Laman

28 September 2009

Artikel Lingkungan

Sampah , ancaman bagi lingkungan

ataukah berkah ?

oleh :

sri Hendrawati, s.pd, M.Pd

ABSTRAK

Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktifitas manusia. Setiap aktifitas manusia pasti menghasilkan buangan atau sampah. Jumlah atau volume sampah sebanding dengan tingkat konsumsi kita terhadap barang/material yang kita gunakan sehari-hari. Demikian juga dengan jenis sampah, sangat tergantung dari jenis material yang kita konsumsi. Oleh karena itu pengelolaan sampah tidak bisa lepas juga dari ‘pengelolaan’ gaya hidup masyarakat. Sampah seringkali terabaikan karena tampilannya yang buruk, bau dan menjijikkan sehingga seringkali dipandang sebelah mata, bahkan dituding sebagai penyebab rusaknya ekosistem, pencemar lingkungan dan ancaman bagi keberlangsungan hidup manusia dan lingkungan. Namun ditangan orang-orang yang kreatif, sampah dapat disulap menjadi rupiah. Sampah organik berubah menjadi kompos, pakan ternak, biogas dan biodiesel yang dapat membantu masyarakat miskin menanggulangi krisis BBM yang tengah melanda dunia serta banyak lagi sisi ekonomis sampah yang dapat diperoleh dengan cara mendaur ulang sampah anorganik seperti plastik dan logam menjadi berbagai macam perkakas yang berguna. Dengan demikian perlu adanya sebuah pandangan baru mengenai sampah, bahwa sampah bukan sekedar ancaman bagi lingkungan, namun merupakan berkah jika manusia dapat mengolahnya dengan benar.

a. Pendahuluan

Jika kita menyusuri jalan-jalan di sekitar kota Bandung yang memiliki slogan bermartabat (bersih, makmur, taat dan bersahabat), tentunya miris mendapati kota Bandung yang tak se-bermartabat seperti slogannya. Betapa tidak, sampah yang berserakan di mana-mana, bau menyengat yang cukup menyesakkan dada kala kita menghirup udara kota Bandung, selokan-selokan serta sungai yang penuh sesak oleh sampah, serta banjir yang seringkali datang bagai tamu yang tak diundang jika musim hujan tiba, adalah gambaran kota Bandung kini yang katanya bermartabat.

Bersih adalah urutan pertama slogan kota Bandung. Nampaknya hal itu merupakan sebuah pernyataan yang harus dipertanyakan mengingat betapa kotornya kota Bandung kini dibandingkan Bandung 20 tahun yang lalu. Masih segar dalam ingatan kita ketika Bandung mendapatan julukan kota terkotor di Indonesia akibat ketidakmampuan pemerintah kota menanggulangi masalah sampah, sampai-sampai Presiden RI turut serta melayangkan teguran khusus berkenaan dengan masalah sampah kota yang menumpuk itu. Sebuah ironi bukan, antara slogan dan fakta di lapangan. Menciptakan Bandung bermartabat adalah sebuah visi dan misi ke depan yang rasanya masih banyak tantangan dan butuh kerja keras.

Di kota-kota besar lainnya di Indonesia, persoalan sampah tak kalah seru dengan apa yang terjadi di Bandung, bahkan terasa semakin serius. Salah satu penyebabnya adalah pesatnya perkembangan penduduk dan makin sulitnya lahan tempat pembuangan sampah. Peningkatan jumlah penduduk dan gaya hidup sangat berpengaruh pada volume sampah. Misalnya saja, kota Denpasar, produksi sampah per hari mencapai rata-rata 2.150m3 , yang menurut ahli tata ruang diperlukan tempat pembuangan akhir (TPA) setidaknya seluas 40 ha. Sedangkan di kota Jakarta menghasilkan sampah rata-rata 26.000m3 per hari. Jika dihitung dalam setahun, maka volume sampah tersebut mencapai 170 kali besar Candi Borobudur (volume Candi Borobudur = 55.000 m3), sehingga membutuhkan TPA yang lebih luas lagi. Hal ini tentunya menimbulkan masalah baru bagi pemerintah dalam menetukan lokasi TPA, apalagi akhir-akhir ini masyarakat sering melakukan protes terhadap kebijakan pemerintah dalam menentukan lokasi TPA

