleh siswa, ada pula proses atau peristiwa sains yang mudah dimengerti oleh siswa namun siswa mengalami kesulitan untuk menyebutkan istilahnya. Oleh sebab itu, guru harus dapat membantu siswa untuk menentukan kata kunci atau istilah penting yang terdapat dalam bacaan.
2.Aspek Membaca dalam Sains
Kegiatan membaca secara umum terbagi menjadi empat kategori, yaitu membaca tanpa henti (continuous reading), membaca perlahan dan mempelajarinya (close reading), membaca sepintas secara cepat (skimming), mencari sebagian informasi yang dibutuhkan (scanning). Membaca dalam sains menuntut beberapa aktifitas yang sebaiknya dilakukan untuk dapat memahami isi bacaan. Seorang guru sebaiknya dapat memberikan rangsangan atau motivasi yang tinggi bagi siswa untuk membaca dan memberikan saran agar siswa dapat dengan mudah memahami apa yang dibacanya, dan bukan hanya terpaku pada kemampuan dia membaca.
3.Aspek Menulis dalam Pembelajaran Sains
Terdapat enam hal yang dapat membantu siswa berfikir secara ilmiah melalui kegiatan menulis dalam sains. Pertama, adalah ketika siswa terlatih untuk memberikan penjelasan bagaimana, yang kedua adalah ketika siswa memberikan penjelasan mengapa, hal ini tentu dapat membantu mereka menggambarkan suatu proses dan menghubungkan beberapa ide secara bersamaan yang memiliki konsep yang saling mendukung. Hal yang ketiga adalah siswa menuliskan argumennya, yang dapat membantunya mengembangkan kemampuan dalam mengemukakan ide atau gagasannya. Keempat, adalah ketika siswa memberikan gambaran kemudian membuat kesimpulan. Kelima, siswa menuliskan hasil analisisnya terhadap suatu keadaan serta keenam, yaitu membuat sebuah perencanaan , maka hal tersebut dapat membantu siswa mengembangkan kemampuannya dalam inkuri sains.
4.Aspek Berkomunikasi Secara Lisan dalam Pembelajaran Sains
Beberapa penelitian membuktikan bahwa siswa lebih banyak mendengarkan penjelasan guru namun sedikit sekali yang menggunakan waktunya untuk berdiskusi dengan teman atau gurunya. Siswa butuh kesempatan untuk dapat mengungkapkan, menjelaskan dan menunjukkan pemahamannya tentang sains dan menggunakan istilah-istilah sains yang diketahuinya secara benar. Siswa harus diberi kesempatan untuk mengembangkan pemikirannya dengan berbicara, berdiskusi, serta berbagi untuk mengungkapkan apa yang diketahuinya dan mengetahui apa yang diketahui orang lain. Peran guru dalam hal ini adalah mengorganisir serta memberikan arahan pada saat siswa melakukan diskusi agar diskusi dapat berjalan efektif.
D.Kriteria Bahan Ajar Berorientasi Literasi Sains
Pada saat menyusun dan menulis bahan ajar untuk mengembangkan literasi sains, guru atau penulis bahan ajar perlu mempertimbangkan beberapa aspek seperti berikut.
1. Sudut Pandang
Bahan ajar yang disusun sebaiknya mempunyai landasan, prinsip atau sudut pandang tertentu yang menjiwai atau melandasinya. Dalam pembelajaran sains, pemahaman seorang penulis bahan ajar mengenai hakikat sains dan literasi sains akan sangat menentukan kualitas bahan ajar yang disusunnya.
2.Tujuan Penyusunan Bahan Ajar
Penyusunan bahan ajar sebaiknya memiliki tujuan yang jelas, apakah untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, ataukah psikomotor. Bahan ajar yang disusun bertujuan untuk membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan berdasarkan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan Indikator yang dirumuskan.
