Laman

08 November 2009

Landasan Kurikulum

LANDASAN KURIKULUM

(sebuah usaha untuk memahami kurikulum)

Oleh: Sri Hendrawati

Suatu Kurikulum disusun dengan mengacu pada satu beberapa teori kurikulum, dan suatu teori kurikulum diturunkan atau dijabarkan dari teori pendidikan tertentu. Sehingga dapat dikatakan bahwa kurikulum merupakan rencana konkret penerapan dari suatu teori pendidikan.

Ada beberapa landasan utama dalam pengembangan kurikulum yaitu : landasan filosofis, landasan psikologis, landasan social budaya, dan landasan perkembangan iptek.

A. LANDASAN FILOSOFIS

Scr harfiah filosofis b’arti love of wisdom. People learn filsafat agar ia mengerti kebijakan n b’buat scr bijak. U/ dpt m’ngerti ‘n b’buat scr bijak mk ia hrs b’pengetahuan. P’tahuan diproleh mlalui proses b’fikir, scr sistematis, logis n m’dalam; berfikir scr radikal (radik=akar) smpe ke akar-akarnya. Ingat ya cie, bahwa ada p’bedaan pendekatan a/ ilmu dgn filsafat dlm m’kaji alam semesta ini. ilmu m’gunak’ pendekatan analitik, b’usaha m’uraik’ keseluruhan dlm bagian-bagian yg kecil n lebih kecil lagi. Filsafat b’upaya m’rangkum or m’integrasik’ bagian-bagian ke dlm suatu kesatuan yg m’nyeluruh ‘n b’makna. Ilmu b’kenaan dgn fakta-fakta sbagaimana adanya

( Das Sein), b’usaha melihat sgl sesuatu scr objektif, m’hilangk’ yg b’bau subjektif. Kalo filsafat melihat sesuatu dr how it should be(Das Sollen), faktor2 subjektif sngt b’pengaruh. So, filsafat ‘n ilmu bisa saling m’lengkapi (komplementer). Filsafat m’berik’ landasan2 dasar bagi ilmu.

Remember!!! ada 3 cabang besar filsafat yaitu : metafisika (m’bhs sgl yg ada di alam) , epistemology (m’bhs k’benar’), aksiologi (m’bhs ttg nilai).

Filsafat m’bhs sgl p’mslhn yg di hdp manusia trmsk masalh pendidikan yg disebut filsafat pendidikan. Filsafat pendidikan ini mrpkn aplikasi dari p’mikir’2 filosofis u/ mmchk’ mslh p’didik’, but diantara kduanya b’hub’ sgt erat. Donald Butler blg gini : 1) philosophy is primary n basic to an educational philosophy, 2) phylosopy is the flower not root of education, 3) educational philosophy is an independent discipline which might benefit from contact with general philosophy, but this contact is not essential, 4) philosophy ‘n the theory of education is one ( Butler,1957;12)


FILSAFAT DAN TEORY PENDIDIKAN JOHN DEWEY

P’ddk’ b’intik’ interaksi antar manusia, t’utama antara p’didik’ n t’ddk u/ m’capai tujuan p’ddk’. John Dewey bilang kalo p’ddk’ itu b’arti p’kembang’, p’kembang’ sjk lahir ampe m’jelang kmatian. So, pendidikan itu juga b’arti sbg khidupan.

Bagi Dewey, Education is growth, development, life artinya proses p’ddk’ itu g punya tujuan di luar dirinya, but tdpt dlm p’ddk’ itu sendiri. Proses pddkn jg b’sifat kontinu, mrupak’ reorganisasi, rekonstruksi, n p’ubahan p’alaman hidup. Pendidikan adlh reorganisasi n rekonstruksi yg konstan dr p’alaman. Pd tiap saat ada tujuan, p’buat’ pddkn slalu ditjkan u/ m’capai tujuan. Setiap fase p’kembang’ khidupan, masa kanak-kanak, masa pemuda, n dewasa, smuanya mrpk’ fase pnddkn, smua yg diplajari pd fase-fase tsb m’punyai arti sbg p’alam’. Pddkn g b’akhir, kecuali kalo orang itu dah mati.

Dewey jg bilang, “Experience is the only basis for knowledge and wisdom” (Dewey, 1964,hlm.101). P’alam’ itu m’cakup sgala aspek kgiatan manusia, baik yg b’bentuk aktif maupun yg pasif. Mngetahui tanpa m’alami itu non sen. Dewey mnolak ssuatu yg b’sft spekulatif. P’alam’ slain mrpkn sumber dr pengetahuan, jg sumber dr nilai. Krn p’alam’ slalu b’ubah mk nilai pun berubah. Nilai-nilai itu relative, subjektif, only dirsk’ o/ manusia. Sesuatu itu b’nilai krn diberi nilai o/ manusia, sesuatu itu dibutuhkan krn manusia m’bthk’nya, slalu dlm hub.nya dgn p’alam’. Nilai-nilai itu g dpt diukur n g da hierarki nilai. All values are thus subjective and either intrinsic or instrumental… Values being finally intrinsic, and feeling, it is held, being unmeasurable, no scale of values, and of any two things felt as intrinsically valuable it is than another. To be felt worthwhile in itself is thus ultimate orientation of value. (Dewey dalam Syaodih,hlm.41)

Tujuan p’kembang’ manusia is self realization. Pengertian self bagi Dewey is sesuatu yg konkret b’sifat empiris g dpt dipisahk’ dr p’alam’ n lingk. Self realization hanya dpt diproleh mlalui p’alam’ n interaksi dgn yg lain. P’alam’ sbg suatu proses yg aktif m’bthk’ waktu, waktu yg kmudian m’nyempurnak’ waktu sbelumnya. Sluruh proses pddk’ itu m’entuk p’gertian2 ttg benda, hub2 n sgala s’suatu ttg khidupannya. Konstruksi p’alam ga hanya b’sft individual ttp jg b’sifat sosial. Pddk’ mrpk’suatu lembaga yg konstruktif u/ m’perbaiki masyarakat. Realisasi pddk’ dlm bentuk p’kembang’ bkn hanya p’kembang’ anak n remaja srt muda-mudi mlaink’ jg p’kembang’masyarakat.

Tujuan pendidikan diarahk’ u/ m’capai suatu khidupan yg demokratis,sbg cr hdp b’sama sbgi way of life, p’alam’ b’sama n komunikasi b’sama. Tujuan p’ddk’ t’etak pd proses pddk’ itu sendiri, yakni kmampuan kharusan individu mnerusk’ p’kembang’nya.