Bermasalahnya pengelolaan sampah kota di Indonesia bukan sekedar karena keterbatasan teknis-teknologis dan ekonomis melainkan lebih dari adanya budaya, kebiasaan lama, perilaku dan cara pandang masyarakat yang tidak proporsional sehingga harus diubah. Untuk itu pemilahan dan penanganan yang benar sejak dari sumbernya, sudah menjadi keharusan bila melihat dampaknya yang begitu membahayakan kesehatan, karena sampah yang dibuang ke TPA sebagian besar berasal dari rumah tangga dengan perbandingan komposisi antara sampah basah (organik, 80%) dan anorganik (kering, 20%). Banyak warga kota yang kurang memiliki kepedulian terhadap sampah, misalnya dengan cara membuang sampah di sembarang tempat atau memilih membakarnya, atau menimbunnya. Keberadaan warga miskin di kota seringkali menjadi kambinghitam karena dituding sebagai penyebab kota kotor dengan sampah. Fakta dilapangan justru menunjukkan bahwa banyak perumahan elit yang justru merupakan donator sampah utama di perkotaan, di tambah miskinnya masyarakat kita terhadap budaya bersih dan peduli lingkungan, menambah panjang daftar permasalahan pengelolaan sampah dinegara ini.

Masalah sampah juga seringkali dipakai sebagai alasan pembenaran bagi pemerintah untuk mengusur warga miskin kota, karena dituding membuang sampah ke sungai sehingga sungai kotor, tercemar dan dangkal. Padahal penyebab utama pencemaran sungai justru limbah industri dan limbah dari pemukiman orang kaya, dan penyebab pendangkalan sungai adalah penebangan liar atau perubahan tataguna lahan di kota yang kurang tertata dengan baik.

b. Jenis-jenis Sampah

Secara umum, jenis sampah dapat menjadi sampah organik (sampah basah) dan sampah anorganik (sampah kering). Sampah basah adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup, seperti daun-daunan, sampah dapur, dll, yang dapat terdegradasi (membusuk/hancur) secara alami. Sedangkan sampah kering, seperti plastik, kaleng, dll. tidak dapat terdegradasi secara alami.

Sampah anorganik dan sampah organik dapat dipilah menjadi sampah yang benar-benar sampah dan sampah yang masih dapat digunakan kembali setelah melalui proses tertentu atau dengan kata lain masih dapat didaur ulang. Sampah B3 (bahan berbahaya dan beracun) adalah jenis sampah yang merupakan kelompok sampah yang tak dapat didaur ulang dan memerlukan penangan serius untuk mengelolanya agar tidak mencemari lingkungan.

Pada umumnya, sebagian besar sampah yang dihasilkan di Indonesia merupakan sampah basah, yaitu mencakup 70% dari total volume sampah, 28% sampah anorganik dan hanya 2% dalam kategori sampah berbahaya. Dari total sampah kota organik, sekitar 60% merupakan sayur-sayuran dan 40% merupakan daun-daunan, kulit buah-buahan dan sisa makanan, yang bersifat mudah didegradasi dan potensial untuk dikomposkan.

c. Mengapa Sampah Harus Dikelola dan Apa Manfaatnya ?

Sampah dalam jumlah yang sedikit, sebenarnya tidak akan menimbulkan masalah bagi lingkungan, bahkan sampah organik akan terurai secara alami dan dapat dimanfaatkan kembali oleh lingkungan. Masalah timbul jika sampah berkumpul dalam jumlah yang banyak seperti halnya yang terjadi di daerah perkotaan.Timbunan sampah yang dihasilkan terus bertambah seiring dengan bertambahnya penduduk kota. Oleh karena itu sampah harus dikelola secara baik agar tidak menjadi masalah, baik bagi lingkungan maupun bagi kehidupan manusia.

Sebagian besar sampah di kota dibuang ke TPA. Namun pengolahan di TPA yang sebagian besar dengan sistem open dumping, justru sering menimbulkan masalah baru, mulai dari masalah kesehatan, pencemaran udara, air, tanah sampai masalah estetika.

Orang seringkali memandang sampah dengan sebelah mata, sampah yang bau dan menjijikkan seringkali terabaikan, padahal sampah memiliki potensi yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomis. Dari setiap meter kubik sampah kota dengan bobot 120-170 kg, sekitar 70% merupakan sampah organik seperti daun-daunan, ranting dan sisa-sisa sayuran yang dapat diproses menjadi kompos. Sisanya 30% berupa sampah anorganik yang meliputi berbagai jenis logam, plastik, kertas, serta barang pecah belah yang dapat didaur ulang menjadi berbagai produk yang berharga.