3.Kejelasan dan Kebenaran Konsep
Konsep-konsep yang diuraikan dalam bahan ajar hendaknya jelas. Penjelasan mengenai suatu konsep hendaknya disesuaikan dengan tahap perkembangan siswa, oleh karena itu penulis bahan ajar sebaiknya mampu menyederhanakan suatu konsep kedalam bahasa anak dan pemahaman anak.
4.Sesuai dengan Kurikulum yang berlaku
Kurikulum adalah acuan utama dalam pengembangan bahan ajar. Dalam kurikulum disebutkan tujuan pembelajaran dalam bentuk kompetensi-kompetensi yang diharapkan dicapai oleh siswa sesudah mengalami proses pembelajaran. Dengan demikian, bahan ajar merupakan hasil analisis dan uraian lebih lanjut dari kompetensi dan merupakan kumpulan pengetahuan yang perlu diketahui siswa untuk dapat memperoleh kompetensi yang ditetapkan.
5.Menarik Minat Siswa
Bahan ajar yang disusun sebaiknya dapat menarik minat siswa yang membacanya. Ketertarikan siswa terhadap bahan ajar merupakan sebuah kekuatan yang dapat membantu tercapainya tujuan yang diharapkan.
6.Menumbuhkan Motivasi, Menstimulasi Aktivitas dan Kemampuan Berpikir Siswa
Selain menarik, bahan ajar sebaiknya dapat meningkatkan rasa keingintahuan siswa sehingga terdorong untuk mempelajarinya dan menstimulusnya untuk melakukan aktifitas pembelajaran sesuai dengan apa yang diharapkan dalam tujuan dan indikator pembelajaran.
7.Ilustratif
Ilustrasi adalah penggambaran terhadap sesuatu. Ilustrasi berfungsi untuk lebih memperjelas konsep dan dapat disajikan dalam bentuk deskripsi dan grafis. Fungsi pokok ilustrasi ialah menyederhanakan, meringkas, memperjelas, menarik/memusatkan perhatikan, menghindari kejenuhan, dan menghias ruang kosong.
8.Penggunaan Bahasa yang Komunikatif, Logis dan Sistematis
Penggunaan bahasa dalam bahan ajar hendaknya memperhatikan beberapa aspek untuk dapat membantunya memahami uraian materi, yaitu: sesuai dengan tingkat perkembangan siswa, menggunakan bahasa yang mudah dipahami, menggunakan kalimat efektif dan terhindar dari makna ganda.
9.Kontekstual dan Mutakhir
Materi yang disusun dalam bahan ajar hendaknya mutakhir atau kontekstual serta menunjang penguasaan kemampuan literasi sains siswa, maksudnya adalah bahwa bahan ajar tersebut memiliki kesesuaian dengan kehidupan anak sehari-hari dan dapat membekalinya dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta bagaimana menggunakan pengetahuan tersebut dalam kehidupan nyata yang dihadapinya.
10.Menghargai Perbedaan Individu
Sebuah bahan ajar yang baik tidaklah membesar-besarkan perbedaan individu tertentu. Perbedaan dalam kemampuan , bakat, minat, ekonomi, sosial, budaya setiap individu tidak dipermasalahkan tetapi diterima sebagaimana adanya.
11.Memantapkan Nilai-Nilai
Bahan ajar yang disusun hendaknya dapat menyentuh berbagai aspek kehidupan mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat, lingkungan sekitar berangsur angsur meluas ke regional, nasional dan internasional. Bahan ajar juga hendaknya menunjang pemahaman bagi mata pelajaran lainnya, bersifat membangun keteladanan atau contoh yang pantas ditiru, serta dapat menumbuhkan perbendaharaan kata siswa. Menumbuhkan keberanian antara lain menampilkan diri melalui ekspresi buah pikiran, menanggapi, adu argumentasi. Bersifat kultural-edukatif dan memantapkan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat
Langganan:
Postingan (Atom)