John Dewey mnegaskan bhw pendidikan gak punya tujuan, hanya orangtua, guru, n masyarakat yn punya tujuan. And it is well to remind ourselves that education as such has no aims. Only persons, parents, and teacher,etc.,have aims, not an abstract idea like education. (John Dewey,1964 dalam Syaodih)

Menurut Dewey, pendidikan sama artinya dgn p’tumbuh’. Syarat p’tumbuh’ itu adanya immaturity, yg b’arti kmampuan u/ b’kembang. Immaturity ga b’arti negatif mlaink’ positif, yaitu kmampuan, kcakapan, n kekuatan u/ tumbuh. Ini menunjukkan bahwa anak adalah hidup. Ia memiliki semangat untuk berbuat. P’tumbuh’ bklah sesuatu yg hrs kita brikan, mlainkan sesuatu yg hrs mreka lakukan. Ada dua sifat dari immaturity yaitu kebergantungan n plastisitas. Kebergantungan b’arti kmampuan u/ m’nyatak’ hub. sosial n ini akan m’nyebabk’ individu itu matang dlm hub. sosial. Sbg hslnya, ‘kan tumbuh interpedensi or sling k’bergantungan a/ anggota masyarakat yg satu dgn yg lain. Plastisitas m’ngandung p’ngertian kmampuan u/tuk b’ubah. Plastisitas jg b’arti habitat yaitu kcakapan m’gunak’ keadaan lingk. sbg alat u/ m’capai tujuan, b’sifat aktif m’ubah lingk. Pengalaman bersifat aktif dan pasif. Pengalaman yang bersifat aktif berarti berusaha, mencoba dan mengubah, sedangkan pengalaman yang pasif berarti hanya menerima dan mengikuti saja. Jika kita mengalami sesuatu maka kita berbuat, sedangkan bila kita menerima atau mengikuti sesuatu berarti kita memperoleh akibat atau hasilnya. Belajar dari pengalaman berarti menghubungkan kemunduran dan kemajuan dalam perbuatan kita, yakni kita merasakan kesenangan atau penderitaan sebagai suatu akibat atau hasil. “To learn from experience is to make a backward and forward connection between what we have do to things and what we enjoy or suffer from thing in consequence.” (Dewey, dalam Syaodih,43)

Belajar dari pengalaman adalah bagaimana menghubungkan pengalaman kita dengan pengalaman masa lalu dan yang akan datang. Belajar dari pengalaman berarti mempergunakan daya fikir reflektif (reflektive thinking), dalam pengalaman kita. Pengalaman yang efektif adalah pengalaman yang reflektif. Ada lima langkah berfikir reflektif menurut John Dewey, yaitu :

  1. merasakan adanya keraguan, kebingungan yang menimbulkan masalah.
  2. mengadakan interpretasi tentative (merumuskan hipotesis)
  3. mengadakan penelitian atau pengumpulan data yang cermat
  4. memperoleh hasil dari hipotesis tentative
  5. hasil pembuktian sebafai sesuatu yang dijadikan dasar untuk berbuat.

Minimal ada 4 teori pendidikan yang banyak dibicarakan para ahli pendidikan dan dipandang mendasari pelaksanaan pendidikan (Sukmadinata,2001;7) yaitu :

  1. pendidikan klasik,
  2. pendidikan pribadi,
  3. pendidikan interaksional,
  4. teknologi pendidikan.

1. PENDIDIKAN KLASIK

Classical education is the oldest dari semua konsep pendidikan yg ada. Asumsi konsep ini bhw sluruh warisan budaya, yaitu pengetahuan, ide-ide, or nilai2 tlh ditmuk’ o/ pr pemikir dhl. So peran p’ddk’ u/ mmlihara, m’awetk’, n m’nerusk’ smua warisan budaya tsb kpd generasi brikutnya. Guru or pr p’ddk g usah repot2 m’cr apalagi m’ciptak’ pengetahuan, konsep or nilai2 br coz smua tlah t’sedia, tgl m’kuasai n m’ajark’nya kpd anak. Teori ini lbh m’nekank’ pd pranan isi p’ddk’ drpd prosesnya. Meteri yg diajark’ tgl lht aja dr buku2 yd sdh disusun o/ para ahli scr logis n sistematis. Prn guru n p’ngembang kurikulum cm m’nyajik’ ssuai dgn tktn p’kembang’ pst ddk. ‘N guru musti bner2 pinter, mnguasai bhn ajarnya. Slain itu guru jg b’peran tuk menanmk’ nilai2 kpd anak, guru b’prn sbg p’ddk. M’ddk’ nilai g sama dgn ngajarin materi pelajaran loh cie, krn nilai itu musti dimanifestasikan dlm perilaku sehari2.

So, dr konsep ini cie bisa dpt gambaran ttg sosok guru ideal yg serba tau n serba perfect dlm sikap, perilaku, pokoke ok bgt dech!!!. Tp disisi lain kasian ma murid2nya… krn mreka jd pasif hanya nrimo doank!!! ‘N mreka tuh bekerja keras tuk menguasai smuanya. Sayang yah jd cuma menekankan intelektualnya saja, segi emosional dan psikomotornya jd kurang, kyknya terpasung bgt.

Perenialisme dan Essensialisme

Kedua konsep ini m’anggap bhw masyarakat itu statis. Pendidikan b’fungsi u/ memlihara n mewarisk’ pengetahuan n konsep2 yg ada. Dlm penyusunan kurikulum, mata pelajarannya dipilih n ditentukan o/ sekelompok orang ahli, disusun scr logis n sistematis n diarahkan pd p’kembang’ k’mampuan b’fikir.

Kata Dianna Lapp,dkk begini loh:

Like perennial education, essensialism is conservative, seeking to maintain n pass on to the new generation the convictions of the older generation. But unlike perenialisme, essensialism is non reflective, nonphilosophical. It is far more prone to activity-to doing-than to wasting time on extensive philosophical speculation. Looking to the present rather than the past, ‘n to science rather than to the humanisties, it is primarily practical n pragmatic. (Lapp.,Dianna,e.al,1975hlm32 at Sukmadinata halm 9)

PERENIALISME

Perenialisme dulunya b’kembang di Eropa dlm masyarakat aristokratis-agraris. Mrk lbh b’orientasi ke masa lampau n kurang m’mentingk’ tuntutan2 masyarakat yg b’kembang saat skr. Pendidikan lbh mnekank’ pada humanitas, pembentukan pribadi, n sifat2 mental. Konsep2 filosofis lbh byk m’warnai pendidikan ini. pendidikan lbh general education atau liberal art dgn model mengajar yg b’sifat ekspositori, sdgkn model belajarnya asimilasi. Nah loh tau ga tuch apaan ? ga tau ? yah baca atuh bu guru !!! pendidikan menurut mreka itu value free ‘n culture free artinya gak terikat atau di warnai oleh karakteristik masyarakat sekitarnya. Gitcu loch…!!!

Dalam tradisi Plato, Ariestoteles dan ahli filsafat Katolik,St.Thomas Aquinas, dikatak’ bhwa p’ddk’ b’maksud u/ m’atur pikiran,kmampuan,p’kembang’ rasio n p’carian kbenar’.

Perenialisme sekuler m’dukung kurikulum sebuah akademi dgn tata bahasa, kpandaian b’bicara, logika, bhas lama n baru, matematika, n peradaban dunia. B’kaitan dgn hal itu, Robert M.Hutchins dikenal sbg orang yg m’uraik’ falsafah perenialisme di Amerika. He says that perenialisme diajuk’ dr kbutuh’2 siswa skr, spesifikasi pendidikan, n latihan kejuruan. Hutchin memberi penekanan ini ktika m’nyatak’ bhw pendidikan yg disempurnakan u/kbutuhan yg mendesak, bukanlah sbuah pendidikan yg b’manfaat. Pendidikan ideal adalah sbuah pendidikan yg ikut m’perhatik’ pengembangan pikiran. Scr garis besar, perenialisme tdk dpt m’buktik’ sbuah filsafat yg mnarik u/system pendidikan.