Dengan mengolah sampah, tentunya akan berdampak positif terhadap lingkungan sehingga kesehatan masyarakat dapat terjaga dengan baik. Di sisi lain, dengan mengolah sampah dapat memberi tambahan secara ekonomi, seperti kompos hasil olahan dari sampah organik dapat dijual. Pemakaian kompos atau pupuk cair dari sampah organik akan memberi dampak positif terhadap kesuburan tanah karena tidak akan menghabiskan unsur hara tanah seperti pada pemakaian pupuk buatan. Sedangkan sampah anorganik seperti kertas, plastik, besi, alminium, kaca dan botol yang dikumpulkan juga dapat dijual untuk kemudian didaur ulang.

d. Dampak Pengelolaan Sampah Yang Keliru

Kepedulian masyarakat kita terhadap sampah masih rendah sehingga pengelolaan sampah seringkali dilakukan dengan cara yang kurang tepat, bahkan keliru. Kesadaran tentang pentingnya mengelola sampah dengan tepat pun masih sangat minim, sehingga kita masih bisa menyaksikan banjir melanda perkotaan akibat tumpukan sampah yang menyumbat aliran sungai, saluran drainase atau rawa-rawa.

Selain itu ternyata tidak sedikit warga kota yang menanggani sampah dengan cara dibakar yang justru dapat menimbulkan masalah serius. Masyarakat kita tidak menyadari bahwa sampah yang dibakar akan menghasilkan zat atau gas polutan yang tidak hanya berbahaya bagi lingkungan tetapi juga berbahaya langsung bagi manusia sehingga dapat menyebabkan gangguan kesehatan, pemicu kanker (karsiogenik) bahkan kematian. Sebagai gambaran, pembakaran 1 ton sampah akan menghasilkan 30 kg gas CO, Gas yang jika dihirup akan berikatan sangat kuat dengan hemoglobin darah sehingga dapat menyebabkan tubuh orang menghirup akan akan kekurangan O2 dan menimbulkan kematian. Sedangkan pembakaran sampah organik juga akan menghasilkan gas methane, pembakaran kayu menghasilkan senyawa formaldehida yang mengakibatkan kanker, sedangkan pembakaran sampah organik yang masih agak basah seperti daun, ranting, batang, sisa sayuran atau buah menghasilkan partikel-partikel padat yang akan beterbangan. Satu ton sampah organik akan menghasilkan 9 kg partikel padat yang mengandung senyawa hidrokarbon berbahaya. Salah satu diantaranya adalah benopirena. Menurut beberapa kajian diketahui asap dari pembakaran sampah mengandung benzopirena 350 kali lebih besar dari asap rokok.

Di sisi lain, tidak semua sampah jika dibuang ke alam akan mudah hancur. Butuh waktu berbulan-bulan, bahkan ada yang puluhan tahun baru bisa hancur. Kertas jika dibuang ke alam butuh waktu 2,5 bulan untuk bisa hancur, Kardus butuh 5 bulan, kulit jeruk 6 bulan, busa sabun (deterjen) baru bisa terurai setelah 20-25 tahun, sepatu kulit yang dibuang ke halaman baru bisa hancur setelah 20-40 tahun, kain nilon 30-40 tahun, plastik 50-80 tahun dan aluminium 80-100 tahun. Sementara itu ada satu jenis sampah yang tidak bisa hancur sampai kapan pun, yaitu strerofoam. Bayangkan apa yang akan terjadi pada planet bumi ini jika pegelolaan sampah tidak dilakukan secara tepat ? Nampaknya kita akan mewariskan lautan sampah kepada anak cucu kita, generasi yang akan datang. Sungguh menyedihkan bukan ?

e. Bagaimana Mengelola Sampah Secara Tepat?

Untuk mengelola sampah secara tepat maka diperlukan sebuah upaya untuk mengenali karakteristik sampah, termasuk sampah organic atau anorganik. Oleh sebab itu pemilahan sampah haruslah dilakukan sejak dari rumah tangga, sebelum dibuang ke tempat pembuangan sampah. Pemahaman masyarakat mengenai pemilahan sampah perlu ditingkatkan sehingga kebiasaan dan budaya peduli sampah dapat ditumbuhkan sejak dini dalam lingkungan keluarga dan sekolah, hal ini akan berdampak sangat besar pada budaya yang terjadi dalam lingkungan masyarakat secara umum.

Dr.Nyoman Aryantha – Mikrobiologi ITB, belum lama ini membuat sebuah inovasi baru dalam pengelolaan sampah dengan mendirikan rumah pengolahan sampah yang bertempat di Sabuga. Teknologi pengolahan sampah yang digunakan cukup sederhana, yaitu melakukan penyortiran terhadap sampah organic dan anorganik. Sampah non anorganik dibakar untuk digunakan energinya sebagai energy panas dan sampah organic dibuat kompos dengan bantuan dari mikroorganisme. Rumah pengolahan sampah ini dapat dibuat secara modular di dekat kompleks perumahan, di dekat pasar, di dekat daerah perhotelan, mall atau supermarket. Untuk mengolah 1000m3sampah perbulan diperlukan sekitar 150m2 dan lahan tempat penyortiran sebesar 500m2, sehingga sampah tidak perlu dibawa ke TPA.

Di negara-negara maju, pengelolaan sampah diperkotaan sudah dilakukan secara professional. Sampah yang telah dipilah diolah sesuai dengan kebutuhan, sampah-sampah organik dijadikan kompos, vermi-kompos (pengomposan dengan cacing) atau dijadikan makanan ternak untuk mengembalikan nutirisi-nutrisi yang ada ke tanah. Hal ini menjamin bahwa bahan-bahan yang masih bisa didaur-ulang tidak terkontaminasi, yang juga merupakan kunci ekonomis dari suatu alternatif pemanfaatan sampah. Daur-ulang sampah menciptakan lebih banyak pekerjaan bandingkan dengan kegiatan lain, dan menghasilkan suatu aliran material yang dapat mensuplai industri.

Produksi Bersih (Clean Production) merupakan salah satu pendekatan untuk merancang ulang industri yang bertujuan untuk mencari cara-cara pengurangan produk-produk samping yang berbahaya, mengurangi polusi secara keseluruhan, dan menciptakan produk-produk dan limbah-limbahnya yang aman dalam kerangka siklus ekologis. Prinsip-prinsip Produksi Bersih adalah Prinsip-prinsip yang juga bisa diterapkan dalam keseharian misalnya dengan menerapkan Prinsip 4R yaitu:

  • Reduce (Mengurangi); merupakan langkah untuk meminimalisasi barang atau material yang kita pergunakan.
  • Reuse (Memakai kembali); merupakan langkah untuk memilah barang-barang yang bisa dipakai kembali dengan menghindari pemakaian barang-barang yang disposable (sekali pakai, buang).
  • Recycle (Mendaur ulang); merupakan upaya untuk melakukan daur ulang barang-barang menjadi barang yang bermanfaat
  • Replace ( Mengganti); merupakan upaya untuk menggantikan penggunaan barang-barang dengan barang-barang yang ramah lingkunga
  • n

f. Sisi Ekonomis Sampah

Kesulitan ekonomi dan krisis keuangan secara global yang mulai menghimpit kehidupan masyarakat membuat banyak orang berupaya bertahan hidup dengan berpikir kreatif, memanfaatkan material yang ada untuk menghasilkan uang. Sampahpun mulai dilirik, baik sampah organik maupun sampah anorganik.

Beberapa peluang mengais rejeki dari sampah organic adalah dengan mengelola sampah menjadi kompos, briket sampah, biogas, biodiesel dan membuat pakan ternak. Sedangkan peluang usaha dari daur ulang sampah anorganik dapat dilakukan dengan membuat kertas daur ulang, kerajinan tangan atau peralatan rumah tangga dari plastic atau kaleng-kaleng bekas, dan sebagainya.

Mengolah Sampah Untuk Pakan Ternak

Sampah organic yang dioleh menjadi pakan ternak merupakan efisiensi biaya dengan hasil yang maksimal. Penggunaan pakan komplit berbahan baku sampah sebanyak 1,5% dari bobot badan pada sapi bali selama 5 bulan, memberikan pertambahan bobot badan rata-rata 650 g/hari. Secara ekonomis pemanfaatan sampah untuk pakan ini sangat prospektif mengingat bahan dan biaya produksinya relatif murah, sedangkan efeknya terhadap pertumbuhan sapi cukup baik. Berdasarkan analisis ekonomi, penggemukan sapi dengan ransum komplit berbahan baku sampah memberikan keuntungan sekitar 200% dibandingkan dengan cara tradisional.