ESSENSIALISME

Essensialisme b’kembang di Amerika serikat dlm masyarakat industri. P’ddk’ ini lbh m’utamak’ sains drpd humanitas. Mreka more pragmatis, p’ddk’ diarahk’ dlm m’p’siapk’ generasi muda u/ terjun ke lapangan kerja. Konsep ini lbh b’orintasi pd masa skr dan

yg akan dtng. Isi pengajaran lbh diarahk’ kpd p’bentuk’ kterampilan ‘n pengembangan k’mampuan vocational. Para esensial bersifat praktis mengutamakan kerja n kompetisi sisamping kerjasama. Mreka m’hargai seni, keindahan, n humanitas spanjang hal itu m’dukung khidupan shari2, yaitu khidupan yang produktif. Tujuan utma p’ddk’ mnurut para essensialis adalah : 1) m’peroleh pkerjaan yg lbh baik, 2) dpt bkerja sama lbh baik dgn orang dr bbgai tkt/lapisan masyarakat, 3) m’peroleh p’hasilan lbh banyak lagi.

Para esensialis b’fikiran praktis bhw p’ddkn adalah suatu jalan u/ mencapai sukses dlm khidupan, trutama sukses scr ekonomis.

Mnurut sjarah Cie, esensialis n progressifis b’hasil mengendalikan kesetiaan masyarakat umum Amerika dari tahun 1635, yg diawali dgn b’dirinya sekolah Latin Boston sampai thn 1896, atas prakarsa dr asistennya John Dewey di Universitas Chicago.

Mnurut essensialis, pendidikan b’tujuan u/ menyebarkan budaya. Apabila rekonstruksionis hendak mengubah masyarakat secara aktif, sbaliknya essensialis menghindari hal tersebut. Bahan pokok kurikulum adalah sbuah rencana essensialis ttg organisasi kurikulum n teknik2 pemberian pelajaran, dgn tes sbg metodenya. Karya ilmiah, yakni kmampuan m’daur ulang apa yg tlah dipelajari mrupakan nilai yg tinggi buanget… pendidikan diawasi sbg persiapan mencapai maksud pendidikan sperti p’guruan tinggi, lapangan kerja n khidupan.

Dlm falsafah ni tdp prinsip behaviouristik…nah cob abaca bahan ttg ini cie….

So, essensialis mnemuk’ dasar2 tk laku yg ssesuai dgn kyakinan filosofis. Kmampuan dasar mjd prioritas bagi essensialis… bgt jg halnya dgn b’bagai program pendidikan n latihan, yg m’jadi titik orientasi essensialis….

Kok jadi bingung gini sich… cari lagi sumber lain…. LIEURRRRR !!!!!!!

Pokoke Basic line dari pendidikan klasik ini adalah bahwa :

Kurikulum pendidikan klasik lebih menekankan pada isi pendidikan yang diambil dari disiplin ilmu, disusun o/ para ahli tanpa mengikutsertakan guru2, apalagi siswa. Meni karunya ya… isi pendidikan disusun secara logis, sistematis n b’sturktur, dgn b’pusat pada segi intelektual sdikit skalee m’perhatikan segi social or psikologi pst didik. Namun peranan guru jadi sngt dominan di dlm kelas . Dlm pengajaran ia menentukan isi, metode, dan evaluasi. Guru lah yg aktif n b’tanggungjwb dlm sgala aspek pengajaran. Ari siswanya mah… ya gitu dech… Pasiiiffff !!!!

2. Pendidikan Pribadi

Personalized education lbh m’utamak’ pranan siswa. Konsep pendidikan ini b’tolak dr anggapan dasar bhw sjk dilahirk’ anak itu dah punya potensi, baik u/ thinking, doing, problem solving, or untuk learning n b’kembang sendiri. Katanya pendidikan itu ibarat p’semaian yg b’fungsi m’ciptak’ lingkungan yg mnunjang n t’hindar dr hama2. tugas guru jd kyk ptani yaaa… m’usahak’ tanah yg gembur, pupuknya, airnya, udaranya plus sinar mataharinya spy tanaman tumbuh subur….

Pendidikan b’tolak dr kbutuhan n minat siswa, cie… mknya siswa tuh jd subjek pendidikan, yg nomer wahid ! guru jd b’peran sbg psikolog yg m’coba mngerti sgala kbutuhan n masalah siswa. Tp kdg2 bisa juga jd bidan yg bantuin siswa mlahirk’ ide2 cemerlang!!! Kalo gitu tugas guru jd motivator, fasilitator n playan bagi siswa…

Pengen tau gak pendidikan ini punya brapa aliran ?

Yg jelas bukan aliran listrik tapi aliran progressive n romantic

He..he.. kayak aku romantis…. Jadi inget dech !

Dah ah balik lagi…… jadi nglantur nich…dasar…!!!!

PROGRESSIVE

Tokohnya Francis Parker…. (inget progessif inget aja orang prancis yg beli parker he..)

Bliau bawa dari Eropa ke Amerika. Tp jd terkenal disana gara2 p’cobaan2 yg dilakukan oleh John Dewey dgn skolah lab-nya. Abah Dewey kan menerapkan Learning by doing tea cie… dlm pendidikan progressive siswa mrupakan satu ksatuan yg utuh, p’kembangan emosi, social n intelektual sama2 penting. Isi pelajaranpun asalnya dr pngalaman siswa sesuai dgn minat n kbutuhannya. Siswa m’refleksi thd mslh2 yg muncul dlm khidupannya. N krnnya siswa bisa lbh memahami trus m’aplikasik’nya dlm khidupan. Disini guru jd ahli metodologi drpd ahli bhn ajar…dia bantuin siswa sesuai dgn kmampuan n kcepatnnya msng2.

Di buku Hamalik gini critanya ;

Pada akhir abad ke-19 n awal 20-an, progressive b’kembang di Amerika sbg jwbn a/ doktrin essensialisme… nama lainnya Pragmatis… tohonya bikan Cuma si abah Dewey, tp ada juga William H Kilpatrick, John Childs, n Boyd Bode….

Progressive ni punya skolah loh u/ anak2 sbg skolah pnelitian di Universitas Chicago.

Si Abah Dewey emang rajin, dia ngumpulin bhn2 pmikirannya spt Democracy n education, Experience n education, How we think, satu lagi… Pedagogic Creed.

tau g skpnya kyk apa ? Mreka b’sikap bhw anak itu hrs m’mahami pngalaman pendidikan right here n right now, filosofinya education is life , n learning by doing ….

Skolah musti mlayani stiap p’bedaan anak scr mental,fisik,spiritual n sosialnya….

Wah, susah juga tuh !!!

ROMANTIC

Pendidikan romantic ni tokohnya Jean Jacques Rousseau…., he says smua ciptaan Tuhan tmsk anak adalah baik… mreka smua jd kurang baik or bahkan rusak di tangan manusia….. JJR ingin mngembalik’ p’ddk’ ke p’ddk’ alam , coz smua manusia tuch baik, free n gentle. Stiap orang punya nurani yg didlmnya brisi k’jujuran,kbenaran, n ktulusan. So…inilah yg musti ditemuin,didengerin, trus diikuti. JJR mnolak p’ddk’ yg m’utamakan intelektual doank….

Kata JJR, pendidikan tu proses individual yg brisi rentetan pngembangan kmampuan2 anak, berkat interaksi dgn b’bagai aspek dlm lingk.nya. pendidikan itu a lifelong personal growth process rather than an information n skill gathering process that exist only during the school years…(Dianna Lapp,et.al,1975,hlm.154)

Pengalaman itu mrupakan isi skaligus guru alamiah bagi anak. Anak gak diajarin but didorong untuk belajar…. Tapi jgn keras2 dorongnya ya cie…bisi jatuuhhh…ntar sakit !

Guru tuh tugasnya menyediakan lingk.u/belajar, m’berik’ kbebasan pada anak u/ belajr n b’kembang sendiri n m’wujudk’ rasa ingin taunya.

Kurikulumnya mnekank’ pada proses p’ngembangan kmampuan siswa. Materi ajar dipilih sesuai dgn minat n kbutuhan siswa. Pngembangan kurikulum dilakukan o/ guru dgn mlibatk’ siswa. Ga ada suatu kurikulum standar, yg ada Cuma kurikulum minimal yg dlm implementasinya dikembangk’ b’sm siswa. Isi n proses p’belajarannya slalu b’ubah sesuai dgn minat dan kbutuhan siswa.

3. Teknologi Pendidikan

Teknologi pend. punya kesamaan dgn pend.klasik ttg pranan pend.dlm menyampaikan informasi. Bedanya kalo tekpend. ini pembentukan n penguasaan kompetensi bukan pengawetan n pmeliharaan budaya… perkemb.tekpend diwarnai perkemb.iptek.

“our technologies to day are so powerful, so prevalent, so deliberately foster n so prominent in the awareness of people, that they not only bring about changes in physical world which technologies have always done but also in our institutions, attitudes, n expectations, values, goals, n in our very conceptions of the meaning of existence. (Holtzman,1970,hlm,237)

Tokohnya adalah Skinner… dia bilang, man totally determined by his environment. Therefore, if we wish to relate to him for better to educate him, we need only learn scientifically, how to control his environment in such away as to reshape his behaviour. What we need is a technology of behaviour. (Skinner,1972)

Masa Skinner bilang kalo kita tuh spt binatang yg perilakunya bisa dibentuk dgn teknologi perilaku ??? Anech …apa cie aja yg gak ngerti ?!

Teori ini bilang kalo pendidikan itu ilmu bukan seni, n cabang dari teknologi ilmiah.

Isi pend.dipilih o/ tim ahli bidang2 khusus. Isi brupa data2 objektif dr ktampilan2 yg m’arah pada vocational, didisain dan disampaikan menggunakan bantuan media elektronika. Tugas guru jadi direktur belajar…asyiikk!!! Lebih banyak mlakukan tugas pengelolaan drpd penyampauian dan pendalaman bahan. Kurikulum menekankan kompetensi kmampuan praktis.

4. Pendidikan Interaksional

Gile… gue dah nguantuk bgt nich !!1 tapi tanggung….

Ayo…teruusss !!!!

Intinya gini cie… konsepnya ini bermula dari pandangan manusia sbg makhluk social.

Manusia gak bisa hidup sendiri….butuh interaksi dengan orang lain…

Demikian pula dlm belajar…interaksi ga boleh sepihak antara guru ma siswanya aja but musti kbalikannya juga…pokoke interaksi dgn lingk.fisik n social juga penting bgt buat dilakukan ma anak2.

Dlm pend.ini siswa g Cuma m’pelajari fakta2 tp m’adak’ pmahaman eksperimental dari fakta2 tsb, m’berikan interpretasi yg b’sifat menyeluruh serta memahaminya dlm konteks kehidupannya.

Kurikulum pendidikan interaksional menekankan baik pada isi maupun prose spend.sekaligus. isi pend. Tdr dr problem nyata yg actual yg dihadapi dlm kehidupan di masyarakat. Proses pendidikannya b’bentuk kegiatan2 belajar kelompok yg m’utamak’ kerjasama. Kegiatan penilaian dilakukan untuk hasil maupun proses belajar. Guru 2 mlakukan kegiatan penilaian spanjang kegiatan belajar,

Tapi katanya landasan filosofis teh ada 5….

Perenialisme, Essensialisme, Rekonstruktivisme, Progresivisme n satu lagi apa ya…

ya udah deh bahas aja dulu tentang filsafat REKONSTRUKTIVISME… ini masuk ke mana yah dari 4 bagian di atas itu ? cari lagi sumbernya bu guru…

REKONSTRUKTIVISME

Mnurut Hilda taba, John Dewey itu scr konsisten mengamati fungsi sekolah dlm kaidah psikologi. Abah Dewey bilang kalo konsep ini mengikuti sebuah alur yg meyakini n m’ngemukak’ bhw kberadaan skolah adlh u/ adanya p’baik’ dlm masyarakat

George S.Counts dlm bukunya “Dare the School Build a New Sosial Order ?” mnantang para pendidik u/ kmbl m’p’timbangk’ peran skolah dlm masyarakat.

Scr gambling Theodore Brameld m’uraik’ nilai2 rekonstruktivisme, yaitu banyaknya orang yg menginginkan hal2 sbg brikut :

- Makanan yg ckp,

- pakaian yg ckp,

- p’lindung’ n k’bebasan,

- kbutuhan seksual n playanan,

- jiwa n mental yg sehat,

- rekan kerja n bisnis,

- p’sahabatan, saling setia n kepribadian,

- pengakuan, p’hargaan n status,

- sesuatu yg baru, keingintahuan, variasi, ptualangan, p’tumbuhan n daya kreasi,

- kmampuan membaca, kpandaian n informasi,

- partisipasi n tukar fikiran serta

- pengertian, perintah n tujuan.

Beberapa pendidik setuju bahwa pemuda harus memikirkan tantangan dan masalah social, ekonomi n politik serta berusaha u/mencapai mufakat dlm mencari solusi. Premis utama dari falsafah ini adalah u/ menjadikan sekolah sbg agen utama dlm perubahan social.

Dalam buku Developing and Curriculum, Oliva (hal.193) mengatakan bahwa :

“We will now examine four major philosophies of education that have demanded the attention of educators, only two of which appear to have large following in to day’s school. Although these philosophies are known by various names and there are schools of philosophies within schools, we shall refer to these philosophies as reconstruction, progressivisme, essentialism and perennialisme.”

B. LANDASAN PSIKOLOGIS

1. Psikologi Perkembangan

Konsep tentang perkembangan individu manusia, hendaknya menjadi pijakan dalam penyelenggaraan pendidikan. Pemahaman yang baik terhadap konsep perkembangan individu bagi seorang guru, misalnya, akan turut berperan dalam menentukan keberhasilan proses pencapaian tujuan pendidikan. Oleh sebab itu konsep perkembangan individu harus dipahami dengan benar oleh para pelaksana pendidikan dan komponen yang menyertainya.

Pengetahuan tentang perkembangan individu diperoleh melalui studi yang bersifat longitudinal, cross sectional, psikoanalitik, sosiologik, atau studi kasus.

A. Studi Longitudinal

Studi longitudinal menghimpun informasi tentang perkembangan individu melalui pengamatan dan pengkajian perkembangan sepanjang masa perkembangan, dari lahir sampai dengan dewasa, seperti yang pernah dilakukan oleh Williard C.Olson.

B. Metode Cross Sectional

Metode cross sectional pernah dilakukan oleh Arnold Gessel. Ia mempelajari beribu-ribu anak dari berbagai tingkatan usia, mencatat cirri-ciri fisik dan mental, pola-pola perkembangan dan kemampuan,serta perilaku mereka.

C. Studi Psikoanalitik

Studi psikoanalitik dilakukan oleh Sigmund Freud beserta para pengikutnya. Studi ini lebih banyak diarahkan untuk mempelajari perkembangan anak pada masa-masa sebelumnya, terutama pada masa balita. Menurut mereka, pengalaman yang tidak menyenangkan pada masa balita ini dapat mengganggu perkembangan pada masa-masa berikutnya.

D. Metode Sosiologik

Metode ini digunakan oleh Robert Havighurst. Ia mempelajari perkembangan anak dilihat dari tuntutan akan tugas-tugas yang harius dihadapi dan dilakukan dalam masyarakat. Tuntutan akan tugas-tugas masyarakat ini oleh Havighurst disebut sebagai tugas-tugas perkembangan (developmental tasks). Ada seperangkat tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasai oleh individu dalam setipa tahapan perkembangan.

E. Studi Kasus

Metode ini sering digunakan untuk mengkaji perkembvangan anak. Dengan mempelajari kasus-kasus tertentu, para ahli psikolog perkembangan menarik beberapa kesimpulan tentang pola-pola perkembangan anak. Studi demikian pernah dilakukan oleh Jean Piaget tentang perkembangan kognitif anak.

TEORI PERKEMBANGAN

Ada tiga teori atau pendekatan tentang perkembangan individu, yaitu pendekatan pentahapan (stage approach), pendekatan diferensial (differential approach) dan pendekatan ipsatif ( ipsative approach).

a. Stage Approach

Menurut pendekatan pentahapan, perkembangan individu berjalan melalui tahapan-tahapan perkembangan. Setiap t5ahap perkembangan mempunyai karakteristik tertentu yang berbeda dengan tahap lainnya.

Dalam pendekatan pentahapan dikenal dua variasi. Pertama, pendekatan yang bersiofat menyeluruh, mencakup segal;a jenis perkembangan seperti perkembangan fisik dan gerakan motorik,social, intelektual, moral, emosional, religi, dsb. Kedua, pendekatanm yang bersifat khusus mendeskripsikan salah satu segi atau aspek perkembangan saja.

Dalam pentahapan yang bersifat menyeluruh, dikenal tahap-tahap perkembangan dari JJ Rousseau.G.Stanley Hall, Havighurst,dll.

Rousseau membagi seluruh masa perkembangan anak atas empat tahap perkembangan, yaitu masa bayi (infacy ) usia 0-2 tahun merupakan tahap perkembangan fisik, menurutnya sebagai binatang yang sehat. Masa anak (Childhood) usia 2-12 tahun, masa perkembangan sebagai masa manusia primitive. Masa remaja awal (pubersense) usia 12-15 tahun, masa bertualang yang ditandai dengan perkembangan intelektual dan kemampuan nalar yang pesat. Masa remaja (adolescence) usia 15-25 tahun masa hidup sebagai manusia beradap, masa pertumbuhan seksual, social ,moral dan kata hati.

Stanley hall mengemukakakn teori rekapitulasi, yang menyatakan bahwa perkembangan individu merupakan rekapitulasi dari perkembangan spesiesnya (ontogeny recapitulates philigeny). Hall membaginya menjadi empat tahap, yaitu masa kanak-kanak uasia 0-4 tahun, merupakan masa kehidupan sebagai binatang melata dan berjalan, masa anak usia 4-8 tahun, masa manusia pemburu, masa puber usia 8-12 tahun , masa manusia belum beradab. Masa remaja usia 12-13 tahun sampai dewasa, masa manusia beradab.

Sedangkan Havighurst membaginya dalam lima fase, yaitu : masa bayi usia 0-1/2 tahun, masa anak awal, usia 2/3-5/7 tahun, masa anak dari 5/7-masa pubesen, masa adolesen awal dari pubesen ke pubertas, dan masa adolesen dari pubertas sampai dewasa. Untuk setipa fase, anak harus menguasai tugas-tugas perkembangannya. Dikuasai atau tidak dikuasainya tugas-tugas p[erkembangan pada suatu fase akan berpengaruh pada penguasaan tugas pada fase-fase berikutnya.

Ada sepuluh kelompok tugas perkembangan yang harus dikuasai anak pada setiap fase yang membentuk pola, yaitu :

  1. kebergantungan-kebersendirian
  2. memberi-menerima kasih sayang
  3. hubungan social
  4. perkembangan kata hati
  5. peran bio-sosio dan psikologis
  6. penyesuaian dan perubahan badan
  7. penguasaan perubahan badan dan motorik
  8. belajar memahami dan mengontrol lingkungan fisik
  9. pengembangan kemampuan kernseptual dan system symbol
  10. kemampuan melihat hubungan dengan alam semesta.

Dalam pendekatan pentahapan yang bersifat khusus kita mengenal pentahapan dari Piaget, Kohlberg, Erikson, dsb.

b. Differential Approach

Menurut pendekatan diferensiasi, setiap individu memiliki persamaan dan perbedaan. Atas dasar persamaan dan perbedaan individu tersebut, maka individu dikelompokkan menjadi beberapa kelompok yang berbeda, misalnya berdasarkan jenis kelamin, ras, agama, status social ekonomi,dan sebagainya. Pengelompokkan individu adakalanya juga didasarkan atas kesamaan karakteristiknya. Berkenaan dengan hal itu, dikenal pengelompokkan yang bersifat bipolar seperti :

Introvert ekstravert

Dominant submisif

Agresif - Pasif

Aktifitas tinggi - Aktifitas rendah

Kholerik - melanholik

C. Ipsative approach

Pendekatan ini berusaha melihat karakteristik individu, berdasarkan kenyataan bahwa ada sifat-sifat tertentu yang hanya dimiliki oleh satu individu saja yang tidak dimiliki oleh individu lainnya, dengan kata lain, tidak ada satu individu pun yang memiliki karakter sama persis dengan individu lainnya.

Perkembangan Intelektual

Intelek atau daya pikir seseorang berkembang sejalan dengan pertumbuhan syaraf otaknya. Karena daya fikir itu menunjukkan fungsi otak, kemampuan intelektual atau kemampuan berfikir dipengaruhi oleh kematangan otak dan pertumbuhan syaraf yang telah matang yang diikuti oleh fungsinya dengan baik.Oleh karena itu seorang individu akan mengalami perkembangan kemampuan berfikir ketika pertumbuhan syaraf pusat atau otaknya telah mencapai fase matang.

Perkembangan tingkat berfikir atau perkembangan intelek diawali oleh kemampuan mengenal dunia luar. Respon terhadap rangsangan yang berasal dari luar pada awalnya belum dapat terorganisasi dengan baik. hampir semua respon yang diberikan bersifat refleks. Pada umur sekitar empat bulan, respon yang bersifat refleks mulai berkurang, sehingga pemberian respon terhadap setiap rangsangan mulai terkoordinasikan. Respon terhadap suara, sinar, dan warna ditunjukkan dengan gerakan mata ke arah rangsangan itu diberikan.

Perkembangan lebih jauh tentang perkembangan intelek ini ditunjukkan pada perilakunya, yaitu tindakan menolak dan memilih sesuatu. Tindakan itu berarti telah mendapatkan proses pertimbangan atau yang dikenal dengan proses analisis, evaluasi, sampai pada kemampuan menarik kesimpulan atau keputusan. Fungsi itu terus berkembang mengikuti kekayaan pengetahuan individu tentang dunia luar dan pengalamannya yang diperoleh sebagai hasil proses belajar yang dialaminya, sehingga pada saatnya nanti seseorang akan berkemampuan melakukan peramalan atau prediksi, perencanaan, dan berbagai kemampuan analisis dan sintesis. Perkembangan kemampuan berfikir ini dikenal sebagai perkembangan kognitif.

Istilah cognitive berasal dari bahasa latin “cognoscre” yang berarti mengetahui (to know). Aspek ini dalam teori belajar cognitive field berkenaan dengan bagaimana individu memahami dirinya dan lingkungannya, bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan pengenalannya serta berbuat terhadap lingkungannya.

Bagi penganut cognitive field, belajar merupakan suatu proses interaksi, dalam proses interaksi tersebut individu mendapatkan pemahaman baru atau menemukan struktur kognitif lama.

Menurut Jean Piaget dalam Fatimah (2006,hal.24-25), perkembangan kognitif individu memiliki tahapan sebagai berikut :

1. Tahap Sensorimotor, usia 0-2 tahun

Masa ini adalah masa ketika bayi menggunakan sistem penginderaan dan aktivitas motorik untuk mengenal lingkungannya. Ia memberikan reaksi motorik terhadap rangsangan yang diterimanya dalam bentuk refleks, seperti refleks mencari puting susu ibu, refleks menangis, refleks kaget, dll. Refleks-refleks ini kemudian berkembang menjadi gerakan yang lebih terorganisasi, seperti berjalan.

2. Tahap Praoperasional, usia 2 – 7 tahun

Ciri khas masa ini adalah kemampuan anak dalam menggunakan simbol yang mewakili suatu konsep. Kemampuan simbolik ini memungkinkan seorang anak melakukan tindakan-tindakan yang berkaitan dengan hal-hal yang telah dilihatnya. Misalnya, seorang anak bermain dokter-dokteran setelah ia melihat dokter yang sedang praktek.

3. Tahap Praoperasional Konkrit, usia 7 – 11 tahun

Pada tahap ini, anak sudah dapat melakukan berbagai tugas yang konkrit. Ia mulai mengembangkan tiga macam operasi berfikir, yaitu identifikasi (mengenali sesuatu), negasi (mengingkari sesuatu), dan reprokasi (mencari hubungan timbal balik antara beberapa hal).

4. Tahap Operasional, usia 11 – dewasa

Pada usia remaja dan seterusnya, seseorang akan mampu berfikir abstrak dan hipotesis. Pada tahap ini ia akan mampu memperkirakan hal-hal yang mungkin terjadi. Ia dapat mengambil kesimpulan dari suatu pernyataan. Misalnya mainan A lebih mahal daripada mainan B, dan mainan C lebih murah daripada mainan B, maka ia dapat menyimpulkan mana mainan yang murah dan mana mainan yang mahal.

Perkembangan Moral

Lawrence Kohlberg mengembangkan suatu teori tentang perkembangan moral kognitif dengan mengacu pada teori Piaget. Kohlberg menemukan tiga tahap perkembangan moral kogitif individu sebagai berikut :

Tahap I Preconventional moral reasoning

Tingkat 1. Obedience and punishment orientations

Tingkat 2. Naively egoistic orientation

Tahap II Conventional moral reasoning

Tingkat 3. Good boy orientation

Tingkat 4. Authority and social order maintenance orientation

Tahap III Postconventional moral reasoning

Tingkat 5. Contractual legalistic orientation

Tingkat 6. Conscience or principle orientation

Pada tahap prakonvensional, pertimbangan moral seseorang mengacu ke luar, kepada objek-objek dan peristiwa yang konkret dan bersifat fisik. Mereka belum mampu memberi pertimbangan moral atas standar-standar sosial. Tingkat keputusan dan hukuman (obedience and punishment orientation) diwarnai oleh kecenderungan berbuat baik atau tidak berbuat salah karena takut akan ancaman atau hukuman. Acuan perbuatan adalah kekuasaan dan kkuatan. Mereka patuh karena takut akan dihukum, segala perbuatannya dikontrol oleh kekuasaan-kekuasaan yang dating dari luar. Tingkat kebaikan sebagai alat (naively egoistic orientation) suatu perbuatan dipandang baik apabila menguntungkan atau memberi kesenangan kepada dirinya atau orang-orang yang dekat dengan dirinya.

Tahap kedua adalah pertimbangan moral konvensional. Pada tahap ini perilaku dinilai atas harapan orang lain atau orang banyak. Seuatu perbuatan sini meliputi dua tingkat, yaitu tingkat sebagai anak baik dan tingkat memelihara ketertiban dan peraturan masyarakat. Tingkat anak/orang baik, perilaku baik, atau jahat dinilai atas penilaian orang lain. Kalau seseorang berbuat untuk kepentingan orang lain atau orang banyak, dinilai sebagai perbuatan yang baik. pada tingkat memelihara ketertiban dan peraturan masyarakat, suatu perbuatan dipandang baik apabila perbuatan tersebut sesuai dengan peraturan yang ada di dalam masyarakat, atau sejalan dengan tuntutan kebiasaan masyarakat.

Tahap ketiga adalah tahap pertimbangan moral pascakonvensi. Pada tahap ini pertimbangan moral didasarkan atas pandangan yang bersifat relatif, unsur-unsur subjektif dari aturan sosial. Pranata dan aturan-aturan social bukan sesuatu yang absolute, bukan satu-satunya yang benar, tetapi juga ada kebenaran-kebenaran lain.

Tahap pascakonvensi ini mempunyai dua tingkatan yaitu tingkat pertimbangan legalistic kontraktural, dan tingkat perkembangan kata hati. Pada tahap legalistic kontraktural, pertimbangan perbuatan baik atau jahat didasarkan atas persetujuan tidak tertulis antar pribadi dan masyarakat. Seseorang tidak mencuri karena perbuatan mencuri merugikan oranglain. Pada tingkat perkembangan kata hati, penilaian baik dan tidak baik didasarkan atas nilai-nilai yang bersifat universal, prinsip-prinsip yang mendasar. Seseorang menghargai oranglain betul-betul sebagai manusia, tanpa melihat atribut-atribut yang disandangnya, apakah karena gelar, pangkat, status keilmuan, ekonomi, social, dsb. Seseorang berbuat baik karena ia yakin bahwa perbuatan itu baik.

Perkembangan Emosional

Pada awal kehidupannya, seorang bayi mengutamakan kebutuhan jasmaninya dan tidak perduli dengan keadaan di luar dirinya. Ia sudah merasa senang jika kebutuhan fisiknya seperti makan dan minum serta kehangatan dari ibunya telah terpenuhi. Dalam pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya,, tingkat kebutuhan semakin meningkat, tidak hanya fisik melainkan non fisik. Keinginan untuk dapat memnuhi kebutuhannya merupakan hal yang wajar bagi setiap individu, ia akan merasa senang dan puas jika kebutuhannya terpenuhi, namun sebaliknya, ia akan merasa kecewa manakala ia tidak dapat memenuhi harapan dan kebutuhannya.

Emosi atau perasaan merupakan salah satu potensi kejiwaan yang khas dimiliki oleh setiap individu. Emosi ini merupakan perasaan senang dan tidak senang yang disertai oleh perubahan perilaku fisiknya. Misalnya, jika seseorang marah, ditunjukkan dengan reaksi berupa teriakan yang sangat keras.

Pada waktu lahir, emosi tampak dalam bentuk sederhana, hamper tidak terbedakan sama sekali. Dengan bertambahnya usia, berbagai reaksi emosional menjadi kurang tersebar, kurang acak dan lebih terbedakan, dan reaksi emosional dapat ditimbulkan oleh berbagai macam rangsangan.

Ada dua cirri khusus dari emosi bayi. Pertama, emosi bayi sangat berbeda dengan emosi remaja dan dewasa, dan kadang-kadang dari anak yang lebih tua. Emosi bayi biasanya diikuti oleh perilaku yang cukup kuat dari rangsangan yang diterimanya, terutama dalam hal marah dan takut. Emosi itu singkjat tetapi kuat, namun bersifat sementara dan berubah menjadi emosi lain jika perhatiannya dialihkan. Kedua, emosi lebih mudah dibiasakan pada masa bayi dibandingkan dengan periode lainnya.

Ini disebabkan karena terbatasnya kemampuan intelektual bayi sehingga mereka lebih mudah bereaksi terhadap rangsangan yang pada waktu lalu membangkitkan emosinya. Misalnya; bayi tidak mau masuk ruang dokter karena terakhir

2. Psikologi Belajar

Banyak definisi tentang belajar, namun secara sederhana belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi melalui pengalaman. Segala perubahan tingkah laku yang berbentuk kognitif, afektif, maupun psikomotor terjadi karena proses pengalaman dapat dikategorikan sebagai perilaku belajar. Perubahan-perubahan perilaku yang terjadi karena instink atau karena kematangan serta pengaruh hal-hal yang bersifat kimiawi tidak termasuk belajar .

Menurut Gagne (1965) perubahan tersebut berkenaan dengan disposisi atau kapabilitas individu, “learning is change in human disposition or capability, which can be retained, and which is not simply ascribable to the process of growth.”

Hilgard dan Bower (1966) menambahkan bahwa perubahan itu terjadi karena individu berinteraksi dengan lingkungannya, sebagai reaksi terhadap situasi yang dihadapinya. Menurut mereka, belajar adalah :

The process by which an activity originates or is change throught reacting to an encountered situation, provided that the characteristics of the change in activity cannot be explaned on the basis of native response tendencies, maturation, or temporary states of the organism (e.g.fatigue, drug,etc.)

Menurut Morris L.Bigge dan Maurice P.Hunt (1980) ada tiga rumpun teori belajar, yaitu teori disiplin mental, behaviourisme, dan cognitive gestalt field.

Menurut teori disiplin mental, individu telah memiliki potensi-potensi tertentu sejak kelahirannya yang merupakan sifat bawaan atau hereditasnya. Belajar merupakan upaya-upaya untuk mengembangkan potensi-potensi tersebut. Ada beberapa teori yang termasuk rumpun teori disiplin mental, yaitu : disiplin mental theistik, disiplin mental humanistik, naturalisme, dan apersepsi.

Teori disiplin mental theistik berasal dari psikologi daya. Menurut teori ini, individu mempunyai sejumlah daya mental seperti daya untuk mengamati, menanggapi, mengingat, berfikir, memecahkan masalah, dsb. Belajar merupakan proses melatih daya-daya tersebut. Kalau daya-daya tersebut terlatih, maka dengan mudah dapat digunakan untuk menghadapi atau memecahkan masalah.

Teori disiplin mental humanistik bersumber pada psikologi humanisme klasik dari Plato dan Ariestoteles. Teori ini hampir sama dengan teori pertama bahwa individu memiliki potensi-potensi yang dapat dilatih untuk berkembang. Perbedaannya dengan disiplin mental theistik, teori tersebut menekankan pada bagian-bagian latihan aspek tertentu. Teori disiplin mental humanistik lebih menekankan keseluruhan, keutuhan. Pendidikannya menekankan pada pendidikan umum atau general education. Kalau seseorang menguasai hal-hal yang bersifat umum akan mudah di transfer atau diaplikasikan pada hal-hal lain yang bersifat khusus.

Teori naturalisme atau natural unfoldment atau self actualization, berpangkal dari psikologi naturalisme romantik dengan tokoh utamanya JJ.Rosseau. Sama dengan kedua teori sebelumnya bahwa anak mempunyai sejumlah potensi atau kemampuan. Kelebihan dari teori ini adalah mereka berasumsi bahwa individu bukan hanya mempunyai potensi atau kemampuan untuk berbuat atau melakukan berbagai tugas, tetapi juga memiliki kemauan dan kemampuan untuk belajar dan berkembang sendiri. Agar anak dapat berkembang dan mengaktualisasikan segala potensi yang dimilikinya, pendidik atau guru perlu menciptakan situasi yang permisif yang jelas. Melalui situasi demikian, ia dapat belajar sendiri dan mencapai perkembangan secara optimal.

Teori belajar yang keempat adalah teori belajar apersepsi, disebut juga Herbartisme, bersumber pada psikologi strukturalisme dengan tokoh utamanya Herbart. Menurut aliran ini belajar adalah membentuk massa apersepsi, individu memiliki kemampuan untuk mempelajari sesuatu. Hasil dari suatu perbuatan belajar disimpan dan membentuk suatu massa apersepsi, dan massa apersepsi ini digunakan untuk mempelajari atau menguasai pengetahuan selanjutnya. Demikian seterusnya, semakin tinggi perkembangan individu semakin tinggi pula massa apersepsinya.

Rumpun atau kelompok teori belajar yang kedua adalah behaviourisme, yang biasa juga disebut S-R (stimulus-respon). Kelompok ini mencakup tiga teori yaitu: S-R Bond, Conditioning, dan Reinforcement. Kelompok teori ini berangkat dari asumsi bahwa individu tidak memiliki/membawa apa-apa dari kelahirannya. Perkembangan individu ditentukan oleh faktor lingkungannya. Kelompok ini tidak mengakui sesuatu yang bersifat mental. Perkembangan individu hanya menyangkut hal-hal nyata yang dapat dilihat atau diamati.

Teori S-R Bond bersumber dari psikologi koneksionisme atau teori asosiasi dan merupakan teori pertama dari rumpun behaviorisme. Menurut konsep mereka, kehidupan ini tunduk kepada hokum stimulus- respons atau reaksi-reaksi.

Setangkai bunga dapat merupakan suatu stimulus dan direspons oleh mata dengan cara meliriknya . Kesan indah yang diterima individu dapat merupakan stimulus yang mengakibatkan terespons memetik bunga tersebut. Demikian halnya dengan belajar, terdiri atas rentetan hubungan stimulus respons. Belajar adalah upaya untuk membentuk hubungan stimulus respons sebanyak-banyaknya. Tokoh utama teori ini adalah Edward L.Thorndike. Ada tiga hukum belajar yang sangat terkenal dari Thorndike, yaitu law of redness, law of exercise or repetition dan law of effect ( Bigge dan Thurst, 1980, hlm.273).

Menurut hukum kesiapan, hubungan antara stimulus dan respons akan terbentuk atau mudah dibentuk apabila ada kesiapan pada sistem syaraf individu. Selanjutnya, hukum latihan atau pengulangan hubungan antara stimulus dan respons akan terbentuk apabila sering dilatih atau diulang-ulang . Menurut hukum akibat (law of effect) , hubungan stimulus dan respons akan terjadi apabila ada akibat yang menyenangkan.

Rumpun kedua dari behaviorisme adalah conditioning atau stimulus-response with conditioning. Tokoh utama teori ini adalah Watson, terkenal dengan percobaan conditioning pada anjing. Belajar atau pembentukan hubungan stimulus respons perlu dibantu dengan kondisi tertentu. Sebelum anak-anak masuk sekolah dibunyikan bel, demikian terjadi setiap hari dan setiap saat pertukaran jam pelajaran. Bunyi bel menjadi kondisi bagi anak sebagai pertanda memulai pelajaran di sekolah. Demikian juga dengan waktu makan pagi, dan makan malam dikondisikan oleh bunyi jam atau jarum jam .

Teori ketiga adalah reinforcement dengan tokoh uatamanya C.L. Hull. Teori ini berkembang dari teori psikologi reinforcement, merupakan perkembangan lebih lanjut dari teori S-R Bond dan conditioning. Kalau pada teori conditioning, kondisi diberikan pada stimulus, maka reinforcement kondisi diberikan pada respons. Karena anak belajar sungguh-sungguh(stimulus) selain ia mengusai apa yang dipelajarinya (respons) maka guru memberikan angka tinggi, pujian , mungkin juga hadiah. Angka tinggi, pujian, hadiah merupakan reinforcement, supaya pada kegiatan belajarnya akan lebih giat dan sungguh-sungguh.

Di dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali contoh reinforcement kita temukan seperti memberikan pujian, hadiah, bonus, insentif,piala mendali,piagam penghargaan, kalpataru,adipura, serta lencana sampai dengan parasamya, dan bintang mahaputra. Di samping reinforcement positif seperti itu dikenal reinforcement negative untuk mencegah menghilangkan atau menghilangkan suatu perbuatan yang kurang baik atau

tidak disetujui oleh masyarakat. Contoh reinforcement negative adalah peringatan, teguran, ancaman, sanksi, hukuman, pemotongan gaji, dsb.

Rumpun ketiga adalah Cognitive Gestalt Field . Teori belajar pertama dari rumpun ini adalah teori insight. Aliran ini bersumber dari psikologi Gestalt Field. Menurut mereka belajar adalah proses mengembangkan insight atau pemahaman baru atau mengubah pemahaman lama. Pemahaman terjadi apabila individu menemukan cara baru dalam menggunakan unsur-unsur yang ada dalam lingkungan , termasuk struktur tubuhnya sendiri. Gestalt Field melihat bahwa belajar itu perbuatan yang bertujuan , eksploratif, imajinatif, dan kreatif. Pemahaman atau insight merupakan citra dari atau perasaan tentang pola-pola atau hubungan.

To state differently, insight is the sensed way through or solution of a problematic situation… we might say that an insight is a kind of intelligent feel we get about a situation that permits us to continue to strive actively to serve our purposes. (Bigge dan Hunt,1980)

Teori belajar Goal insight berkembang dari psikologi configurationlism. Menurut mereka, individu selalu berinteraksi dengan lingkungan. Perbuatan individu selalu bertujuan, diarahkan kepada pembentukan hubungan dengan lingkungan. Belajar merupakan usaha untuk mengembangkan pemahaman tingkat tinggi.pemahaman yang bermutu tinggi adalah pemahaman yang telah teruji, yang berisi kecakapan menggunakan suatu objek, fakta,proses, ataupun ide dalam berbagai situasi. Pemehaman tingkat tinggi memungkinkan seseorang bertindak inteligen, berwawasan luas,mampu memecahkan berbagai masalah.

Teori belajar Cognitive field bersumber pada psikologi lapangan dengan tokoh utamanya Kurt Lewin. Individu selalu berada dalam suatu lapangan psikologis yang oleh Lewin disebut life space. Dalam lapangan ini selalu ada tujuan yang igin dicapai, ada motif yang mendorong pencapaian tujuan dan ada hambatan-hambatan yang harus diatasi. Perbuatan individu selalu terarah pada pencapaian suatu tujuan, oleh karena itu sering dikatakan perbuatan individu adalah purposive. Apabila ia telah berhasil mencapai sesuatu tujuan maka timbul tujuan baru yang ingin di capai dan berada dalam life space baru. Setiap individu berusaha mencapai tingkat perkembangan dan pemahaman yang terbaik di dalam lapangan psikologisnya masing-masing. Lapangan psikologis terbentuk oleh interelasi yang simultan dari orang-orang dan lingkungan

psikologisnya di dalam suatu situasi. Tingkah laku seseorang pada suatu saat merupakan fungsi dari semua factor yang ada yang saling bergantung pada yang lain.

Bagi penganut cognitive field, belajar merupakan suatu proses interaksi, dalam proses interaksi tersebut individu mendapatkan pemahaman baru atau menemukan struktur kognitif lama. Dalam membimbing proses belajar, guru harus mengerti akan dirinya dan oranglain, sebab dirinya dan orang lain serta lingkungannya merupakan satu kesatuan...


catatan ini belum kelar..............


Tidak ada komentar:

Posting Komentar