Mengolah Sampah menjadi Biogas

Sampah yang dihasilkan dari kotoran hewan, misalnya kerbau sebanyak 100 kg yang ditampung di bioreaktor ternyata dalam waktu tidak kurang enam hari sudah bisa menghasilkan biogas yang dapat dimanfaatkan untuk kompor gas yang digunakan untuk berbagai keperluan. Secara ilmiah, biogas yang dihasilkan dari sampah organik adalah gas yang mudah terbakar (flammable). Gas ini dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri anaerob (bakteri yang hidup dalam kondisi tanpa udara). Umumnya, semua jenis bahan organik bisa diproses untuk menghasilkan biogas. Sedangkan ampasnya tetap bisa dimanfaatkan untuk pupuk , juga bisa menghasilkan cacing tanah Rubellus rumbricus yang bisa menyuburkan tanah.

Biogas yang bebas pengotor (H2O, H2S, CO2, dan partikulat lainnya) dan telah mencapai kualitas pipeline adalah setara dengan gas alam. Dalam bentuk ini, gas tersebut dapat digunakan sama seperti penggunaan gas alam. Pemanfaatannya pun telah layak sebagai bahan baku pembangkit listrik, pemanas ruangan, dan pemanas air. Jika dikompresi, biogas dapat menggantikan gas alam terkompresi yang digunakan pada kendaraan. Di Indonesia nilai potensial pemanfaatan biogas ini akan terus meningkat karena adanya jumlah bahan baku biogas yang melimpah dan rasio antara energi biogas dan energi minyak bumi yang menjanjikan. Berdasarkan sumber Departemen Pertanian, nilai kesetaraan biogas dengan sumber energi lain adalah Biogas 1m3, elpiji 0,46 kg, minyak tanah 0,62 liter; solar 0,52 liter; bensin 0,80 liter; kayu bakar 3,50 kg.

Mengolah Jelantah Menjadi Biodiesel

Jelantah yang dulu terabaikan kini dapat diolah menjadi biodiesel dengan proses pembuatan yang relative mudah. Jelantah disaring, dihilangkan warna dan baunya dengan zat tertentu, kemudian dipanaskan pada suhu 63oC dan diaduk hingga 1.000 rpm. Pada suhu itu tambahkan larutan metanol secara bertahap. Begitu larutan dingin terjadi 2 lapisan, atas berupa ester; bawah, metanol. Dengan pencucian, lapisan atas menghasilkan metilester pengganti solar. Satu liter jelantah menghasilkan 0,7 liter biodiesel. Biaya produksi seliter biodiesel berbahan jelantah Rp8.700. Jika produksinya 180.000 liter, dengan harga jual Rp9.200 per liter maka laba bersihnya Rp135-juta sebulan.

Alihfungsi jelantah menjadi biodiesel itu secara ekonomis menguntungkan dan diharapkan mengurangi pemicu kanker. Mutu biodiesel jelantah tetap bagus jika diolah dengan prosedur yang benar. Bagi mesin kendaraan, biodiesel jelantah tak masalah, bahkan kinerja mesin berbahan bakar biodiesel jelantah lebih bagus. Syaratnya: proses produksi biodiesel jelantah benar. Sementara di Jepang dan Amerika Serikat juga telah memanfaatkan jelantah sebagai sumber bahan baku biodiesel. Pemerintah Prefekture Kyoto, Jepang, misalnya, mendirikan Clean Center. Lembaga itu sejak 2003 menampung jelantah dari rumahtangga dan restoran cepat saji. Produksinya mencapai 5 ton biodiesel sehari digunakan sebagai bahan bakar truk.

Mengolah Sampah Menjadi Briket

Selain jelantah, limbah lain yang berpeluang menjadi bahan bakar adalah sampah. Sampah bekas sayuran atau daun basah, tandan kelapa dan kulit kacang dapat dipakai sebagai bahan baku briket. Briket adalah suatu padatan yang dihasilkan melalui proses pemampatan dengan tekanan Arang dibentuk dari proses karbonisasi sampah dengan menggunakan tungku pirolisa dengan temperatur 250OC, 300OC, dan 350 OC. Pada proses karbonisasi terjadi pengurangan jumlah volume atau berat sampah hingga 20% dari jumlah asal. Setelah arang terbentuk dilakukan penggerusan dan pengayakan 40 mesh. Arang yang halus dicampur dengan kanji agar campuran tersebut dapat dibentuk. Langkah selanjutnya adalah pengepresan campuran arang dan kanji dengan menggunakan alat press hidrolik. Briket yang sudah dipress masih memiliki kadar air oleh karena itu briket dipanaskan dibawah sinar matahari ± 6 jam.

Peralatan tungku berbahan bakar briket relatif lebih murah dan lebih mudah dalam perawatannya. Jenis tungku yang digunakan terbuat dari tanah liat yang dibentuk sedemikian rupa. Jenis tungku ini sudah dikenal sejak lama dalam masyarakat tradisional Indonesia. Dari 1 kg briket dapat digunakan untuk memasak 4 liter air yang dipanaskan selama 15 menit, sedangkan 1 kg arang briket apabila dipanaskan sampai menjadi abu sempurna membutuhkan waktu selama 50 menit. Briket sampah memiliki kemampuan penyebaran bara api yang baik, tak mudah padam, dan tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk pengipasan. Tanpa dikipasi pun briket sampah organik mudah menyala dengan stabil. Volume asap yang dikeluarkan briket sampah tidak sebanyak yang dihasilkan kayu atau minyak tanah sehingga kandungan karbon dioksida dan karbon monoksida sebagai hasil sampingan pembakaran tidak sebanyak kayu bakar atau bahan bakar minyak tanah.

Biaya produksi briket kulit kacang hanya sebesar Rp.1.700 per kg, dengan harga jual Rp.2.500,- per kilonya. Satu kilo briket mampu menyala 2 jam nonstop setara dengan durasi minyak tanah. Bedanya, harga beli biobriket lebih murah dibandingkan minyak tanah yang saat ini rata-rata Rp8.000 per liter.

Mendaur ulang Sampah Plastik

Plastic adalah sampah anorganik yang paling banyak ditemukan, mulai dari kantong belanja, botol/gelas minuman, bungkus makanan, mainan, bungkus barang-barang, dll. Plastic dapat didaur ulang menjadi beberapa alternatif barang-barang yang berguna seperti pot bunga, ember, peralatan rumah tangga, bahkan beberapa kerjinan tangan yang memiliki nilai jual yang cukup tinggi seperti tas belanja, taplak meja, paying dan bunga-bunga pelastik. Harga yang ditawarkan untuk produk tersebut bervariasi, bahkan untuk tas hasil daur ulang dari plastic pembungkus sabun cair dapat mencapai harga yang bagus yaitu Rp.75.000,- Lumayan bukan ? Hal ini tentu saja dapat meningkatkan taraf ekonomi rumah tangga jika usaha ini ditekuni dengan tekun dan baik

g. Penutup

Pengelolaan sampah yang baik dan professional nampaknya masih harus terus diupayakan oleh berbagai pihak, tidak hanya pemerintah untuk menuju Indonesia bebas sampah (Zero Waste). Budaya dan gaya hidup masyarakat sebaiknya diarahkan untuk mulai peduli pada lingkungan terutama berkaitan dengan sampah. Idealnya adalah semakin tinggi status social seseorang, status pendidikan dan status ekonomi seseorang, maka semakin tinggi pulalah tingkat kepeduliannya terhadap masalah lingkungan. Dengan demikian tidak ada lagi oaring kaya yang membuang sampahnya lewat kaca jendela mobil, atau sengaja menyuruh pembantunya membuang sampah ke sungai, serta perilaku lainnya yang mencerminkan rendahnya kepedulian terhadap nasib planet bumi ini. Kreativitas seringkali muncul manakala tantangan hidup semakin besar dan menghimpit kehidupan kita, oleh karena itu sebaiknya pemerintah melakukan langkah pembinaan untuk tetap mempertahankan semangat dan kreativitas mereka yang telah berkontribusi terhadap pengelolaan sampah, mulai dari tingkat pemulung sampai pada produsen pengelola sampah.

Sebagai penutup, penulis ingin menyampaikan bahwa ternyata sampah tidaklah semata-mata ancaman bagi lingkungan, namun merupakan berkah jika kita mampu menanggulanginya dengan benar bahkan mengolah sampah mampu meningkatkan taraf kehidupan kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar